Tampilkan posting dengan label artikel musik. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label artikel musik. Tampilkan semua posting
Teguh Sukaryo, Seorang Pianist Tanah Air yang telah menciptakan berbagai Harmony -harmony indah dan telah di akui oleh Dunia lewat karya -karya instrument nya, dirinya telah menjadi pianis terbaik yang mengalahkan para pianis dari 26 negara a.l. Jerman, AS, Italia, Prancis, China, dan Jepang.Namun Sayang, sosok Teguh belum begitu akrab terdengar bagi kaum kaum awam di Indonesia,
Sukaryo mendapat pujian dari banyak negara karena menampilkan harmoni, emosi dan teknis sempurna. Sentuhan jarinya pernah membius pendengar di Belanda ketika dipancarluaskan lewat radio dan televisi.
Teguh Sukaryo belajar piano pada sejumlah suhu a.l. Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, dan Carmel Lutton. Dia juga sempat ditangani Byron Janis dan Einar-Steen Nokleberg.
Kemampuan peraih beasiswa Joseph and Ida Kirkland Mullen itu kini ditularkan pada beberapa pianis a.l. Paul Polivnick, Anton Krager, dan Frank Wickes. Selain itu dia aktif mengajar di Rice University Preparatory Program.
Sukaryo lulus dengan predikat BMus untuk Penampilan Piano dari Sekolah Musik Newcastle (NSW) Australia pada 1998. Dari tempat itu dia meraih penghargaan tertinggi untuk penampilannya.
Empat tahun lalu Sukaryo meraih gelar Beethoven Prize di ajang Grieg International Competition for Pianists di Oslo, Norwegia dan berhak atas beasiswa penuh ke sekolah musik top di AS, Oberlin Conservatory.
source : dari berbagai sumber

Berikut ulasan sekilas tentang sosok Teguh Sukaryo.
BIOGRAPHY OF TEGUH SUKARYO, Concert Pianist
(Versi Bahasa Indonesia)

Adalah kecintaan yang sejati terhadap musik, yang dipadukan dengan talenta, hasrat artistic, cita rasa, kejujuran dan kerendahan hati, yang telah membawa Teguh Sukaryo untuk tampil di berbagai negara, termasuk USA, Eropa dan Australia. Misinya adalah untuk menyentuh setiap hati dengan lembut dan rasa kepedulian, seperti yang diimpikannya: “Dunia yang harmonis, berlimpah kedamaian, cinta dan suka cita”. Sembari mengejar misi ini, berbagai media dan kritik turut memberi kesaksian perihal karya Teguh:

“Master pianist. Teguh Sukaryo gave phenomenal recital. He showed fabulous technique and sensibility. Great imagination..with temperament and visible passion.” Airplay Radio en IJssellandTV, Netherlands

“Tremendous personality. Wonderful imagination.” Byron Janis, legendary pianist

"Marvelous,...a gem,..an example of grand. Teguh has the fantasia and technique to reach to the Absolute Top" NoordHollands Dagblad

“Now captivating..now hypnotizing” Kompas, Indonesia

"Climactic craze. Electrifying and full of spirit" Koran Tempo

“An enchanting piano playing which travels through time and space…striking and very memorable” Arts Indonesia

“A Star. World class pianist.” Suara Merdeka

“World top 15” Bali Post

"World Master Pianist, Perfect Presentation of Combined Harmony and Emotion. Anesthetized music lovers. The sound he produced was a reminiscence of beautiful symphony" Kaltim Post


Teguh Sukaryo lulus S1 pada bidang Piano Performance dari Newcastle Conservatorium of Music, Australia. Disana dia mengambil Double Performance Strand dan selalu mendapat nilai tertinggi, yaitu High Distinction. Dikenal memiliki kemampuan artistry tinggi dan teknik yang handal, Teguh menperoleh beasiswa penuh dan berbagai penghargaan untuk melanjutkan seluruh studinya di USA, seperti di sekolah-sekolah terkemuka: Oberlin Conservatory, yang mana dia mendapat gelar Artist Diploma; Rice University/Shepherd School of Music, Master of Music; and Louisiana State University, tempat Teguh sedang menyelesaikan gelar Doktoralnya (DMA, Doctorate of Musical Arts). Tahun 1997, Teguh memperoleh Top Prize di Armidale Open Piano Competition, NSW, Australia; Tahun 2000, Chamber Music Scholarship and award di Sewanee Summer Music Festival, USA; Tahun 2005, “Beethoven Prize” di Grieg International Competition for Pianists, di Oslo.

Teguh Sukaryo belajar dengan pianist kenamaan dan guru besar di Amerika, Eropa dan Australia, antara lain Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, and Carmel Lutton. Teguh juga dilatih oleh pianist legendaris Byron Janis dan Einar Steen-Nokleberg. Selain dibidang piano, Teguh juga menekuni dunia conducting. Guru-gurunya antara lain Prof. Paul Polivnick, Prof. Anton Krager, dan Prof. Frank Wickes.

