Tampilkan posting dengan label musik islam. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label musik islam. Tampilkan semua posting
Jakarta - Single religi bernuansa pop atau rock mungkin sudah sering didengar. Bagaimana dengan hip-hop/rap? The Mosquad menjawabnya.



The Mosquad adalah kependekan dari The Moslem Squad. Duo yang dibentuk pada tahun 2009 itu merilis single bertajuk 'Muslim'. Lirik bernuansa Islam dengan iringan irama hip-hop yang sangat kental.

Salah satu personel grup rap Neo, Jimmy Prameswardhono a.k.a Doniel menggawangi The Mosquad. Ia dibantu oleh Gandhi sebagai vokal tamu. Lewat rilis yang diterima detikhot, Selasa (7/9/2010) langkah The Mosquad tidak lepas dari peran Darwin BD sebagai produser dan penulis lagu.

The Mosquad pun dibentuk dengan sebuah tujuan mulia. Sebagian besar pendapan penjualan lagu mereka akan disumbangkan kepada yang memerlukan. Single 'Muslim', dirilis lewat RMV Records yang menjadi rumah bernaung The Mosquad.

'Muslim' berkisah tentang bagaimana pentingnya sebuah keyakian. Menjadi seorang muslim bukan hanya sekadar memeluk sebuah agama, namun juga menjalankan dan bertanggungjawab atas kewajibannya. Ikatan persaudaraan dan kebersamaan sesama muslim pun digambarkan lewat single tersebut.
music.detikhot.com
www.thejeo.blogspot.com
1. Bimbo
Grup musik tahun 1960-an , Bimbo yang merupakan grup keluarga ini identik dengan lagu-lagu balada cenderung lirik-lirik puitis dan religi. Lagu Tuhan merupakan lagu yang sering didengar saat Ramdhan, menyentuh dan menjadikan kita ingat akan Tuhan...

2. Haddad Alwi
Seorang penyanyi religi Indonesia yang sukses dengan Album Cinta Rasul ini ingin mengajak anak-anak sekecil mungkin mengenal agama Islam lebih jauh.

3. Raihan
Grup Nasyid asal Malaysia mulai debutnya dengan Album Puji-pujian. Lagu yang pasti sering kamu dengar dan ikut bersenandung saat mendengarnya. Nggak hanya itu ternyata ada album Demi Masa yang laku keras di Indonesia.

4. Opick
Terkenal dengan sorban putihnya yang menghiasi kepala, lagu-lagu Opick bisa menyentuh hati. Lagu Istighfar di tahun 2005 sukses menggaung di mana-mana. Nggak hanya itu, Opick juga pandai menciptakan lagu religi untuk musisi lain seperti Amanda dan Melly Goeslaw.

5. Snada
Grup nasyid Snada bisa menciptakan tim-tim nasyid muda yang bermunculan. Mereka bisa menyebarkan agama melalui sekolah, kampus, pernikahan, dan acara lainnya. Jagalah Hati merupakan lagu Snada yang paling booming.


6. Sulis
Bocah cilik yang melejit namanya dengan lagu Cinta Rosul setelah berduet dengan Haddad Alwi ini tetap konsisten di jalur musik religi. Sudah banyak album yang ditelurkan oleh penyanyi perempuan berjilbab ini.

7. Debu
Grup band nasyid Debu sukses menyiarkan agama islam di Indonesia, padahal mereka bukan orang Indonesia. Lagu-lagu dan musiknya pun selalu menceritakan kedamaian, cinta dan kerinduan pada sang pencipta.

8. Gigi
Band asal Bandung ini sukses mengajak anak muda dengan musiknya bernyanyi lagu religi. Gaya khas sang vokalis tidak menjadikan lagu mereka seolah-olah menasehati. Lagu Pintu Surga dan Perdamaian sukses di pasaran dan bisa diterima masyarakat meski musik mereka tetap seperti Gigi apa adanya.

