Tampilkan posting dengan label dunia musik. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label dunia musik. Tampilkan semua posting

cinta musik tanah air
Cinta Musik Tanah Air - Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

♥♫Semakin hari semakin terlihat perkembangan musik indonesia yang semakin pesat. Pihak label tidak perlu repot lagi mencari calon calon musisi baru karena dengan menjamurnya band band ini dari berbagai aliran jenis musik membuat kerja dari pihak label menjadi lebih mudah.
Di era 70an, musik Indonesia di dominasi oleh lagu lagu perjuangan, seperti halo halo bandung, maju tak gentar dan lainnya disusul oleh lagu lagu koesplus..♫♥

♥♫..Sepuluh tahun setelahnya jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu,bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Rinto Harahap, Pance pondaaq, A ryanto, dan Obbie Mesakh adalah nama-nama pencipta lagu yang cukup produktif di era ini.Yup inilah masanya lagu patah hati! Nama-nama seperti; Nia Daniaty, Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugianto, adalah beberapa nama yang merupakan spesialis lagu sedih.Lagu-lagu balada juga lumayan laku ini mungkin karena temponya lambat juga, Franky dan Ebiet G Ade merupakan musisi yang eksis dijalur ini..♫♥

♥♫..Setelah Mentri Harmoko melakukan pelarangan terhadap musik cengeng akhirnya, aliran musik ini menjadi surut, dan musik pop Indonesia seperti kehilangan arah. Hasilnya di tahun 90an musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beralirab pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut!..♫♥

♥♫..Disaat yang bersamaan saat musik Pop Indonesia kehilangan Greget, masuklah Ami Search, musisi dari negeri jiran, Malaysia dengan lagunya ‘ Isabela’ dan langsung menjadi Hits! Lagu Isabela inilah yang menjadi lokomotif bagi musisi dan lagu-lagu malaysia lainnya untuk membanjiri pasaran musik Indonesia.Beberapa nama yang menjadi terkenal kemudian adalah Salim Iklim, Ella, Nora, dll. Saat itu musik Malaysia benar-benar merajai musik Indonesia..♫♥

♥♫..namun ada beberapa musisi yang tetap bertahan dengan alirannya ditengah gejolak musik Indonesia yang tidak stabil tersebut, seprti dewa19, gigi, vina panduwinata dsb..♫♥

♥♫..Masuk ke era 2000an, musik kita semakin bergelora, mulai banyak musisi musisi daerah yang percaya diri menunjukkan kebolehannya, lewat Indie kompetisi. Perhatian terhadap perkembangan musik indonesia pun semakin terlihat dari banyaknya kompetisi musik untuk mecari bakat bakat baru, serta intens nya media yang menghadirkan program program musik Indonesia di akhir 2009..♫♥