Bakat dan dedikasi Teguh dalam dunia pendidikan musik juga sangat kuat. Teguh sering memberi workshop dan masterclass di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri. Seorang Joseph and Ida Kirkland Mullen Fellow, Teguh telah mengajar di department Prepatory Program di Rice University, Houston, USA. Banyak murid-murid yang terinspirasi dan mendapat nilai tertinggi pada ujian akhir tahun mereka. Diantaranya berhasil lolos audisi masuk di konservatori-konservatori bergengsi di Amerika Serikat.

CD perdana Teguh yang berjudul “Teguh Sukaryo plays Mompou, Brahms, & Mussorgsky” tersedia di took-toko CD, dan mendapat sambutan hangat dari para pencinta music klasik di tanah air. Menyusul segera tahun ini 3 (tiga) CD baru Teguh yang berjudul “Scenes of Childhood”, “Burgmuller Op. 100” dan “Burgmuller op. 109” lengkap dengan partiturnya.

Teguh lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah. Dia mencintai Indonesia, baik budaya dan manusianya. Teguh juga sangat mencintai alam, seni, dan kemanusiaan. Dia suka bergaul dengan siapa saja dan dengan semua kalangan. Tahun 2010 Teguh mengadakan Nusantara Tour 2010 diberbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Purwokerto, Kupang, dll dalam rangka penyebaran musik klasik di tanah air tercinta Indonesia. Teguh Sukaryo adalah pencipta dan Artistic Director group Musik Klasik Indonesia di facebook. Group dengan lima ribu anggota yang merupakan group musik klasik yang paling aktif, edukatif dan informatif.



