Semua juga tau kalo jadi musisi independen susah banget. Tapi sebenarnya kenapa sih susah??? Berbeda dengan di luar negeri orang bisa-bisa aja sukses jadi musisi independen? Kenapa di sini ngga bisa?
Mungkin bisa, tapi tingkat kesuksesannya yang berbeza hehe…. Tulisan ini sebenernya tidak akan memberikan solusi apapun sih, tapi coba merangkum apa masalah yang sebenernya terjadi, dan hopefully, suatu hari ada yang bisa memberikan solusinya.
Pertama, kenapa sih mesti Independen? Masalah utamanya adalah karena sebenernya terlalu banyak yang mau jadi musisi, dan ngga semuanya bisa disign di label besar. Masalah keduanya adalah masalah idealisme. Seperti yang kita ketahui, dunia musik mainstream Indonesia sekarang itu super monoton.
Di musik, semua band(atau penyanyi solo) CUMA nyanyiin lagu yang isinya cinta-cintaan melulu. Nadanya mendayu-dayu, udah pengen mati. Temanya kalo ga tuh cewe bikin tergila-gila, patah hati, atau apalah. Iya kan? Padahal kan sebenernya dunia musik ini luas sekali. Banyak banget yang bisa dieksplorasi di sini. Maka muncullah seniman-seniman yang ingin mengusung aliran berbeda. Di musik ada band-band semacam White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, santamonika, Ballads of the Cliche, Endah n Rhesa.
Nah, kenapa seniman-seniman ini ngga bisa muncul ke permukaan? Ya tentu karena ngga ada major label yang mendukung mereka dong. Semua ini tentang uang gitu. Cuma ‘pemain-pemain’ besar yang bisa mendukung untuk melakukan promosi yang sinting. Tapi kemudian band band seperti White Shoes dan Efek Rumah Kaca membuktikan bahwa mereka punya penggemar. Bahkan musik White Shoes bisa diterima di amerika. Tapi kenapa tetep independen?
Kemungkinan para produser adalah sumber utamanya. Para produser ini sudah punya pakem tersendiri untuk membuat sebuah band yang sukses. Jadi intinya, kalo mereka liat band baru, yang mereka liat bukan ‘wah, ni band keren. harus lebih banyak yang tau’, melainkan ‘wah, potensial jadi sumber duit baru ni’ hehe….
Apakah pikiran kayak gitu salah? Ya ngga sih. secara harus hidup gitu loh, gimana juga. Tapi hal semacam ini sangat merugikan bagi band-band yang punya idealisme. Antara musik mereka dianggap tidak menjual, atau musik mereka bisa menjual ASALKAN mereka mau musiknya diutak atik. Nah, masalah diutak atik ini berat. Seorang seniman kan bikin karya ada alesannya. Ada sesuatu yang personal di sana. Gimana rasanya kalo tiba-tiba seorang produser tiba-tiba dateng dan bilang “gw ga suka liriknya kayak gitu. ngga ngejual. ganti lah”.
Blum lagi masalah kebebasan berekspresi. Kemarin gua baru baca tulisan(omelan sih tepatnya) Mbak Endah Widiastuti di Facebook. Intinya ada seorang produser liat mereka main trus mereka minta Endah n Rhesa bawain lagu sendiri. Maka mereka bawakan lah lagu Living with Pirates. Trus si produser ini nanya “lagu sendirinya mana?”, mereka bilang “ini lagu kita sendiri”. Si produser ngomong lagi “lagu Indonesianya mana?”, mereka jawab “wah, untuk album ini kita ga bikin lagu bahasa indonesia”, lalu si produser bilang, “Oh ya? kalo gitu jualan aja di New York!”.
Hmm…pertama-tama ya pak (saya asumsikan saja si produser ini lelaki), kenapa harus di New York? kalo Endah n Rhesa mau jualan di Los Angeles boleh ngga? Atau di Minnesotta gitu? atau mungkin di London? atau di Fiji mungkin? Aah…ini adalah salah satu komentar paling idiotik yang pernah gua denger dari seorang produser.
Apa hubungannya bahasa yang dipakai dengan harus jualan dimana? Kalo gua bikin lagu bahasa Kituba apakah berarti gua cuma boleh jualan di Congo? Kalo gitu, harusnya Pak Gesang ngga boleh jualan Bengawan Solo di luar dong? Tapi buktinya? Bengawan Solo populer bgt di Jepang. See, di musik, bahasa itu bukan penghalang. Ngga penting sama sekali bahasa yang mereka pake apa. Bahasa itu cuma salah satu bentuk art mereka, suatu media yang mereka rasa cocok untuk menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan. Masalahnya, ada hal-hal yang memang lebih bagus disampaikan dalam bahasa tertentu. Andaikata Endah n Rhesa bisa bahasa Hindustani dan mereka ngerasa ada yg indah mereka sampaikan dengan bahasa tersebut, gua yakin mereka akan pake bahasa Hindustani.