♥♫..Cintai terus musik Tanah Air Kita Tercinta..♫♥


LIKE Cinta Musik Tanah Air on Facebook
Follow Cinta Musik Tanah Air on Twitter
Lirik Lagu Enda Ungu – Maafkan Aku :
intro :
Tak bisa kulupa.. saat-saat indah bersama mu..
Semua cerita.. mungkin kini hanya tinggal kenangan..
Ku harus pergi.. meninggalkanmu di dalam sepiku..
Bukan inginku.. tuk menyakiti perasaanku..
Maafkan aku..
intro :
Maafkan aku.. yang tak bisa menunggu hatimu..
Lupakan saja.. diriku untuk selama-lamanya..
Kuharus pergi.. meninggalkanmu di dalam sepiku..
Bukan inginku.. tuk menyakiti perasaanmu..
Maafkan aku..
Reff :
Tidurlah sayangku..
Mentari tlah menunggu..
Sambutlah pagi nanti..
Dengan hati tersenyum..
Bermimpilah cinta..
Dengan segenap rasa..
Kini tibalah saatnya.. kita harus berpisah..
Melodi :
Reff :
Tidurlah sayangku..
Mentari tlah menunggu..
Sambutlah pagi nanti..
Dengan hati tersenyum..
Bermimpilah cinta..
Dengan segenap rasa..
Kini tibalah saatnya.. kita harus berpisah..
Maafkanlah aku.. yang tak bisa menunggu..
Lupakan saja diriku.. untuk selama-lamanya..
aa.. haaa.. aaa.. huuuu…
www.thejeo.blogspot.com
Jakarta - Kelompok Remarkable Current asal Amerika Serikat yang beraliran hip hop ditunjuk sebagai duta musik Muslim Amerika Serikat melalui program "Performance Art Initiative" yang diadakan Selasa (21/9/2010) di Jakarta.
Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel sempat memberikan sambutan kepada para tamu undangan sekaligus membuka acara konser mini di halaman rumahnya dan ikut menikmati musik hingga terbawa suasana meriah yang berlangsung malam itu.
Acara dimulai dengan pertunjukan musik oleh Remarkable Current dan dihadiri beberapa perwakilan dari kalangan Muslim Indonesia, peserta yang diundang melalui situs Facebook, serta sejumlah artis yang dianggap mewakili suara kaum muda.
"Kami mengundang perwakilan-perwakilan kelompok Islam Indonesia dan anak-anak muda karena memang acaranya lebih cocok untuk anak muda," kata seorang pejabat kultural senior Kedubes AS.
Kelompok yang beranggotakan dua penyanyi rap hip hop, Tyson dan Kumasi, seorang DJ Arnas Canon, dan drummer Erik Rico itu akan melangsungkan tur di kota-kota besar di Indonesia atas undangan Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Dengan inspirasi dari program Departemen Luar Negeri AS untuk mengirim utusan musik dengan diplomasi jazz melalui diplomasi kebudayaannya, Remarkable Current membawa lirik-lirik hip hop yang penuh arti dan makna.
Mereka bertujuan menyuarakan kepada komunitas global bahwa Amerika dan Islam bukan sesuatu yang eksklusif dan turut berperan serta membantu tanggung jawab Presiden Amerika dalam menghilangkan sterotipe negatif tentang Islam di mana pun berada, seperti ditulis rilis Kedubes Amerika.
Seperti halnya Dizzy Gillespie dan Louis Amstrong yang menjadi Duta Jazz pada abad ke-20, Remarkable Current menjadi Duta Hip Hop abad ke-21 dengan misi membangun pemahaman dan kepedulian akan keragaman Amerika melalui musik yang juga bersahabat dengan anak muda masa kini.
Keberadaan Duta Hip Hop Muslim Amerika ini dipandang sangat penting dalam membantu proses hubungan dengan negara-negara mayoritas Muslim di tengah "era baru" Amerika Serikat dalam hubungan internasionalnya, seperti ditulis dalam rilis media dari pihak Kedubes.
Perjalanan Remarkable Current dimulai pada tahun 2001 ketika sekelompok pertemanan di lingkungan tempat tinggal tumbuh menyatukan tujuan untuk secara kreatif membentuk identitas kaum Muslim Amerika dan berbagi dengan masyarakat dunia.
Remarkable Current yang didirikan dan dipimpin Anas Canon telah melakukan tur ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika, Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah.
Canon, yang belum lama ini masuk ke dalam edisi pertama 500 Muslim paling berpengaruh dalam sebuah publikasi The Prince Alwaleed bin Talaal Center for Muslim-Christian Understanding dari Georgetown University, telah bekerja sama dengan ratusan artis berbakat dan merilis lebih dari sepuluh album.
Gaya musik Remarkable Current mencerminkan latar belakang artis yang sangat beragam, tetapi fokus musiknya adalah perkotaan yang dipengaruhi aliran rock, jazz, dan musik tradisional di dunia.
Kelompok pemusik ini dijadwalkan akan melakukan serangkaian konsernya di Jakarta (22-24 September), Padang (25-26 September), Medan (26-28 September), dan Surabaya (29-30 September).
Penampilan mereka di Surabaya akan menjadi lebih menarik karena direncanakan kelompok hip hop tersebut akan berkolaborasi dengan salah satu kelompok pengusung aliran hip hop Tanah Air, Saykoji.
Remarkable Current juga terpesona dengan keramahan warga Indonesia yang menyambut kedatangan mereka dan merasa banyak kesamaan antara Muslim Indonesia dan Amerika.
"Kami ada di sini karena undangan Kedubes Amerika dan bermaksud menyampaikan pesan bahwa Islam diterima secara luas di Amerika walaupun masih sedikit warga di sana yang tahu tentang Islam secara komprehensif," demikian dikatakan Arnas.
kompas.com
www.thejeo.blogspot.com