http://www.facebook.com/teguh.sukaryo
www.thejo.blogspot.com
Semua juga tau kalo jadi musisi independen susah banget. Tapi sebenarnya kenapa sih susah??? Berbeda dengan di luar negeri orang bisa-bisa aja sukses jadi musisi independen? Kenapa di sini ngga bisa?
Mungkin bisa, tapi tingkat kesuksesannya yang berbeza hehe…. Tulisan ini sebenernya tidak akan memberikan solusi apapun sih, tapi coba merangkum apa masalah yang sebenernya terjadi, dan hopefully, suatu hari ada yang bisa memberikan solusinya.
Pertama, kenapa sih mesti Independen? Masalah utamanya adalah karena sebenernya terlalu banyak yang mau jadi musisi, dan ngga semuanya bisa disign di label besar. Masalah keduanya adalah masalah idealisme. Seperti yang kita ketahui, dunia musik mainstream Indonesia sekarang itu super monoton.
Di musik, semua band(atau penyanyi solo) CUMA nyanyiin lagu yang isinya cinta-cintaan melulu. Nadanya mendayu-dayu, udah pengen mati. Temanya kalo ga tuh cewe bikin tergila-gila, patah hati, atau apalah. Iya kan? Padahal kan sebenernya dunia musik ini luas sekali. Banyak banget yang bisa dieksplorasi di sini. Maka muncullah seniman-seniman yang ingin mengusung aliran berbeda. Di musik ada band-band semacam White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, santamonika, Ballads of the Cliche, Endah n Rhesa.
Nah, kenapa seniman-seniman ini ngga bisa muncul ke permukaan? Ya tentu karena ngga ada major label yang mendukung mereka dong. Semua ini tentang uang gitu. Cuma ‘pemain-pemain’ besar yang bisa mendukung untuk melakukan promosi yang sinting. Tapi kemudian band band seperti White Shoes dan Efek Rumah Kaca membuktikan bahwa mereka punya penggemar. Bahkan musik White Shoes bisa diterima di amerika. Tapi kenapa tetep independen?
Kemungkinan para produser adalah sumber utamanya. Para produser ini sudah punya pakem tersendiri untuk membuat sebuah band yang sukses. Jadi intinya, kalo mereka liat band baru, yang mereka liat bukan ‘wah, ni band keren. harus lebih banyak yang tau’, melainkan ‘wah, potensial jadi sumber duit baru ni’ hehe….
Apakah pikiran kayak gitu salah? Ya ngga sih. secara harus hidup gitu loh, gimana juga. Tapi hal semacam ini sangat merugikan bagi band-band yang punya idealisme. Antara musik mereka dianggap tidak menjual, atau musik mereka bisa menjual ASALKAN mereka mau musiknya diutak atik. Nah, masalah diutak atik ini berat. Seorang seniman kan bikin karya ada alesannya. Ada sesuatu yang personal di sana. Gimana rasanya kalo tiba-tiba seorang produser tiba-tiba dateng dan bilang “gw ga suka liriknya kayak gitu. ngga ngejual. ganti lah”.
Blum lagi masalah kebebasan berekspresi. Kemarin gua baru baca tulisan(omelan sih tepatnya) Mbak Endah Widiastuti di Facebook. Intinya ada seorang produser liat mereka main trus mereka minta Endah n Rhesa bawain lagu sendiri. Maka mereka bawakan lah lagu Living with Pirates. Trus si produser ini nanya “lagu sendirinya mana?”, mereka bilang “ini lagu kita sendiri”. Si produser ngomong lagi “lagu Indonesianya mana?”, mereka jawab “wah, untuk album ini kita ga bikin lagu bahasa indonesia”, lalu si produser bilang, “Oh ya? kalo gitu jualan aja di New York!”.
Hmm…pertama-tama ya pak (saya asumsikan saja si produser ini lelaki), kenapa harus di New York? kalo Endah n Rhesa mau jualan di Los Angeles boleh ngga? Atau di Minnesotta gitu? atau mungkin di London? atau di Fiji mungkin? Aah…ini adalah salah satu komentar paling idiotik yang pernah gua denger dari seorang produser.
Apa hubungannya bahasa yang dipakai dengan harus jualan dimana? Kalo gua bikin lagu bahasa Kituba apakah berarti gua cuma boleh jualan di Congo? Kalo gitu, harusnya Pak Gesang ngga boleh jualan Bengawan Solo di luar dong? Tapi buktinya? Bengawan Solo populer bgt di Jepang. See, di musik, bahasa itu bukan penghalang. Ngga penting sama sekali bahasa yang mereka pake apa. Bahasa itu cuma salah satu bentuk art mereka, suatu media yang mereka rasa cocok untuk menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan. Masalahnya, ada hal-hal yang memang lebih bagus disampaikan dalam bahasa tertentu. Andaikata Endah n Rhesa bisa bahasa Hindustani dan mereka ngerasa ada yg indah mereka sampaikan dengan bahasa tersebut, gua yakin mereka akan pake bahasa Hindustani.
Blum lagi masalah “pembajakan”. Yah, dari hasil ngobrol-ngobrol gua dengan seorang praktisi musik, ternyata pembajakan itu legal lho. Yap, kalo elo diproduseri oleh produser musik major, elo harus rela musik lo “dibajak”. Pembajakan ini yang sebenernya bikin para musisi dan produser itu kaya. Dalam beberapa hari aja udah bisa balik modal. Makanya terkadang elo akan denger sebuah interview di radio, dimana ada artis baru bikin album, trus dia dengan santainya bilang “..iya, bajakannya juga udah ada. kualitasnya bagus juga.” yah, itu karena dia menerima dengan sukarela hati musiknya dibajak. kok bisa sukarela hati? Kan hidupnya dijamin. Jadi yah peduli setan toh? Tapi beda dengan para musisi Indie ini. Musisi indie ini malah dengan sukarela meletakkan musik mereka di internet. Lho? dibajak sendiri dong? Ngga lah. Kalo menurut gua sih itu namanya preview. Dan ngga ada tuh namanya jadi CD bajakan trus keuntungannya buat para mafia musik.
Nah, hal-hal kayak gini sebenernya yang menghalangi para musisi independen kita untuk mencapai sukses yang lebih besar. Ngga ada support yang maksimal. Tapi sebenernya, kalo bicara tentang sukses, kita juga harus liat tujuan awal si musisi. Kalo dilihat dari idealismenya, gua rasa White Shoes sudah cukup sukses. Mereka bahkan sempet main di Amerika, di acara Amerika betulan, dan mereka dapat sambutan yang luar biasa. Bahkan dapet gelar best dress dari Vanity Fair (kalo ga salah). Band-band major indo? Yah..Dewa gitu pernah sih main di Amerika. TAPI…di depan orang-orang Indonesia. Jadi intinya sama aja kayak mereka main di Indonesia, bedanya ini di Amerika gitu. Jadi lebih besar mana achievementnya? Menurut gua sih lebih besar achievementnya White Shoes.
Tapi yah, jika kita melihat lagi hidup para musisi independen ini, kasian juga. Mereka punya musik yang bagus, dipuji di dalam dan luar negeri, tapi mereka blum bisa menyokong hidup mereka dari musik. Sebagian besar musisi ini punya kerjaan tetap. Kalo beruntung, kerjaan tetap mereka masih berhubungan dengan main musik (seperti halnya Endah n Rhesa yang tiap Rabu main jadi home band di Loca, Kemang). Tapi ada musisi2 lain yang harus menjalani 2 pekerjaan sekaligus. Padahal seharusnya mereka layak dapat penghargaan lebih untuk musik mereka. Sementara itu musisi major menikmati hidup mereka total dari musik. Band kayak Changcutters per personelnya bisa dapet 3 juta sekali manggung. Ngga gede-gede amat kan? Tapi mereka manggung 25 kali sebulan.
Jadi…apakah ini berarti musisi major itu salah? Ngga sih. Lagi-lagi, orang harus hidup gitu. Jadi yah, gimana pun caranya, asal ada jalan, mereka pasti akan jalanin. Tapi buat gw sih rasanya ngenes aja. Dimana sebenernya ada musisi-musisi yang bisa menjadi angin segar bagi blantika musik Indonesia, tapi lagi-lagi yang muncul ke permukaan hanyalah kopian dari band-band yang sudah ada dari dulu. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Lagu cinta melulu…kita memang benar-benar melayu…yu..yu…” [ sumber : jerryhadiprojo.wordpress.com ]
www.thejeo.blogspot.com