Blum lagi masalah “pembajakan”. Yah, dari hasil ngobrol-ngobrol gua dengan seorang praktisi musik, ternyata pembajakan itu legal lho. Yap, kalo elo diproduseri oleh produser musik major, elo harus rela musik lo “dibajak”. Pembajakan ini yang sebenernya bikin para musisi dan produser itu kaya. Dalam beberapa hari aja udah bisa balik modal. Makanya terkadang elo akan denger sebuah interview di radio, dimana ada artis baru bikin album, trus dia dengan santainya bilang “..iya, bajakannya juga udah ada. kualitasnya bagus juga.” yah, itu karena dia menerima dengan sukarela hati musiknya dibajak. kok bisa sukarela hati? Kan hidupnya dijamin. Jadi yah peduli setan toh? Tapi beda dengan para musisi Indie ini. Musisi indie ini malah dengan sukarela meletakkan musik mereka di internet. Lho? dibajak sendiri dong? Ngga lah. Kalo menurut gua sih itu namanya preview. Dan ngga ada tuh namanya jadi CD bajakan trus keuntungannya buat para mafia musik.
Nah, hal-hal kayak gini sebenernya yang menghalangi para musisi independen kita untuk mencapai sukses yang lebih besar. Ngga ada support yang maksimal. Tapi sebenernya, kalo bicara tentang sukses, kita juga harus liat tujuan awal si musisi. Kalo dilihat dari idealismenya, gua rasa White Shoes sudah cukup sukses. Mereka bahkan sempet main di Amerika, di acara Amerika betulan, dan mereka dapat sambutan yang luar biasa. Bahkan dapet gelar best dress dari Vanity Fair (kalo ga salah). Band-band major indo? Yah..Dewa gitu pernah sih main di Amerika. TAPI…di depan orang-orang Indonesia. Jadi intinya sama aja kayak mereka main di Indonesia, bedanya ini di Amerika gitu. Jadi lebih besar mana achievementnya? Menurut gua sih lebih besar achievementnya White Shoes.
Tapi yah, jika kita melihat lagi hidup para musisi independen ini, kasian juga. Mereka punya musik yang bagus, dipuji di dalam dan luar negeri, tapi mereka blum bisa menyokong hidup mereka dari musik. Sebagian besar musisi ini punya kerjaan tetap. Kalo beruntung, kerjaan tetap mereka masih berhubungan dengan main musik (seperti halnya Endah n Rhesa yang tiap Rabu main jadi home band di Loca, Kemang). Tapi ada musisi2 lain yang harus menjalani 2 pekerjaan sekaligus. Padahal seharusnya mereka layak dapat penghargaan lebih untuk musik mereka. Sementara itu musisi major menikmati hidup mereka total dari musik. Band kayak Changcutters per personelnya bisa dapet 3 juta sekali manggung. Ngga gede-gede amat kan? Tapi mereka manggung 25 kali sebulan.
Jadi…apakah ini berarti musisi major itu salah? Ngga sih. Lagi-lagi, orang harus hidup gitu. Jadi yah, gimana pun caranya, asal ada jalan, mereka pasti akan jalanin. Tapi buat gw sih rasanya ngenes aja. Dimana sebenernya ada musisi-musisi yang bisa menjadi angin segar bagi blantika musik Indonesia, tapi lagi-lagi yang muncul ke permukaan hanyalah kopian dari band-band yang sudah ada dari dulu. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Lagu cinta melulu…kita memang benar-benar melayu…yu..yu…” [ sumber : jerryhadiprojo.wordpress.com ]
www.thejeo.blogspot.com



2 komentar:

  1. salam sahabat
    ehm soal ini saya tidak bisa ngomentari sampai jutaan di belahan dunia london seperti yang anda sampaikan kayaknya perlu di analisir lagi heheheh good luck ya

    BalasHapus
  2. Anonim4:02 PM

    Musisi-musisi yang disokong sama label major yang seangkatan Dewa,Padi,Sheila on 7, dll bagus kok..Sekrang aja yang alay2...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar terbaik anda dan mohon untuk tidak memasukkan link di dalam form komentar.

Salam.
Admin