9. Ungu
Bukan cuma Gigi, band Ungu juga mengeluarkan album religi. Lagu-laguya yang mendayu membuat hati terasa tenang saat mendengarnya. Berkolaborasi dengan Ustad Jeffry (UJ) lagu Para Pencari-Mu sangat sukses dipasaran.

10. Wali
Background personil yang kuat dalam pemahaman agama, band Wali juga sukses mengajak kita untuk mendengarkan musik-musik religi. Lagu shalawat dan Ingat solat membuat pendengar ikut bernyanyyi dan tergugah dengan lirik indahnya.

rileks.com
www.thejeo.blogspot.com
Tompi

Penyanyi Tompi membuka perjalanan baru dalam kariernya di industri rekaman. Inilah kali pertama bagi penyanyi solo bernama asli Teuku Adi Fitrian itu masuk dapur rekaman dengan membawakan karya orang lain.

Babak baru itu dia awali pada bulan Ramadhan tahun ini. Ya, penyanyi bersuara khas kelahiran kota 'Serambi Mekkah' ini memilih membawakan dua buah lagu milik grup band pendatang baru, Fazan band.

Apa saja dua lagu tersebut? Judulnya "Tuhan Ampuni Aku" dan "Ya Rasullulah". Kedua lagu tersebut termuat dalam album berjudul Soulful Ramadhan 2. 
Ketika tawaran datang, Tompi mengaku sayang melewatkannya. Ia kepincut lagu-lagu tersebut lantaran lagu tersebut punya kekuatan lirik yang menggodanya. "Lagu 'Tuhan Ampuni Aku' memiliki lirik yang sederhana, tetapi sangat mendalam maknanya. Saya sampai merinding dan menitikkan air mata ketika mulai menggarap lagu ini," kata Tompi menceritakan kesediaannya untuk melantunkan lagu dari Fazan.

Tompi merasa tersentuh lantaran liriknya mengisahkan tentang ajal dan dosa manusia. "Dua hal ini selalu melekat pada diri setiap hamba Tuhan," ujarnya.

"Tuhan Ampuni Aku" merupakan buah karya kakak-beradik personel Fazan Band, Fikri (vokalis) dan Vivit (drummer). Tompi tak hanya didapuk menyanyikannya, tapi juga secara total terlibat penggarapan aransemen musik dan penyutradaraan video klipnya.

Fazan band berasal dari Yogyakarta. Selain digawangi Fikri dan Vivit, band bentukan tahun 2006 itu juga diperkuat oleh Endro (bas) dan Harun (gitar). Empat remaja ini semuanya berstatus sebagai santri di sebuah pondok pesantren kecil di pinggiran kota Yogyakarta.

Keterlibatan Tompi di album Fazan akan menjadi pertaruhan. Mampukah nama besar Tompi membawa para santri itu menembus sukses di industri musik Tanah Air? "Terus terang kami tentu sangat menginginkan musik kami bisa diterima lebih luas. Semoga keterlibatan Tompi memberi peluang itu," ujarnya. (EH)