Industri musik indonesia saat ini bisa dibilang mengalami perkembangan yang bagus.
Sekarang, terbukti musik anak negeri sendiri lebih disukai daripada musik manca negara, ini juga ditandai dengan banyaknya band-band pendatang baru yang cukup memberikan alternatif nuansa musik yang heterogen dan juga perkembangan musik indie yang makin menjamur dengan kualitas yang bagus.
Terlepas dari berita perkembangan industri musik indonesia yang bagus diatas, namun apresiasi terhadap karya seni musik masih kurang baik dari pihak pemerintah, praktisi industri musik dan juga masyarakat.
Arus tekhnologi yang bergerak sangat cepat. Memungkinkan dan memudahkan transfer data antar file tanpa mengindahkan adanya larangan hak cipta dapat dengan mudah dilakukan dengan media-media seperti bluetooth, kabel data, dsb. Begitupun dengan download mp3 gratis, dapat dilakukan dari situs-situs yang menyediakan layanan untuk mendownload lagu mp3 secara gratis. Belum lagi CD bajakan dan MP3 secara bebas terjual di beberapa tempat.
Bayangkan saja, Suatu band yang baru launching albumnya 2-3 hari yang lalu, hari ini sudah bisa didapatkan mp3-nya satu album penuh.  Memang sudah menjadi sifat alamai manusia, selama ada sesuatu yang bisa didapatkan secara gratis, ngapain harus beli?
Lalu apakah artis atau band yang mempunyai hak cipta atas lagu-lagunya yang di download tersebut mendapatkan royalti dari situs-situs tersebut ? Bagaimana kita harus menyikapi tentang hal ini?
http://simphonymusic.com/opini/menyikapi-download-mp3-gratis-di-internet/
www.thejeo.blogspot.com


Telinga dan mata sebagai penikmat musik, hampir setiap hari selalu dimanjakan dengan kehadiran acara-acara musik live di televisi (indonesia) yang menampilkan penyanyi/band. Dengan semakin banyaknya acara sejenis ini di tv, tentu semakin memberikan banyak “Job” untuk manggung. untuk artis/band baru, ini adalah peluang untuk lebih memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat pecinta musik secara lebih luas. karena pengaruh dari tayangan televisi sangat besar untuk mendongkrak popularitas dan untuk penyanyi/band yang sudah lebih dulu eksis, akan semakin menunjukan eksistensi mereka.
Tetapi, dengan kehadiran acara-acara dengan berbagai judul musik, live di televisi itu tidak selamanya memberikan dampak positif. Selalu saja ada hal yang perlu dikorbankan demi sebuah tujuan yang bernama komersialisme.
Mungkin loe pun setuju jika kebanyakan dan hampir semua penyanyi/band yang tampil di setiap acara tersebut hanya sekedar Lip Sync. ya… lip sync. bernyanyi hanya sekedar pura-pura dengan hanya menirukan gerakan bernyanyi/main musik dari rekaman lagu mereka sendiri. Meskipun judulnya acara musik live, tapi musik yang mereka mainkan tak lebih dari acara karaoke-an.
Sebuah ironi dari gegap gempitanya industri musik indonesia yang saat ini begitu bergairah.
Ada apa dan mengapa mau melakukan itu? Apakah karena penyanyi/band sendiri yang merasa tidak perlu memberikan penampilan secara total (live) untuk acara sejenis itu, karena mereka biasanya hanya tampil membawakan 1-2 lagu saja, jadi tak perlu repot untuk persiapan tampil live? atau…. mungkin mereka tidak percaya diri karena skillnya yang biasa saja?….hehehe atau karena kewenangan dari yang punya acara (TV people) yang mengharuskan penyanyi/band untuk tampil secara lip sync, agar meminimalkan biaya produksi sebuah acara live yang memang butuh modal tak sedikit?
Mereka tak ubahnya seperti “Parade Lip Sync“. Namun imbasnya sangat besar. kekaguman pecinta musik terhadap idolanya yang melakukan lip sync menjadi terkikis.
Berani tampil live performance meskipun hanya format acoustic live (tidak full music). Sebenarnya menunjukan totalitas musik band itu sendiri dan tentunya layak mendapat apresiasi yang harus dihargai dan itulah hiburan sesungguhnya yang di inginkan oleh pecinta musik. Tidak dengan selalu tampil lip sync setiap acara-acara musik di televisi. Bahkan kadang terkesan lebih menonjolkan image lucu, dengan mengorbankan sisi musikalitas yang sebenarnya bagus.
Penampilan live bisa sempurna karena ada chemistry antara penyanyi/band dengan  penontonnya. ada vibe yang tidak bisa dirasakan jika hanya mendengar lagu dari  kaset (versi rekaman). [sumber : nanang-harmonicnoise.wordpress.com]
www.thejeo.blogspot.com