Teguh Sukaryo, Seorang Pianist Tanah Air yang telah menciptakan berbagai Harmony -harmony indah dan telah di akui oleh Dunia lewat karya -karya instrument nya, dirinya telah menjadi pianis terbaik yang mengalahkan para pianis dari 26 negara a.l. Jerman, AS, Italia, Prancis, China, dan Jepang.Namun Sayang, sosok Teguh belum begitu akrab terdengar bagi kaum kaum awam di Indonesia,
Sukaryo mendapat pujian dari banyak negara karena menampilkan harmoni, emosi dan teknis sempurna. Sentuhan jarinya pernah membius pendengar di Belanda ketika dipancarluaskan lewat radio dan televisi.
Teguh Sukaryo belajar piano pada sejumlah suhu a.l. Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, dan Carmel Lutton. Dia juga sempat ditangani Byron Janis dan Einar-Steen Nokleberg.
Kemampuan peraih beasiswa Joseph and Ida Kirkland Mullen itu kini ditularkan pada beberapa pianis a.l. Paul Polivnick, Anton Krager, dan Frank Wickes. Selain itu dia aktif mengajar di Rice University Preparatory Program.
Sukaryo lulus dengan predikat BMus untuk Penampilan Piano dari Sekolah Musik Newcastle (NSW) Australia pada 1998. Dari tempat itu dia meraih penghargaan tertinggi untuk penampilannya.
Empat tahun lalu Sukaryo meraih gelar Beethoven Prize di ajang Grieg International Competition for Pianists di Oslo, Norwegia dan berhak atas beasiswa penuh ke sekolah musik top di AS, Oberlin Conservatory.
source : dari berbagai sumber

Berikut ulasan sekilas tentang sosok Teguh Sukaryo.
BIOGRAPHY OF TEGUH SUKARYO, Concert Pianist
(Versi Bahasa Indonesia)

Adalah kecintaan yang sejati terhadap musik, yang dipadukan dengan talenta, hasrat artistic, cita rasa, kejujuran dan kerendahan hati, yang telah membawa Teguh Sukaryo untuk tampil di berbagai negara, termasuk USA, Eropa dan Australia. Misinya adalah untuk menyentuh setiap hati dengan lembut dan rasa kepedulian, seperti yang diimpikannya: “Dunia yang harmonis, berlimpah kedamaian, cinta dan suka cita”. Sembari mengejar misi ini, berbagai media dan kritik turut memberi kesaksian perihal karya Teguh:

“Master pianist. Teguh Sukaryo gave phenomenal recital. He showed fabulous technique and sensibility. Great imagination..with temperament and visible passion.” Airplay Radio en IJssellandTV, Netherlands

“Tremendous personality. Wonderful imagination.” Byron Janis, legendary pianist

"Marvelous,...a gem,..an example of grand. Teguh has the fantasia and technique to reach to the Absolute Top" NoordHollands Dagblad

“Now captivating..now hypnotizing” Kompas, Indonesia

"Climactic craze. Electrifying and full of spirit" Koran Tempo

“An enchanting piano playing which travels through time and space…striking and very memorable” Arts Indonesia

“A Star. World class pianist.” Suara Merdeka

“World top 15” Bali Post

"World Master Pianist, Perfect Presentation of Combined Harmony and Emotion. Anesthetized music lovers. The sound he produced was a reminiscence of beautiful symphony" Kaltim Post


Teguh Sukaryo lulus S1 pada bidang Piano Performance dari Newcastle Conservatorium of Music, Australia. Disana dia mengambil Double Performance Strand dan selalu mendapat nilai tertinggi, yaitu High Distinction. Dikenal memiliki kemampuan artistry tinggi dan teknik yang handal, Teguh menperoleh beasiswa penuh dan berbagai penghargaan untuk melanjutkan seluruh studinya di USA, seperti di sekolah-sekolah terkemuka: Oberlin Conservatory, yang mana dia mendapat gelar Artist Diploma; Rice University/Shepherd School of Music, Master of Music; and Louisiana State University, tempat Teguh sedang menyelesaikan gelar Doktoralnya (DMA, Doctorate of Musical Arts). Tahun 1997, Teguh memperoleh Top Prize di Armidale Open Piano Competition, NSW, Australia; Tahun 2000, Chamber Music Scholarship and award di Sewanee Summer Music Festival, USA; Tahun 2005, “Beethoven Prize” di Grieg International Competition for Pianists, di Oslo.

Teguh Sukaryo belajar dengan pianist kenamaan dan guru besar di Amerika, Eropa dan Australia, antara lain Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, and Carmel Lutton. Teguh juga dilatih oleh pianist legendaris Byron Janis dan Einar Steen-Nokleberg. Selain dibidang piano, Teguh juga menekuni dunia conducting. Guru-gurunya antara lain Prof. Paul Polivnick, Prof. Anton Krager, dan Prof. Frank Wickes.

Bakat dan dedikasi Teguh dalam dunia pendidikan musik juga sangat kuat. Teguh sering memberi workshop dan masterclass di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri. Seorang Joseph and Ida Kirkland Mullen Fellow, Teguh telah mengajar di department Prepatory Program di Rice University, Houston, USA. Banyak murid-murid yang terinspirasi dan mendapat nilai tertinggi pada ujian akhir tahun mereka. Diantaranya berhasil lolos audisi masuk di konservatori-konservatori bergengsi di Amerika Serikat.