kompas.com
Iranian Classical Music
Iranian classical music is modal and monophonic. The most serious interpretations generally consist of a melodic soloist (or sometimes, a duet) and often a percussion accompanist. Orchestral combinations are becoming popular, but I will largely ignore those.
There are twelve basic modes: seven primary modes (dastgah-s) and five secondary modes (avaz-s). Each avaz is derived from a specific dastgah, but it is also able to stand by itself. Performance is based on the idea of a "suite" in a single mode, in which the artist will choose items to make a finished composition. Actual performances generally proceed largely as improvisations, incorporating and culminating in the chosen melodic patterns. Part of the artistry is to make smooth transitions between elements of the suite.
The standard melodic patterns of Iranian classical music are codified in something called the Radif, written down from oral sources at the beginning of this century. The Radif consists of a large number of melodies or sequences (gushe-s) grouped by mode. Some dastgah-s have more gushe-s than others. To form a suite, the artists will select appropriate gushe-s, along with classical poetry, improvised elements or original compositions. Some gushe-s are always present in a classical rendition, whereas others are less common; the order within the suite is also pre-determined, to some extent. Some gushe-s and compositions have specific rhythms, while others do not. When there is a percussion accompanist, he will take part in some sections but not in others. Finally, there are different versions of the Radif that different artists will use, especially for different instruments.
There is a large body of classical poetry, from medieval times to the present day, available to vocalists. This is some of the world's great literature, and the flowing, timeless intensity of an Iranian singer will really bring these fine poems to life. Most of the poems are rhythmically free (that is, sung without a time signature, but following an internal rhythm of phrasing), and are generally performed within the context of a suite of gushe-s taken from the Radif.
Although the classical poetry is largely medieval, and the codification of the Radif is modern, the musical forms are believed to date from the days of Classical Persia. Iranian music has managed to sustain itself in recent decades, despite political suppression, and looks to be undergoing a burst of creativity.
A variety of instruments are used; I'll list them in no particular order. The santur is a hammered dulcimer, similar to the santur used in Indian classical music (pioneered by Shivkumar Sharma), though of a brighter tone. The tar and setar are fretted plucked-string instruments, with sharp overtone series (the tar is the larger of the two). The ney is the reed flute common throughout the Near-east, although the Iranian technique is probably the most versatile, using both the low breathy register and the sharp higher register (held between the teeth). The kamancheh is a narrow, upright bowed-string instrument. The violin and oud (ancestor of the lute) are also used.
Iranian classical instruments are generally brighther and crisper in tone than many of those used by neighboring cultures. However, the voices are very deep and rich, although highly animated. The main percussion instruments are the zarb (also called tombak) and daf (in that order), and both tend to add a surprisingly subtle sonority to a performance. There are also solo percussion recordings, but I do not explore those.

There have been many more Iranian Classical CDs appearing in the last few years, and so I have revised this list to mention only those I consider to be highlights.
No consistent spelling is attempted; comments will follow the discs to which they apply. In all cases, the quality of the production & recorded sound are first-rate, unless noted otherwise.
I will eschew compilation surveys in favor of dedicated individual recitals.

Vocal

Iran: Masters of Traditional Music, Volume 2
Mohammad Karimi / Mohammad Musavi Ocora (Radio France) C 560025
Most of this disc consists of a duet between Karimi & Musavi, followed by two shorter suites by Musavi. The late Mohammad Karimi was previously one of the most influential teachers in Iran. This is one of my favorite recordings of any genre, with an almost unparalleled luminosity. Although it might seem a bit uninvolved to some listeners, I enjoy it very much.
The Abu-Ata Concert
Mohammad Reza Shajarian / Mohammad Reza Lotfi Kereshmeh KCD-107
This is a duet between two of the greatest living performers of Persian music. Shajarian is known throughout the world as the leading Iranian vocalist; his strong voice easily mixes passion with tenderness. Lotfi is of the most influential tar players of the era, having contributed a more colorful instrumental technique as well as unique insights into the structure of Persian music. This performance is widely regarded as one of the greatest music concerts to be heard in Iran.
Iran: Masters of Traditional Music, Volume 3
Shâhrâm Nâzeri / Dariush Talâ'i Ocora (Radio France) C 560026
Shahram Nazeri is a singer in the sufi tradition, and incorporates some Kurdish folk compositions into a classical context. This is a very energetic performance.
Parisa: Live in Concert, USA Tour
Tale of Love: I. Esfahan Parisa / Hossein Omoumi Kereshmeh "Quarter Tone" QTCD-1005
Parisa: Live in Concert, USA Tour
Tale of Love: II. Nava Parisa / Hossein Omoumi Kereshmeh "Quarter Tone" QTCD-1006
This is a quality series of live recordings continuing the vocal-ney duet theme. Parisa is the leading student of Karimi, and has re-established her reputation after a forced silence during Iran's revolutionary period.
There are other recordings, especially of Nazeri & Shadjarian, singing various combinations of material, frequently with larger ensembles in accompaniment.