Tidak jarang lagi pengetahuan mengenai musik yang memengaruhi jiwa maupun kelakukan pendengar. Bahkan dapat memengaruhi pola pikir seseorang bahkan tak jarang mencerminkan identitas seseorang. Misalkan saja orang yang suka mendengarkan lagu rock atau rocker memiliki penampilan yang agak ‘keras’ (saya nggak tau mengungkapkannya bagaimana, tapi saya kira anda sudah bisa membayangkannya =p ) dan memiliki sifat yang agak meledak2, sangat dekat dengan teman2 dekatnya, heboh, dan suka bergerombol (persis kaya band rock), atau penggemar lagu pop akan lebih berjiwa gaul agak mirip dengan yang penggemar R&B, penggemar klasik akan berjiwa sangat rapi dan cenderung konservatif. Yang doyan lagu jazz cenderung agak sedikit konservatif dan agak perfeksionis hingga easy going dan berwawasan luas. Tak bisa dipungkiri penggemar lagu religi memang akan membawa ciri-ciri sendiri dalam pertumbuhan rohani seseorang.
Seringkali pemilihan musik yang kita cenderung dengarkan menunjukkan sebenarnya siapa kita seperti yang saya sudah singgung sebelumnya diatas. Istilahnya “we are what we listen”. Namun, seringkali karakter ini tersembunyi oleh pembawaan orang tersebut. Seperti, tidak disangka-sangka orang selembut dan se’bocah’ dia (temen saya nih… hehehhe) suka denger lagu yang ‘keras-keras’. Atau seseorang yang cenderung ceplas ceplos dan cerewet (kayanya suka lagu rap ya? Hehehhe) malah suka lagu “my heart will go on and on………” atau “right here waiting for you”. Namun, jika anda lebih memahami sifar dibalik kesukaan akan selera musiknya, pasti anda memahami jiwa orang tersebut lebih dekat ke musik yang sering didengar.
Itu sedikit dari musik yang bisa menunjukkan siapa kita secara umum. Pengaruh musik sendiri sangat perlu kita perhatikan. Yang harus kita tinjau pertama kali adalah

1. Lirik. 
Jika liriknya bagus (misalnya lagu religious atau lagu penyemangat) maka secara langsung pesan dalam lagu itu akan tersampaikan seolah mendorong kita untuk memikirkan sesuatu yang baik (pesan bawah sadar). Jika lirik yang buruk (seringkali ada lirik yang porno, sodara!! Atau mengandung kekerasan, atau kepesimisan) pasti juga akan memengaruhi pesan di otak kita. Lebih lagi jika lirik diulang-ulang akan mengirimkan pengulangan pesan yang lebih tertanam pada otak kita.
2. Irama
Irama teratur dan itu2 saja akan akan membatasi pola pikir kita. Lain halnya jika lagu tersebut mempunyai dinamika iraman yang berbeda-beda dalam 1 lagu seperti dalam lagu klasik. Kebanyakan, faktor ini lah yang ikut memengaruhi kepintaran seseorang.
3. Musik/alat musik
Bunyi alat musik memengaruhi karakter musik. Alat petik khususnya kecapi dapat menenangkan seseorang. Dahulu, kecapi digunakan sebagai penghilang stress dan pengusir kejahatan dalam diri seseorang. Alat musik drum seringkali menjadi pemicu untuk menjelaskan dan meningkatkan beat musik yang secara langsung memegaruhi detak jantung pendengar. Itu sebabnya rocker lebih heboh dibandingkan dengan lagu klasik.
Penelitian sudah dilakukan untuk melihat pengaruh musik dalam kehidupan makhluk hidup. Penelitian yang pernah dilakukan (saya lupa siapa yang meneliti, maaf ya. Saya bacanya di buku sih. Bukunya dipinjam teman dan tak kunjung kembali) adalah 3 tanaman yang masing-masing diperdengarkan jenis musik yang berbeda. Tanaman 1: tidak diperdengarkan musik apapun, tanaman 2: lagu rock, tanaman 3 : lagu klasik. Hasilnya? Tanaman 1 bertumbuh normal, tanaman 2 kering, tanaman 3 : tumbuh lebih cepat dibanding tanaman 1. Hal yang sama juga diiujikan dengan produksi susu pada sapi. Tentu saja sapi yang mendengarkan lagu klasik lebih produktif dibanding susu yang mendengarkan lagu rock (stress kali ya).
Tidak jarang juga di Amerika sana anak muda mendengarkan lagu rock yang menghentak-hentak melebihi ambang batas pendengaran menjadi histeris dan terhipnotis. Jika anda mempunyai konser dvd marylin manson atau ozzie osborne mungkin anda mengerti. Tidak jarang rocker mempromosikan pornografi diatas panggung (siapa ya, saya lupa deh) yang membuat para wanita berteriak histeris, tentu saja liriknya juga. Lalu…. kekerasan! Tentu saja, coba baca beberapa syair lagu iron maiden atau manowar yang tertentu, anda pasti percaya. Teruuuuussss, penghujatan terhadap Maha Kuasa (kebanyakan penyanyi yang nggak terkenal dan orang yang gila metal yang tahu). Terus….hal-hal mistis seperti pembawa lagu gothic (sonata artica, avantasia,nightwish, dkk). Tidak jarang saya (sebagai pengoleksi lagu jenis apapun) merasa “creepy” kalau mendengarkan lagu2 gothic walaupun kebanyakan suara soprannya sangat indah.
Lain dengan lagu klasik, selama yang saya ketahui, efek yang baik yang ditimbulkan dari genre musik tersebut (tapi heran kuping saya ga terlalu biasa dengerin lagu klasik dalam jangka waktu yang lama) dan bukunya sudah banyak. Kalau musik alay saya belum tau penelitian dan pengalaman lebih lanjutnya. Hehehhehehehhe……. semoga pendengarnya tidak ikut jadi alay.
oleh : Ayuko Sinaga
http://lifestyle.kompasiana.com/group/hobi/2010/05/31/musik-pengaruh-dan-cerminan-terhadap-jiwa-pendengar-apa-musikmu/
www.thejeo.blogspot.com
 