CD perdana Teguh yang berjudul “Teguh Sukaryo plays Mompou, Brahms, & Mussorgsky” tersedia di took-toko CD, dan mendapat sambutan hangat dari para pencinta music klasik di tanah air. Menyusul segera tahun ini 3 (tiga) CD baru Teguh yang berjudul “Scenes of Childhood”, “Burgmuller Op. 100” dan “Burgmuller op. 109” lengkap dengan partiturnya.

Teguh lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah. Dia mencintai Indonesia, baik budaya dan manusianya. Teguh juga sangat mencintai alam, seni, dan kemanusiaan. Dia suka bergaul dengan siapa saja dan dengan semua kalangan. Tahun 2010 Teguh mengadakan Nusantara Tour 2010 diberbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Purwokerto, Kupang, dll dalam rangka penyebaran musik klasik di tanah air tercinta Indonesia. Teguh Sukaryo adalah pencipta dan Artistic Director group Musik Klasik Indonesia di facebook. Group dengan lima ribu anggota yang merupakan group musik klasik yang paling aktif, edukatif dan informatif.



http://www.facebook.com/teguh.sukaryo
www.thejo.blogspot.com
Dewa Budjana - Kapanlagi.com
Sudah dua tahun belakangan ini pemain gitar band Gigi, Dewa Budjana aktif berbagi ilmu bersama anak muda yang memang berniat belajar musik. Pengetahuan musik Budjana disalurkan melalui sekolah musiknya, Guitar School of Indonesia (MSI) dan dikembangkan menjadi Music School of Indonesia (MSI).

Menurut Budjana, untuk mengangkat perkembangan musik Indonesia yang lebih maju lagi, dirinya harus berbagi pada orang lain. Banyak pelajaran yang diberikan pada siswanya. Bukan saja memberi materi permainan gitar atau mengasah skill individu, tapi Budjana memberi pengalaman bermusik selama bersama Gigi. Setiap satu bulan sekali, Budjana memberikan workshop.

"Sistemnya tidak seperti sekolah, tapi lebih memberi workshop. Saya juga memberi ruang pribadi pada mereka yang memang serius untuk bermusik," ujar Budjana saat ditemui di acara konferensi pers Grand Launching Music School of Indonesia (MSI) di atrium Plasa Semangi, Jakarta, Minggu (19/9) malam.

Bukan hanya anak muda yang dapat belajar atau mengasah kemampuan memainkan sebuah alat musik, tapi anak-anak dan orang tua pun dipersilakan.

"Banyak orang kantoran yang meluangkan waktu belajar musik. Jadi siapa saja, tidak tertutup orang tua,” ungkapnya.

Budjana beralasan, belajar memainkan alat musik ini bukan saja untuk mengembangkan karier di dunia seni musik, tapi juga sebagai hobi.

"Setiap bulannya kita adakan pentas seni dan semuanya terlibat. Kita juga menghadirkan bintang tahu. Sehingga kemampuan individu semakin terasah,” ujar Budjana

