Tampilkan posting dengan label renungan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label renungan. Tampilkan semua posting
Dari buku Personality Plus, bisa disimpulkan kira-kira ada 20 sifat yang bisa menghancurkan diri sendiri, yaitu:

1. Bashful
Sering menghindari perhatian karena malu
2. Unforgiving
Sulit melupakan sakit hati atas ketidakadilan yang dialami, biasa mendendam

3. Resentful
Sering memendam rasa tidak senang akibat tersinggung oleh fakta/khayalannya

4. Fussy
Bersikeras minta perhatian besar pada perincian/hal yang sepele
5. Insecure
Sering merasa sedih/cemas/takut/kurang kepercayaan

6. Unpopular
Suka menuntut orang lain untuk sempurna sesuai keinginannya

7. Hard to please
Suka menetapkan standar yang terlalu tinggi yang sulit dipenuhi oleh orang lain
8. Pessimistic
Sering melihat sisi buruk lebih dulu pada situasi apapun

9. Alienated
Sering merasa terasing/tidak aman, takut jangan-jangan tidak disenangi orang lain

10. Negative attitude
Jarang berpikir positif, sering cuma melihat sisi buruk/gelap setiap situasi
11. Withdrawn
Sering lama-lama menyendiri/menarik diri/mengasingkan diri

12. Too sensitive
Terlalu introspektif/ingin dipahami, mudah tersinggung kalau disalahpahami

13. Depressed
Hampir sepanjang waktu merasa tertekan
14. Introvert
Pemikiran & perhatiannya ditujukan ke dalam, hidup di dalam diri sendiri

15. Moody
Semangatnya sering merosot drastis, apalagi kalo merasa tidak dihargai

16. Skeptical
Tidak mudah percaya, mempertanyakan motif di balik kata-kata
17. Loner
Memerlukan banyak waktu pribadi, cenderung menghindari orang lain

18. Suspicious
Suka curiga/tidak percaya kata-kata orang lain

19. Revengeful
Sadar/tidak sadar sering menahan perasaan, menyimpan dendam, ingin membalas
20. Critical
Suka mengevaluasi/menilai/berpikir/mengkritik secara negatif

sumber http://reallife65.blogspot.com/2010/10/20-sifat-penghancur-diri-sendiri.html

JAKARTA, KOMPAS.com — "Ternyata kamu itu jahanam... Dasar tak tahu diri, sudah dibantu malah menikam pula....," begitu status terakhir yang ditulis Arsep Pajario dalam akun Facebook-nya, Selasa (14/9/2010) lalu.

Diberitakan sebelumnya, wartawan senior harian Sriwijaya Post itu ditemukan meninggal dunia di kamar rumahnya, Jalan S Parman, Kompleks Citra Dago Blok D9 Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (17/9/2010) pukul 14.00. Arsep diperkirakan sudah meninggal tiga hari.

Status yang ditulis Arsep itu terkesan umpatan kepada seseorang. Namun, sampai saat ini tak diketahui siapa orang yang dimaksudnya itu.

Sebelum menulis status itu, pada pukul 14.14 di hari yang sama Arsep juga menulis status yang hampir serupa, "Ternyata kamu jahat."
Informasi dari lapangan, Arsep diduga korban perampokan. Sejumlah barang berharganya seperti ponsel, uang dalam dompet, dan laptop raib. Hanya saja, pelaku masuk rumah tidak dengan cara merusak.
Diduga pelaku adalah orang dekat korban. Arsep diduga dibunuh dengan cara diracun. Arsep sudah kehilangan kontak dengan keluarganya di Prabumulih sejak tiga hari yang lalu.
Keluarga berusaha menghubungi ponsel Arsep, tetapi tak kunjung dijawab. Hingga akhirnya pada Jumat siang pihak keluarga mengutus seorang kemenakan Arsep melihat ke rumahnya.

Arsep bujangan dan hidup sendiri di rumah yang sejak dua tahun lalu ditempatinya. Sehari-hari ia meliput di desk kota, Kantor Pemerintah Kota Palembang. Arsep dikenal luwes bergaul.