Saat emosi, atau menghadapi persoalan, manusia kerapkali mengambil reaksi yang salah pada persoalan yang terjadi, keadaan yang berlaku jadi tak terkendali diluar pikiran jernih.Dalam keadaan marah dengan pacar anda, anda keluar dari mall untuk mencari parkir motor, anda bingung dalam pencarian motor anda. Alhasil anda akan terlihat seperti orang bodoh yang terlihat seperti kehilangan motor anda sendiri. Saat-saat tersebut membuat kita kehilangan kendali atas diri dan mengkondisikan diri diluar akal sehat pemikiran kita.
Teori The Secret mengatakan, partikel-partikel di tubuh ini disusun oleh energy- energy yang bermacam-macam, yakni, energi positif dan negatif. Pengaplikasian elemen energy positif akan menghasilkan hasil yang positif, yang juga sebaliknya. Maka tidak jarang saat kita marah atau berada dalam persoalan, nafas kita tersendat-sendat. Hal ini merupakan contoh kecil dari efek energy negatif.
Dari pandangan diatas, alangkah baiknya, menghadapi persoalan yang ada dengan kepala dingin, yang kalau diperlukan, ambillah nafas panjang dan buang perlahan-lahan. Cara ini biasa digunakan sebagian banyak orang untuk mengatasi perasaan skeptis yang ada.
Cara ampuh yang bisa kita gunakan untuk meminimalisir pikiran negatif yakni dengan mendengarkan musik. Musik dapat mempengaruhi motorik psikologis, mental, dan emosi. Di zaman Turki kuno, yakni dinasti Ottoman, musik dipakai sebagai therapy yang ampuh yang bisa melahirkan mood dan mental yang baik disetiap kesempatan, Raja-raja Ottoman menggunakan musik sebagai theraphy bagi mereka, bahkan rumah sakit-rumah sakit di Turki kala itu menggunakan musik sebagai medium penyembuh.
Mainkan musikmu, apapun dibalik pikiranmu, mainkan Genre musik yang kau sukai, Lets Play dude!!!Dibalik semua itu ada hal yang lebih harus kita utamakan, yakni bersembah sujud untuk Sang Esa dimana kekuatanNYa paling besar untuk penciptaan dan prosesnya untuk penyembuhan diri. (Rian)
oleh : Roka
http://kesehatan.kompasiana.com/group/alternatif/2010/08/13/mediasi-medis-lewat-musik/
www.thejeo.blogspot.com
Saat ini, musik sudah menjadi sebuah industri, berbicara tentang industri, tentunya berbicara tentang bisnis dan bisnis adalah uang.
Seorang artis/band dapat cepat populer dan sukses karena strategi promosinya yang bagus. Bagaimanapun, artis/band yang mempunyai kualitas bagus namun kurang dari sisi promosi, akan tersisih oleh band/artis yang bagus secara promosi dalam persaingan di industri musik ini. Dan hanya band/artis yang bagus strategi dan promosinya yang akan tegak berdiri di puncak popularitas.
Yang menjadi pertanyaan, apakah kesuksesan sebuah band/artis tersebut di iringi oleh kualitas musikalitas yang bagus ? belum tentu. Sekarang banyak band/artis yang sukses secara komersial, namun musikalitas mereka sangat standar.
Apakah hal tersebut harus dipertanyakan? tentu saja, karena band/artis yang sukses adalah cerminan dari industri musik itu sendiri. Musik indonesia (dalam hal ini), selalu mendapat perhatian penting di mata dunia karena indonesia terkenal menyimpan potensi-potensi luar biasa dalam hal musik. Apa jadinya jika band/artis yang populer di indonesia adalah artis/band dengan kualitas musik rendah.
Karena musik Indonesia selalu menjadi perhatian dan diperhitungkan sebagai kekuatan musik di asia selain jepang. Maka jangan sampai, hal yang menjadi kebanggan bangsa ini menjadi rendah di mata dunia dengan lahirnya band/artis yang sukses dengan kualitas musik rendah. [ sumber : harmonicnoise.wordpress.com/aa]
www.thejeo.blogspot.com
G E R G A J I. Siapa yang tak tahu alat ini? Berdasarkan penelusuran di google.com, alat ini ditemukan pada tahun 1777 oleh Samuel Miller di Inggris [ngaco: kira-kira gergaji yang ditemukan Miller dipungut lalu dilaporkan ke polisi tidak ya? Hahaha...] Gergaji adalah tools dengan strip logam tipis dengan gigi di salah satu ujung atau logam tipis disk dengan gigi di pinggiran (sumber:kebebasanex.blogspot.com)