kapanlagi.com 
www.thejeo.blogspot.com
 
Tampaknya The Upstairs yang saat ini digawangi Jimi Multhazam (vokal), Andre 'Kubil' Idris (gitar), Pandu Fathoni (bass dan synth), Krishna (keyboards dan synth) dan Beni Adhiantoro (drum) tak ingin berlama-lama untuk meluncurkan karya terbarunya sekaligus sebagai test case personel baru pengganti Alfi Chaniago yang keluar karena mendalami agama dan Dian Marayana yang menikah dan menekuni bisnisnya.
The Upstairs kembali meneror kita untuk berdisko darurat serta berdansa resah dengan single terbarunya yang di sebarkan gratis dan bisa di download di http://theupstairs3.tumblr.com/.
Single ini selain mencantumkan 1 lagu baru yang berjudul Menara Lara ada dua lagu daur ulang Rocketship Goes By dari Goodnight Electric dan satu lagu daerah Sumatera Barat yang populer di tahun 70-an berjudul Kampuang Nan Jauh Di Mato yang dulu juga sempat di populerkan oleh Chiquita Meidy di tahun 90-an.
Track Menara Lara membuka dan menyapa kita dengan beat-beat yang dance able. Dengan permainan synthesizer Krishna yang meruang dan mengisi di setiap celah lagu berpadu dengan petikan gitar Kubil membuat lagu ini tampak padat.
Kali ini tak ada suara latar cewek, dari Dian Marayana yang biasa kita dengar di lagu-lagu The Upstairs sebelumnya dan di ganti dengan suara latar cowok dari Beni dan Pandu, dan ternyata menarik untuk di dengar. Di bagian tengah lagu terdapat jeda musik yang hanya menampilkan solo synthesizer dan diimbuhi dengan solo bass dari Pandu serta penambahan clapping hand yang akan meningkatkan atmosfir energi apabila nanti di mainkan live.
Di track kedua The Upstairs mengkover lagu Rocketship Goes By dari band elektro pop asal Jakarta, Goodnight Electric. Dengan tanpa menghilangkan aransemen pop yang kental, lagu ini dimainkan lebih pelan dan lebih nge-pop dari aslinya yang sedikit bertempo cepat. Permainan synthesizer yang rapat memasuki seluruh celah lagu masih mendominasi.
Dengan bunyi-bunyian yang mengawang-awang memberikan penegasan lagu ini. Hook melodi yang catchy dan tak terlalu rumit menjadikan lagu ini mudah diingat dan disenandungkan. Aransemen musik di lagu ini sangat terasa penghayatannya hingga mudah menangkap makna lagu yang bertemakan patah hati ini. Satu lagi, vokal Jimi berbeda sekali dengan yang biasa kita dengar dan hampir menyerupai dengan penyanyi aslinya Henry Foundation.
Apa jadinya bila lagu daerah seperti Kampuang Nan Jauh Di Mato yang dinyanyikan Oslan Hussein di tahun 70-an di remix dengan musik disco new wave tahun 80an. Dengan nuansa psychedelic dan ruang angkasa yang diperoleh dari bunyi-bunyian synthesizer yang mengisi lagu ini.
Tampak kekuatan 3 single ini berada di permainan synthesizer Krishna yang ciamik dan sangat klop ketika berpadu dengan instrumen lain hingga menjalin chemistry untuk menghasilkan karya yang bagus. Melekat di benak kita ketika mendengar lagu yang dulu dipopulerkan oleh Chiquita Meidy yang dinyanyikan dengan nada ceria menjadi sedikit agak aneh ketika dipoles oleh The Upstairs.
Secara keseluruhan single ini mampu mempresentasikan seperti apa nanti aransemen musik mereka di album terbarunya yang harus kita nanti dan miliki.

Tracklist:
1. Menara Lara
2. Rocketship Goes By (Goodnight Electric Cover)
3. Kampuang Nan Jauh Di Mato
KapanLagi.com - Oleh: Fajar Adhityo

www.thejeo.blogspot.com
Jakarta - Dunia musik Indonesia semakin berwarna dengan munculnya band-band pendatang baru dengan aliran musiknya masing-masing. Band asal Pekanbaru, Geisha, mengaku tidak takut dengan persaingan di industri musik Indonesia.

"Kita senang industri punya banyak genre musik, kita jadi terpacu untuk bikin musik yang lebih jagoan lagi. Kita nikmati banget persaingan musik ini," ujar sang vokalis, Momo yang ditemui usai mengisi acara 'Dahsyat', di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (21/9/2010).

Band yang berdiri pada Desember 2003 itu mempunyai keinginan untuk terus eksis di blantika musik Indonesia. Untuk itu, Geisha selalu berusaha membuat musik yang mudah diterima pasar tetapi tetap menonjolkan ciri khas musik mereka.

Saat ini band yang terkenal lewat lagu 'Jujurlah Padaku' itu sedang mempersiapkan album kedua. Album terbaru mereka tersebut diperkirakan rampung pada Oktober mendatang.

"Di album ini ada sedikit perbedaan dari album pertama, kita lebih explore dalam hal musikalitas," jelasnya.
music.detikhot.com 
www.thejeo.blogspot.com


JAKARTA,Duo musik yang terdiri dari istri dan suami Endah N Rhesa telah siap untuk segera meluncurkan album kedua mereka, Look What We've Found. Endah menjanjikan, dalam album kedua itu mereka akan menyajikan lagu-lagu dengan musik bernuansa Afrika dan Karibia.

"Album kedua ini terinspirasi dari daerah pantai dan hutan dan lagu-lagunya bernuansa Afrika dan Karibia,"  terang Endah.

"Tuimbe", single pertama dari album tersebut, direncanakan akan keluar bersamaan dengan rilis album kedua mereka pada 26 September 2010. "(Klip video) single pertama sudah jadi, tinggal disebar aja. Tapi, nanti kita baru lihat kalau CD-nya juga sudah dirilis," sambung Endah.