Santur

Classical Music of Iran
Faramarz-e Payvar Al Sur (Media 7) 164
Faramarz Payvar (b.1932) is one of the leading senior Iranian musicians, and regarded by many as the greatest santur player of our time. Santur is often played by ensemble leaders, and Payvar has been conductor for the National Radio & Television; he has also composed extensively. The present performance is unaccompanied and establishes a robust solo idiom, without the ordinary echo effect.
Dawn
Parviz Meshkatian Kereshmeh KCD-108
Parviz Meshkatian directs the ensemble accompanying Shadjarian on the Ocora disc above, and here he plays santur accompanied only by percussion. This is a haunting performance which introduces dialog effects between the santur and itself.
The Classical Tradition of Iran, Volume III
The Santur: Majid Kiani Harmonia Mundi HMA 190395
Majid Kiani plays full suites on this recording, as opposed to less standard sequences he plays on the Ocora disc above. He is a leading figure in the Iranian musical establishment, and known for his closely controlled expositions. Although his style tends toward the ascerbic, the precise treatment on this disc is rewarding.

Setar

Masters of Persian Traditional Music, Volume 2
Ahmad Ebadi Caltex Records 2070
The late Ahmad Ebadi was one of the most admired performers in Iran. His playing on this disc is the most supple and vocal-style performance on Iranian setar/tar that I've heard. There is a tremendous lyrical depth here, as well as the lightning fast sequences for which setar playing is known.
Intégrale de la musique savante Persane: Radif
Dariush Tala'i Al Sur (Media 7) ALCD 116-120 (5 CDs)
The above set is a particularly worthwhile item on this list, illustrating as it does a complete Radif by a leading instrumentalist. Tala'i (b.1952) has an approach based on a sensitive classicism and a genuine expressiveness. He has a fine lyrical sense, and is able to maintain linear continuity throughout. This set is highly recommended for anyone who is serious about Iranian classical music.
At present, no solo recordings on the tar are included on this list. The same performers tend to perform on both tar and setar.

Ney

Iran
Hassan Kassaï: Le Ney Playasound 65051
Hassan Kassai is perhaps the most highly regarded master of the ney. His performance is very strong, showing deep formal insight and strong phrasing. This recital exhibits the most traditional and intense side of Iranian classical music.
Iran: Le Ney de Mohammad Mousavi
Buda Musique du Monde 92645
There is just something about the sound of the Persian ney, something which I do not really feel with the other instruments, despite enjoying them. Mousavi (b.1946) is a fine performer, and we're lucky to have so many recordings available.

Kamancheh

Persian Music
Mahmoud Tabrizi-Zadeh Al Sur (Media 7) 112
Mahmoud Tabrizi-Zadeh (d.1997) was one of the younger generation of multi-faceted performers, but this performance is strictly classical, both intense and lyrical. Since the kamancheh is otherwise under-represented, this is an even more significant recording; European vielle players will likely find it intriguing.

medieval.org
Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakuukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesehatan pasiennya.
PERADABAN ISLAM (SuaraMedia) Seni musik yang berr ()kembang begitu pesat di era keemasan Islam, tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Is?aq al-Kindi (801873 M) dan al-Farabi (872950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.

Lalu sebenarnya apa yang disebut dengan terapi musik? Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakuukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesehatan pasiennya. Sejak kapan peradaban Islam mengembangkan terapi musik? Dan benarkah musik bisa menjadi alat terapi untuk menyembuhkan penyakit?

R Saoud dalam tulisannya berr ()tajuk The Arab Contribution to the music(listenTOmusic) of the Western World menyebut al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik.

''Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba untuk menyembuhkan seorang anak yang mengalami quadriplegic atau lumpuh total,'' papar Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya yakni al-Farabi (872-950 M). Alpharabius begitu peradaban Barat biasa menyebutnya menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yangberr ()judul Meaniings of Intellect .

Amberr () Haque (2oo4) dalam tulisannya berr ()tajuk Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists", Journal of Religion and Health mengungkapkan, dalam manuskripnya itu, al-Farabi telah membahas efek-efek musik terhadap jiwa.

Terapi musik berr ()kembang semakin pesat di dunia Islam pada era Kekhalifahan Turki Usmani berr ()kuuasa. Prof Nil Sari, sejarawan kedokteran Islam dari Fakuultas Kedokteran University Cerrahpasa Istanbul mengungkap perkembangan terapi musik di masa kejayaan Turki Usmani.

Menurut Prof Nil Sari, gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim seperti al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan di zaman kejayaan Turki Usmani. ''Mereka antara lain; Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723) serta Hasim Bey (abad ke-19 M).

''Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Ottoman itu telah melakuukan studi mengenai musik sebagai alat untuk pengobatan,'' papar Prof Nil Sari. Menurut dia, para ilmuwan dari Turki Usmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan efek musik pada pikiran dan badan manusia.

Tak heran, jika Abbas Vesim (wafat 1759/60) dan Gevrekzade telah mengusulkan agar musik dimasukan dalam pendidikan kedokteran. Keduanyaberr () pendapat, seorang dokter yang baik harus melalui latihan musik. Usulan Vesim dan Gevrekzade itu diterapkan di universitas- universitas hiingga akhir abad pertengahan. Sekolah kedokteran pada saat itu mengajarkan musik serta aritmatika, geometri serta astronomi kepada para mahasiswanya.

Teori Terapi Musik

Menurut Prof Nil Sari, masyarakat Turki pra-Islam meyakini bahwa kosmos diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kata ''kuu'' / ''kok'' (suara). Mereka meyakini bahwa awal terbentuknya kosmos berr ()asal dari suara. Menurut kepercayaan Islam, seperti yang tertulis dalam Alquran, Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi.

''...Dan bila Dia berr ()kehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: 'Jadilah'. Lalu jadilah ia.'' (QS: al-baqarah:117) . Setelah Islam berr ()semi di Turki, masyarakat negeri itu, masih tetap meyakini kekuuatan suara. Inilah yang membuat peradaban Islam di era Turki Usmani menyakini bahwa musik dapat menjadi sebuah alat terapi yang dapat menyeimbangkan antara badan, pikiran dan emosi sehiingga terbentuk sebuah harmoni pada diri seseorang.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ahli terapi musik di zaman Ottoman menyakini bahwa pasien yang menderita penyakit tertentu atau emosi seseorang dengan temperamen tertentu dipengaruhi oleh ragam musik tertentu. ''Para ahli musik di era Turki Usmani menyatakan, makam (tipe melodi) tertentu memiliki kegunaan pengibatan tertentu juga,'' papar Prof Nil Sari.

Ada sekitar 80 ragam tipe melodi yang berr ()kembang di masyarakat Turki Usmani. Sebanyak 12 diantaranya bisa digunakan sebagai alat terapi. Menurut Prof Nil Sari, dari teks-teks tua dapat disimpulkan bawa jenis musik tertentu dapat mengobati penyakit tetentu atau perasaan tertentu.

Pada era kejayaan Kesultanan Turki Usmani, terapi musik biasanya digunakan untuk beberr ()apa tujuan, seperti; pengobatan kesehatan mental; perawatan penyakit organik, perbaikan harmoni seseorang yakni menyeimbangkan kesehatan antara badan, pikiran dan emosi. Musik juga diyakini mampu menyebabkan seseorang tertidur, sedih, bahagia dan bisa pula memacu intelijensia.

dapat mengobati demam. Sedangkan, jenis musik Prof Nil Sari mengungkapkan, para ilmuwan di era Turki Usmani meyakini bahwa musik memiliki kekuuatan dalam proses alam,. Musik dapat berr ()fungsi meniingkatkan mood dan emosi secara keseluruhan. Uniknya, para ilmuwan di era Ottoman sudah mampu menetapkan jenis musik tertentu untuk penyekit tertentu. Misalnya, jenis musik huseynizengule dan irak untuk mengobati meniingitis.