Dengan gergaji manusia menjadi gampang memotong kayu—ada juga jenis gergaji memotong besi. Hasilnya juga rapi—berbeda kalau dipotong dengan parang atau kapak. Dengan bantuan gergaji—dan tentu saja alat tukang lainnya—manusia telah membuat meja, kursi, lemari, bahkan bangunan.
Tapi gergaji rupanya bisa juga jadi inspirasi berkesenian. Dewi Persik misalnya malah terkenal setelah menemukan goyang gergaji—hahaha, entah bagian mananya goyangan model ini yang mirip dengan gergaji. Di Medan lain lagi ceritanya. Sekelompok orang menjadikan gergaji sebagai alat musik yang apik.
Tak percaya?
Adalah The Bamboes. Mereka adalah komunitas musik sampah—yang terdiri dari anak-anak jalanan kota Medan—yang menggunakan gergaji sebagai [salah satu] alat musik. Mereka menamakan istrumen ini: biola gergaji.
Dinamakan biola karena memang memainkannya digesek seperti biola dengan gesekan biola (bow). Bagaimana memainkannya? Pemain harus duduk, pegangan gergaji dijepit dengan dua paha, tangan kiri memegang ujung gergaji—melengkungkannya, sedangkan tangan kanan memegang bow sambil digesek-gesekan pada bagian tumpul (belakang) gergaji.
Tinggi rendah suara yang dikeluarkan tergantung lengkungan yang dibuat pemain. Suaranya: unik, kadang seperti hembusan angin. Kadang seperti suara burung hantu. Kadang seperti gerombolan lebah yang marah karena sarangnya di lempar tangan jahil. Nadanya mencabik-cabik… [akh, sebaiknya ada dengarkan sendiri memang, karena saya tak pala tahu soal musik, tak bisa mendeskripsikan apa yang saya dengar ...]
Tiap kali tampil, gergaji selalu saja menjadi instrumen yang banyak mendapat perhatian orang. Selain memang unik, suaranya juga membuat orang terpukau. Salah seorang anggota komunitas ini yang terampil memainkan biola gergaji adalah David Kribo, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang asongan—terkadang mengamen. David merupakan salah seorang anak yang merantau dari kampung dan menjadi anak jalanan dan bergabung dengan komunitas ini lebih dari 10 tahun yang lalu.
Selain gergaji, komunitas ini juga menggunakan alat-alat tak lazim sebagai instrumen musik. Botol vodka berisi air yang dijadikan gending, aqua galon dijadikan jimbe atau perkusi, tutup lemonade yang dipakukan dijadikan kincringan (seperti yang sering dipakai anak jalanan untuk mengamen) dan lain-lain.
Komunitas ini berdiri pertama kali tahun 1995, oleh Sofian Adli—dan beberapa orang kawan lainnya. Gagasannya menjadikan musik sebagai alat (media) pendidikan—karena memang pendidikan formal (sekolah) tak mungkin lagi dijangkau oleh anak-anak jalanan. Dengan bermusik mereka belajar kebersamaan, persahabatan, kemanusiaan, dan juga memberontak pada kehidupan yang kadang memang tidak berpihak.
Dan riuh-rendah biola gergaji yang menyayat hati merupakan salah satu pemberontakan mereka. Sudikah kita mendengarkan? [*]
oleh : Jemie Simatupang
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/06/19/anak-jalanan-medan-bermusik-dengan-gergaji/
www.thejeo.blogspot.com
 