Diakui oleh Rhesa, dalam album kedua itu mereka masih akan menyuguhkan lagu-lagu berbahasa Inggris. "Bukannya enggak cinta Indonesia, tapi kami memang sudah mengonsep dari awal, tiga album pertama kami merupakan trilogi. Tapi, sekarang kami lagi garap musik untuk film yang disutradarai oleh Eugene Panji dan itu semua berbahasa Indonesia kok," jelasnya.

Endah N Rhesa juga mengatakan bahwa konsep Afrika dan Karibia untuk album tersebut berasal dari pemikiran mereka berdua. Mereka kerap mendengarkan musik-musik yang bernuansa Afrika, seperti musik milik Richard Bona, ketika mengerjakan album itu.
KOMPAS.com
www.thejeo.blogspot.com

Semua juga tau kalo jadi musisi independen susah banget. Tapi sebenarnya kenapa sih susah??? Berbeda dengan di luar negeri orang bisa-bisa aja sukses jadi musisi independen? Kenapa di sini ngga bisa?
Mungkin bisa, tapi tingkat kesuksesannya yang berbeza hehe…. Tulisan ini sebenernya tidak akan memberikan solusi apapun sih, tapi coba merangkum apa masalah yang sebenernya terjadi, dan hopefully, suatu hari ada yang bisa memberikan solusinya.
Pertama, kenapa sih mesti Independen? Masalah utamanya adalah karena sebenernya terlalu banyak yang mau jadi musisi, dan ngga semuanya bisa disign di label besar. Masalah keduanya adalah masalah idealisme. Seperti yang kita ketahui, dunia musik mainstream Indonesia sekarang itu super monoton.
Di musik, semua band(atau penyanyi solo) CUMA nyanyiin lagu yang isinya cinta-cintaan melulu. Nadanya mendayu-dayu, udah pengen mati. Temanya kalo ga tuh cewe bikin tergila-gila, patah hati, atau apalah. Iya kan? Padahal kan sebenernya dunia musik ini luas sekali. Banyak banget yang bisa dieksplorasi di sini. Maka muncullah seniman-seniman yang ingin mengusung aliran berbeda. Di musik ada band-band semacam White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, santamonika, Ballads of the Cliche, Endah n Rhesa.
Nah, kenapa seniman-seniman ini ngga bisa muncul ke permukaan? Ya tentu karena ngga ada major label yang mendukung mereka dong. Semua ini tentang uang gitu. Cuma ‘pemain-pemain’ besar yang bisa mendukung untuk melakukan promosi yang sinting. Tapi kemudian band band seperti White Shoes dan Efek Rumah Kaca membuktikan bahwa mereka punya penggemar. Bahkan musik White Shoes bisa diterima di amerika. Tapi kenapa tetep independen?
Kemungkinan para produser adalah sumber utamanya. Para produser ini sudah punya pakem tersendiri untuk membuat sebuah band yang sukses. Jadi intinya, kalo mereka liat band baru, yang mereka liat bukan ‘wah, ni band keren. harus lebih banyak yang tau’, melainkan ‘wah, potensial jadi sumber duit baru ni’ hehe….
Apakah pikiran kayak gitu salah? Ya ngga sih. secara harus hidup gitu loh, gimana juga. Tapi hal semacam ini sangat merugikan bagi band-band yang punya idealisme. Antara musik mereka dianggap tidak menjual, atau musik mereka bisa menjual ASALKAN mereka mau musiknya diutak atik. Nah, masalah diutak atik ini berat. Seorang seniman kan bikin karya ada alesannya. Ada sesuatu yang personal di sana. Gimana rasanya kalo tiba-tiba seorang produser tiba-tiba dateng dan bilang “gw ga suka liriknya kayak gitu. ngga ngejual. ganti lah”.
Blum lagi masalah kebebasan berekspresi. Kemarin gua baru baca tulisan(omelan sih tepatnya) Mbak Endah Widiastuti di Facebook. Intinya ada seorang produser liat mereka main trus mereka minta Endah n Rhesa bawain lagu sendiri. Maka mereka bawakan lah lagu Living with Pirates. Trus si produser ini nanya “lagu sendirinya mana?”, mereka bilang “ini lagu kita sendiri”. Si produser ngomong lagi “lagu Indonesianya mana?”, mereka jawab “wah, untuk album ini kita ga bikin lagu bahasa indonesia”, lalu si produser bilang, “Oh ya? kalo gitu jualan aja di New York!”.
Hmm…pertama-tama ya pak (saya asumsikan saja si produser ini lelaki), kenapa harus di New York? kalo Endah n Rhesa mau jualan di Los Angeles boleh ngga? Atau di Minnesotta gitu? atau mungkin di London? atau di Fiji mungkin? Aah…ini adalah salah satu komentar paling idiotik yang pernah gua denger dari seorang produser.