Kepolisian belum memberikan pernyataan resmi soal peristiwa ini. Mayat Arsep saat ini pun masih diotopsi di RSMH Palembang. (Prawira Maulana)
Mimpi Seekor Burung Kecil oleh : Rina Tri Lestari

Seekor burung menangis, entah apa masalahnya. Tak keras suara yang keluar, hanya sebuah ratapan. Di pagi yang bahkan belum terang ini, sungguh ganjil melihatnya. Tak mungkin jika dia kesiangan, bahkan Mak Udin yang berjualan pecel saja masih menunggu nasinya masak. Burung kecil masih terisak, di sebuah ranting dengan daun yang tersisa satu dua dia bertengger. Tak terlihat saudaranya, tak tampak kawan-kawannya. Air matanya menetes, jatuh di antara daun kemudian turun menyentuh tanah desa yang kering, bagai embun.
Jangan tanya musim apa, bahkan bulan tak bisa lagi jadi penanda. Hujan datang dan tak berhenti kemudian pergi dan tak kembali. Disana kebanjiran dan disini kekeringan. Disana sibuk mengungsi dan disini hampir mati kehausan. Seperti burung yang saat ini sendirian, sangat jarang ditemukan. Dia bukan penyendiri, dia bukan makhluk yang bisa hidup sendiri. Dia terkenal riang, dia tak biasa tenang. Jika saat ini kau melihatnya seperti ini, apa yang bisa kau katakan tentangnya?
Langit semakin cerah, tanda matahari semakin tinggi. Bukan cacing tak ada tapi pastinya sudah mulai sembunyi. Dan Mak Udin yang semakin sibuk meladeni pembelinya yang terus berdatangan bahkan ada yang antri sejak pagi. Apa yang enak? Sedang kurasakan lidahku tak bergetar olehnya. Aku bahkan bisa membuat yang lebih mantap dari bumbu pecel racikannya. Memang belum kulakukan tapi aku yakin aku bisa. Tanyaku kadang begitu menggoda, kenapa mereka rela antri demi nasi pecel berbungkus daun jati yang bahkan tak kemana-mana rasanya. Dan jawabnya membuatku terpana, “karena kenangan ini tak ternilai harganya.”
Jika mulut memakan kenangan dan lidah bukan mengecap rasa tapi cerita tentang yang dulu pernah ada dan jaya, tentu aku tak bisa berkata apa-apa. Mulut sudah terlalu sering dicekoki racun, jika mengeluarkan racun tentu tak mengherankan juga. Lidah terlalu sering mengecap pahit, jika tak lagi mampu membedakan rasa bukan hal yang istimewa juga. Yang tertinggal adalah kenangan tentang apa yang dulu tak berharga. Yang ada adalah sisa-sisa dari apa yang dulu jaya. Mak Udin mampu memberikan pada mereka dan mereka menikmatinya tapi si burung kecil, siapa yang memperdulikannya?
Air matanya mulai mengering meski lirih masih terdengar isaknya. Tanyaku semakin memuncak, meminta segera diutarakan tapi melihat wajahnya yang sendu mulutku terkunci. Si burung kecil terkejut, tak menyangka ada yang melihatnya. Meski cukup tinggi pohon yang dipilihnya tapi daun yang tak lebat tentu memudahkanku melihatnya. Diusapnya sisa air matanya, mencoba menyembunyikan gundah yang mendera. Kulemparkan senyum tipis ke arahnya dan dia pun membalasnya.
Ternyata tak sulit membuatnya bercerita. Sesak yang dia rasa membuatnya tak lagi malu mengatakan apa yang terjadi padanya. Dia memang kesepian, dia sendirian, saudara-saudaranya mati karena tak kuat menahan sakit yang mendera tubuh mereka. Saudaranya yang pertama mati setelah beberapa hari mengalami demam tinggi. Seingatnya saudaranya baru makan cacing pagi itu tapi entah kenapa beberapa saat kemudian saudaranya kejang-kejang. Saudaranya yang kedua lebih parah lagi, setelah lelah bermain kejar-kejaran karena haus dia berhenti di sungai dan minum air yang masih tampak jernih itu. Tidak beberapa lama saudaranya mengeluh pusing dan sebelum sempat dibawa ke puskesmas dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Nasib teman-temannya tidak jauh beda, sudah ada beberapa temannya yang mengalami nasib yang sama seperti saudara-saudaranya. Jika saat ini dia sendirian itu karena teman-temannya yang masih tersisa memilih pergi bersama keluarga mereka. Mereka tidak mau lagi tinggal di desa yang bukan hanya desa kelahiran mereka tapi juga tempat nenek moyang mereka pernah meninggalkan cerita. Si burung kecil bukannya tidak diajak tapi dia menolak ajakan mereka. Dia belum bisa meninggalkan desa yang telah memberinya banyak kenangan itu.