Masyarakat Barat baru mengenal terapi musik pada abad ke-17 M. Adalah Roberr ()t Burton lewat karya klasiknya berr ()judul The Anatomy of Melancholy yang mengembangkan terapi musik di Barat. Menurut Burton, musik dan menari dapat menyembuhkan sakit jiwa, khususnya melankolia.

Malah, masyarakat Amerika Serikat (AS) baru mengenal terapi musik sekitar 1944. Pada saat itu, Michigan State University membuka program sarjana teapi musik. Sejak 1998, di Amerika telahberr ()diri The American music(listenTOmusic) Therapy Association (AMTA). Organisasi ini merupakan gabungan dari National Association for music(listenTOmusic) Therapy (NAMT, berr ()diri tahun 1950) dan the American Association for music(listenTOmusic) Therapy (AAMT, berr ()diri 1971).

Terapi musik merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam dalam dunia kesehatan dan kedokteran. Di era modern ini, musik tetap menjadi salah satu alat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Terapi musik menjadi salah satu bukti pencapaian para ilmuwan Muslim di era keemasan. N heri ruslan


Musisi Muslim Pencetus Terapi Musik


Al-Kindi
al-Kindi atau al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Takkuurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni al-Amin (809-813), al-Ma'mun (813-833), al-Mu'tasim, al-was ()iq (842-847), dan Mutawakil (847-861).

Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berr ()bagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berr ()kiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan bukuu-bukuu ilmu pengetahuan dari berr ()bagai bahasa, seperti Yunani.

Ketika Khalifah al-Ma'mun tutup usia dan digantikan putranya, al-Mu'tasim, posisi al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah.berr ()kat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.

Menurut al-Nadhim, selama berr ()kuutat dan berr ()gelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yangberr ()ilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratussan karyanya itu dipilah ke berr ()bagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukuunya yang paliing banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masiing-masiing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.



Al-Farabi
Second teacher alias mahaguru kedua. Begitulah Peter Adamson pengajar filsafat di Kiing's College London, iinggris, menjuluki al-Farabi sebagai pemikir besar Muslim pada abad pertengahan. Dedikasi dan pengabdiannya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan telah membuatnya didaulat sebagai guru kedua setelah Aristoteles: pemikir besar zaman Yunani.

Sosok dan pemikiran al-Farabi hiingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filosof Islam pertama yang berr ()hasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehiingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemikirannya begitu berr ()pengaruh besar terhadap dunia Barat.

''Ilmu Logika al-Farabi memiliki pengaruh yang besar bagi para pemikir Eropa,'' ujar Carra de Vaux. Tak heran, bila para intelektual merasaberr () utang budi kepada Al-Farabi atas ilmu pengetahuan yang telah dihasilkannya. Pemikiran sang mahaguru kedua itu juga begitu kental mempengaruhi pikiran-pikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rush.

Al-Farabi atau masyarakat Barat mengenalnya dengan sebutan Alpharabius memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi. Tak seperti Ibnu Khaldun yang sempat menulis autobiografi, Al-Farabi tidak menulis autobiografi dirinya.

Tak ada pula sahabatnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana Al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya Ibnu Sina.Tak heran, bila munculberr () agam versi mengenai asal-muasal Al-Farabi. Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, Ibnu Abi Osaybe'a, menyebutkan bahwa ayah Al-Farabiberr ()asal dari Persia. Mohammad Ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan Al-Farabi berr ()asal dari sebuah keluarga Persia. (rpk) SuaraMedia.com