Apa hubungannya bahasa yang dipakai dengan harus jualan dimana? Kalo gua bikin lagu bahasa Kituba apakah berarti gua cuma boleh jualan di Congo? Kalo gitu, harusnya Pak Gesang ngga boleh jualan Bengawan Solo di luar dong? Tapi buktinya? Bengawan Solo populer bgt di Jepang. See, di musik, bahasa itu bukan penghalang. Ngga penting sama sekali bahasa yang mereka pake apa. Bahasa itu cuma salah satu bentuk art mereka, suatu media yang mereka rasa cocok untuk menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan. Masalahnya, ada hal-hal yang memang lebih bagus disampaikan dalam bahasa tertentu. Andaikata Endah n Rhesa bisa bahasa Hindustani dan mereka ngerasa ada yg indah mereka sampaikan dengan bahasa tersebut, gua yakin mereka akan pake bahasa Hindustani.
Blum lagi masalah “pembajakan”. Yah, dari hasil ngobrol-ngobrol gua dengan seorang praktisi musik, ternyata pembajakan itu legal lho. Yap, kalo elo diproduseri oleh produser musik major, elo harus rela musik lo “dibajak”. Pembajakan ini yang sebenernya bikin para musisi dan produser itu kaya. Dalam beberapa hari aja udah bisa balik modal. Makanya terkadang elo akan denger sebuah interview di radio, dimana ada artis baru bikin album, trus dia dengan santainya bilang “..iya, bajakannya juga udah ada. kualitasnya bagus juga.” yah, itu karena dia menerima dengan sukarela hati musiknya dibajak. kok bisa sukarela hati? Kan hidupnya dijamin. Jadi yah peduli setan toh? Tapi beda dengan para musisi Indie ini. Musisi indie ini malah dengan sukarela meletakkan musik mereka di internet. Lho? dibajak sendiri dong? Ngga lah. Kalo menurut gua sih itu namanya preview. Dan ngga ada tuh namanya jadi CD bajakan trus keuntungannya buat para mafia musik.
Nah, hal-hal kayak gini sebenernya yang menghalangi para musisi independen kita untuk mencapai sukses yang lebih besar. Ngga ada support yang maksimal. Tapi sebenernya, kalo bicara tentang sukses, kita juga harus liat tujuan awal si musisi. Kalo dilihat dari idealismenya, gua rasa White Shoes sudah cukup sukses. Mereka bahkan sempet main di Amerika, di acara Amerika betulan, dan mereka dapat sambutan yang luar biasa. Bahkan dapet gelar best dress dari Vanity Fair (kalo ga salah). Band-band major indo? Yah..Dewa gitu pernah sih main di Amerika. TAPI…di depan orang-orang Indonesia. Jadi intinya sama aja kayak mereka main di Indonesia, bedanya ini di Amerika gitu. Jadi lebih besar mana achievementnya? Menurut gua sih lebih besar achievementnya White Shoes.
Tapi yah, jika kita melihat lagi hidup para musisi independen ini, kasian juga. Mereka punya musik yang bagus, dipuji di dalam dan luar negeri, tapi mereka blum bisa menyokong hidup mereka dari musik. Sebagian besar musisi ini punya kerjaan tetap. Kalo beruntung, kerjaan tetap mereka masih berhubungan dengan main musik (seperti halnya Endah n Rhesa yang tiap Rabu main jadi home band di Loca, Kemang). Tapi ada musisi2 lain yang harus menjalani 2 pekerjaan sekaligus. Padahal seharusnya mereka layak dapat penghargaan lebih untuk musik mereka. Sementara itu musisi major menikmati hidup mereka total dari musik. Band kayak Changcutters per personelnya bisa dapet 3 juta sekali manggung. Ngga gede-gede amat kan? Tapi mereka manggung 25 kali sebulan.
Jadi…apakah ini berarti musisi major itu salah? Ngga sih. Lagi-lagi, orang harus hidup gitu. Jadi yah, gimana pun caranya, asal ada jalan, mereka pasti akan jalanin. Tapi buat gw sih rasanya ngenes aja. Dimana sebenernya ada musisi-musisi yang bisa menjadi angin segar bagi blantika musik Indonesia, tapi lagi-lagi yang muncul ke permukaan hanyalah kopian dari band-band yang sudah ada dari dulu. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Lagu cinta melulu…kita memang benar-benar melayu…yu..yu…” [ sumber : jerryhadiprojo.wordpress.com ]
www.thejeo.blogspot.com