“Aku bisa saja hidup dengan racun di seluruh tubuhku tapi aku tidak bisa jika membiarkan mereka merasakan racun ini juga,” kata si burung yang membuatku bingung. “Bangsa kami sering diburu dan kamu tentu tahu untuk apa,” katanya lagi. Aku tahu kadang bangsaku begitu rakus, bukan hanya mengobrak-abrik rumah mereka tapi juga memangsa mereka, meninggalkan hutan gundul dan tak berpenghuni. Bahkan setelah dianiaya dia masih memikirkan hidup mereka, bangsaku. Itukah yang membuatnya menangis?
Setiap pagi dia akan berlomba dengan saudara-saudaranya untuk bangun lebih pagi agar tidak kehabisan cacing. Dia juga bercerita, dulu setiap kali habis bermain dengan saudara-saudara dan kawan-kawannya dia akan menghabiskan waktu di pinggiran sungai. Jika beruntung mereka bisa mendapatkan makanan, ikan-ikan kecil, selebihnya mereka hanya ingin menghapus dahaga saja. Saat ini semuanya tinggal kenangan saja, kenangan manis yang selalu membuatnya menangis jika mengingatnya. Dia tak lagi berani memakan cacing karena tanah tak lagi seperti yang dulu dia tahu, tanahnya penuh plastik dan beracun. Dia tak bisa sembarangan minum karena air sungai yang kadang masih terlihat jernih tidak lebih dari seorang nenek sihir yang siap menangkapnya, membuatnya menggelepar tak berdaya.
Bukan sebungkus nasi pecel yang dia inginkan untuk menggembalikan kenangan masa kecilnya karena lidahnya masih bisa membedakan rasa. Bukan sebungkus kepalsuan atas nama kenangan yang ingin diingatnya. Dia hanya ingin bermimpi sekali lagi tentang desa yang dulu pernah ditinggalinya bersama saudara dan kawan-kawannya. Desa yang tidak mengeluarkan bisa. Desa yang memberinya dedaunan yang membuatnya nyaman bermain dan bernyanyi. Desa yang masih dingin malamnya, menyisakan embun di pagi hari bukan racun yang merenggut nyawa saudara dan kawan-kawannya.
Burung kecil yang malang, mulutku terkunci mendengar kisahnya. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikan apa yang sudah direnggut darinya karena nyawa hanya satu dan tak akan bisa kembali jika sudah kembali ke pemiliknya. Tapi tentang mimpi yang kau minta, kurasa belum terlambat mengabulkannya. Aku bukan penyendiri dan aku tak bisa hidup sendiri, kan kuminta saudara-saudara dan kawan-kawanku membantuku mewujudkan satu mimpi si burung kecil. Bersediakah kalian memujudkan keinginannya?

http://fiksi.kompasiana.com/group/prosa/2010/03/30/mimpi-seekor-burung-kecil/

Walapun ini berita lama, tapi tidak ada salahnya kita kembali merenungi sejenak kepedulian sosial bangsa ini,, dan kepedulian kita bersama... Renungkan......

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yangkotor itu, di sela-sela kardus yang bau.

Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan darisesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.

Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulangdari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsaIndonesia, ujarnya.

Dibalik kemegahan kita ternyata masih ada orang yang begitu menderita diluar sana, mari kita renungkan dan jadikan pelajaran berharga...

bunglonblog.blogspot.com Seorang Ayah Menggendong Mayat Anaknya Sejauh 10 Km
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...