“Di jalanan, kami gantungkan cita-cita
Sebab di rumah, tak ada lagi yang bisa dipercaya”
B o n g k a r – Swami
ADA KOTA ada anak jalanan. Berbagai analisis kaum terpelajar bilang anak jalanan—layaknya fenomena sosial lainnya—timbul karena kemiskinan; entah itu yang kultural ataupun yang struktural (saya sendiri cenderung kepada yang kedua—kemiskinan yang timbul karena struktur, kebijakan tak berpihak kepada rakyat, kegagalan negara mensejahterakan warganya).
Begitu juga di Medan. Jumlah anak jalanan melampui angka ratusan (belum ada data pasti). Mereka bekerja; mengamen, mengemis, berjualan; bermain, di jalanan. Bahkan sebagian besar tidur dijalanan—total di jalan.
Anak-anak ini datang dari daerah-daerah kumuh (slum area) yang ada di kota ini. Sebagian yang lain datang dari desa-desa yang ada di Sumatera Utara—kota dimanapun memang selalu menjadi magnit bagi desa (bisa ditebak karena timpangnya pembangunan kota-desa).
Ketika melihat mereka mengulur tangan—meminta recehan—ke arah mobil mewah di persimpangan jalan, kita bagai melihat potret kegagalan pembangunan di negeri ini, yang selalu kita dengar dengan dongeng: memajukan kesejahteraan umum; kesejahteraan rakyat!
Tapi tampaknya yang sejahtera adalah pribadi-pribadi, konglemerat-konglomerat, birokrat-birokrat, dan siapa lagi itu? Rakyat (baca: juga anak jalanan) terus melarat.
Sadar fenomena ini, pada tahun 1995 sekelompok anak jalananan di Kota Medan membentuk sebuah komunitas. Namanya The Bamboes (terjemahan bebas: pohon bambu—sengaja dipilih karena melihat filosofi pohon ini yang bisa hidup di mana saja, hidup berkelompok, dan banyak manfaatnya).
Sebagai sarana pendidikan (baca: penyadaran) The Bamboes menggunakan seni, lebih khusus lagi: musik. Beda dengan musik konvensional, komunitas ini menggunakan alat-alat musik yang mudah mereka temukan di jalanan; di tong sampah, di got, di pinggir jalan.
Hampir semua alat yang mereka gunakan berasal dari sampah; botol aqua, botol krantindaeng, tutup botol, botol vodka (jadi gending), dan macam-macam lainnya. Kelompok ini juga menggunakan gergaji yang digesek layaknya biola.
Alat musik konvensional yang masih bisa dikenali—kalau mendengar musik ini—paling gitar dan harmonika.
Dengan alat-alat ini mereka menciptakan lagu; membuat lirik, memilih nada, kemudian mengarasemen musik. Lagu-lagu yang mereka ciptakan juga tak jauh dari realitas yang mereka hadapi, tentang jalanan, tentang perkawanan, tentang ketidakadilan, dll.
Tengok misalnya lagu Mendidik Untuk Berjuang. Begini liriknya:
Pelan-pelan kakiku melangkah
Melewati gelap dan berlubang
Disiram hujan dan dihantam badai
Kulewati dengan semangat
Kan kujaga api semangat
Lewat lagu dan nyanyian hati
Tuk bebaskan pikiran yang terpenjara
Agar hidup jadi tak sia-sia
Kerasnya hidup, membuatku kuat
Pahitnya jalanan, mendidikku untuk berjuang
Berjuang ….
Banyak pesan yang ingin disampaikan dalam lagu ini. Bahwa mereka bisa bertahan hidup di jalanan—layaknya orang dewasa—karena jalanan telah mendidik mereka untuk bertahan. Anak-anak usia mereka (normalnya) masih lagi suka bermain dengan pentil tetek ibunya. Tapi dijalanan mereka bisa bertahan tanpa bantuan dari orang dewasa. Jalanan ada sekolah bagi mereka.
Dengan seni mereka berjuang hidup, dengan musik mereka memberontak. Seni, sebagaimana Albert Camus, benar-benar telah dijadikan sebagai alat pemberontakan. Seni adalah pemberontakan. Memberontak terhadap realita, terhadap kebijakan yang disikriminatif, terhadap tatapan curiga kita. –juga terhadap kemapanan musik (seni) itu sendiri.
Mereka adalah korban (keangkuhan pemerintah: luas lagi, orang dewasa), fenomana, sekaligus seniman—pemberontak. Mengulang lagi lirik swami yang dikutip di awal:  Ketika di rumah (di kantor-kantor, di sekolah, bahkan rumah ibadah) tak ada lagi yang bisa dipercaya, mereka memberontak, dan jangan salahkan mereka—kalau dijalanan mereka gantungkan cita-cita!
Hidup memang tak langsung berubah! Mereka tetaplah anak jalanan—tapi paling tidak, sebagian dari mereka mulai tahu, sadar, gerangan apa sebenarnya telah berlaku di negeri ini; pada diri mereka.[*]
Untuk: Vide, Mastur, Bayu, dan anak-anak komunitas The Bamboes lainnya; terus b e r j u a n g . . .
Bagi yang berkenan silahkan mendowload lagu “Mendidik Untuk Berjuang” di link bawah ini:
Download Mp3 the baMBoes - mendidik utk berjuang

oleh : Jemie Simatupang
http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/02/anak-jalanan-musik-dan-pemberontakan/
www.thejeo.blogspot.com
 

1 komentar:

Silahkan tinggalkan komentar terbaik anda dan mohon untuk tidak memasukkan link di dalam form komentar.

Salam.
Admin

Jersey Bola Grade Ori Murah

Jersey Bola Grade Ori Murah