Industri musik indonesia saat ini bisa dibilang mengalami perkembangan yang bagus.
Sekarang, terbukti musik anak negeri sendiri lebih disukai daripada musik manca negara, ini juga ditandai dengan banyaknya band-band pendatang baru yang cukup memberikan alternatif nuansa musik yang heterogen dan juga perkembangan musik indie yang makin menjamur dengan kualitas yang bagus.
Terlepas dari berita perkembangan industri musik indonesia yang bagus diatas, namun apresiasi terhadap karya seni musik masih kurang baik dari pihak pemerintah, praktisi industri musik dan juga masyarakat.
Arus tekhnologi yang bergerak sangat cepat. Memungkinkan dan memudahkan transfer data antar file tanpa mengindahkan adanya larangan hak cipta dapat dengan mudah dilakukan dengan media-media seperti bluetooth, kabel data, dsb. Begitupun dengan download mp3 gratis, dapat dilakukan dari situs-situs yang menyediakan layanan untuk mendownload lagu mp3 secara gratis. Belum lagi CD bajakan dan MP3 secara bebas terjual di beberapa tempat.
Bayangkan saja, Suatu band yang baru launching albumnya 2-3 hari yang lalu, hari ini sudah bisa didapatkan mp3-nya satu album penuh.  Memang sudah menjadi sifat alamai manusia, selama ada sesuatu yang bisa didapatkan secara gratis, ngapain harus beli?
Lalu apakah artis atau band yang mempunyai hak cipta atas lagu-lagunya yang di download tersebut mendapatkan royalti dari situs-situs tersebut ? Bagaimana kita harus menyikapi tentang hal ini?
http://simphonymusic.com/opini/menyikapi-download-mp3-gratis-di-internet/
www.thejeo.blogspot.com


Telinga dan mata sebagai penikmat musik, hampir setiap hari selalu dimanjakan dengan kehadiran acara-acara musik live di televisi (indonesia) yang menampilkan penyanyi/band. Dengan semakin banyaknya acara sejenis ini di tv, tentu semakin memberikan banyak “Job” untuk manggung. untuk artis/band baru, ini adalah peluang untuk lebih memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat pecinta musik secara lebih luas. karena pengaruh dari tayangan televisi sangat besar untuk mendongkrak popularitas dan untuk penyanyi/band yang sudah lebih dulu eksis, akan semakin menunjukan eksistensi mereka.
Tetapi, dengan kehadiran acara-acara dengan berbagai judul musik, live di televisi itu tidak selamanya memberikan dampak positif. Selalu saja ada hal yang perlu dikorbankan demi sebuah tujuan yang bernama komersialisme.
Mungkin loe pun setuju jika kebanyakan dan hampir semua penyanyi/band yang tampil di setiap acara tersebut hanya sekedar Lip Sync. ya… lip sync. bernyanyi hanya sekedar pura-pura dengan hanya menirukan gerakan bernyanyi/main musik dari rekaman lagu mereka sendiri. Meskipun judulnya acara musik live, tapi musik yang mereka mainkan tak lebih dari acara karaoke-an.
Sebuah ironi dari gegap gempitanya industri musik indonesia yang saat ini begitu bergairah.
Ada apa dan mengapa mau melakukan itu? Apakah karena penyanyi/band sendiri yang merasa tidak perlu memberikan penampilan secara total (live) untuk acara sejenis itu, karena mereka biasanya hanya tampil membawakan 1-2 lagu saja, jadi tak perlu repot untuk persiapan tampil live? atau…. mungkin mereka tidak percaya diri karena skillnya yang biasa saja?….hehehe atau karena kewenangan dari yang punya acara (TV people) yang mengharuskan penyanyi/band untuk tampil secara lip sync, agar meminimalkan biaya produksi sebuah acara live yang memang butuh modal tak sedikit?
Mereka tak ubahnya seperti “Parade Lip Sync“. Namun imbasnya sangat besar. kekaguman pecinta musik terhadap idolanya yang melakukan lip sync menjadi terkikis.
Berani tampil live performance meskipun hanya format acoustic live (tidak full music). Sebenarnya menunjukan totalitas musik band itu sendiri dan tentunya layak mendapat apresiasi yang harus dihargai dan itulah hiburan sesungguhnya yang di inginkan oleh pecinta musik. Tidak dengan selalu tampil lip sync setiap acara-acara musik di televisi. Bahkan kadang terkesan lebih menonjolkan image lucu, dengan mengorbankan sisi musikalitas yang sebenarnya bagus.
Penampilan live bisa sempurna karena ada chemistry antara penyanyi/band dengan  penontonnya. ada vibe yang tidak bisa dirasakan jika hanya mendengar lagu dari  kaset (versi rekaman). [sumber : nanang-harmonicnoise.wordpress.com]
www.thejeo.blogspot.com