“Di jalanan, kami gantungkan cita-cita
Sebab di rumah, tak ada lagi yang bisa dipercaya”
B o n g k a r – Swami
ADA KOTA ada anak jalanan. Berbagai analisis kaum terpelajar bilang anak jalanan—layaknya fenomena sosial lainnya—timbul karena kemiskinan; entah itu yang kultural ataupun yang struktural (saya sendiri cenderung kepada yang kedua—kemiskinan yang timbul karena struktur, kebijakan tak berpihak kepada rakyat, kegagalan negara mensejahterakan warganya).
Begitu juga di Medan. Jumlah anak jalanan melampui angka ratusan (belum ada data pasti). Mereka bekerja; mengamen, mengemis, berjualan; bermain, di jalanan. Bahkan sebagian besar tidur dijalanan—total di jalan.
Anak-anak ini datang dari daerah-daerah kumuh (slum area) yang ada di kota ini. Sebagian yang lain datang dari desa-desa yang ada di Sumatera Utara—kota dimanapun memang selalu menjadi magnit bagi desa (bisa ditebak karena timpangnya pembangunan kota-desa).
Ketika melihat mereka mengulur tangan—meminta recehan—ke arah mobil mewah di persimpangan jalan, kita bagai melihat potret kegagalan pembangunan di negeri ini, yang selalu kita dengar dengan dongeng: memajukan kesejahteraan umum; kesejahteraan rakyat!
Tapi tampaknya yang sejahtera adalah pribadi-pribadi, konglemerat-konglomerat, birokrat-birokrat, dan siapa lagi itu? Rakyat (baca: juga anak jalanan) terus melarat.
Sadar fenomena ini, pada tahun 1995 sekelompok anak jalananan di Kota Medan membentuk sebuah komunitas. Namanya The Bamboes (terjemahan bebas: pohon bambu—sengaja dipilih karena melihat filosofi pohon ini yang bisa hidup di mana saja, hidup berkelompok, dan banyak manfaatnya).
Sebagai sarana pendidikan (baca: penyadaran) The Bamboes menggunakan seni, lebih khusus lagi: musik. Beda dengan musik konvensional, komunitas ini menggunakan alat-alat musik yang mudah mereka temukan di jalanan; di tong sampah, di got, di pinggir jalan.
Hampir semua alat yang mereka gunakan berasal dari sampah; botol aqua, botol krantindaeng, tutup botol, botol vodka (jadi gending), dan macam-macam lainnya. Kelompok ini juga menggunakan gergaji yang digesek layaknya biola.
Alat musik konvensional yang masih bisa dikenali—kalau mendengar musik ini—paling gitar dan harmonika.
Dengan alat-alat ini mereka menciptakan lagu; membuat lirik, memilih nada, kemudian mengarasemen musik. Lagu-lagu yang mereka ciptakan juga tak jauh dari realitas yang mereka hadapi, tentang jalanan, tentang perkawanan, tentang ketidakadilan, dll.
Tengok misalnya lagu Mendidik Untuk Berjuang. Begini liriknya:
Pelan-pelan kakiku melangkah
Melewati gelap dan berlubang
Disiram hujan dan dihantam badai
Kulewati dengan semangat
Kan kujaga api semangat
Lewat lagu dan nyanyian hati
Tuk bebaskan pikiran yang terpenjara
Agar hidup jadi tak sia-sia
Kerasnya hidup, membuatku kuat
Pahitnya jalanan, mendidikku untuk berjuang
Berjuang ….
Banyak pesan yang ingin disampaikan dalam lagu ini. Bahwa mereka bisa bertahan hidup di jalanan—layaknya orang dewasa—karena jalanan telah mendidik mereka untuk bertahan. Anak-anak usia mereka (normalnya) masih lagi suka bermain dengan pentil tetek ibunya. Tapi dijalanan mereka bisa bertahan tanpa bantuan dari orang dewasa. Jalanan ada sekolah bagi mereka.
Dengan seni mereka berjuang hidup, dengan musik mereka memberontak. Seni, sebagaimana Albert Camus, benar-benar telah dijadikan sebagai alat pemberontakan. Seni adalah pemberontakan. Memberontak terhadap realita, terhadap kebijakan yang disikriminatif, terhadap tatapan curiga kita. –juga terhadap kemapanan musik (seni) itu sendiri.
Mereka adalah korban (keangkuhan pemerintah: luas lagi, orang dewasa), fenomana, sekaligus seniman—pemberontak. Mengulang lagi lirik swami yang dikutip di awal:  Ketika di rumah (di kantor-kantor, di sekolah, bahkan rumah ibadah) tak ada lagi yang bisa dipercaya, mereka memberontak, dan jangan salahkan mereka—kalau dijalanan mereka gantungkan cita-cita!
Hidup memang tak langsung berubah! Mereka tetaplah anak jalanan—tapi paling tidak, sebagian dari mereka mulai tahu, sadar, gerangan apa sebenarnya telah berlaku di negeri ini; pada diri mereka.[*]
Untuk: Vide, Mastur, Bayu, dan anak-anak komunitas The Bamboes lainnya; terus b e r j u a n g . . .
Bagi yang berkenan silahkan mendowload lagu “Mendidik Untuk Berjuang” di link bawah ini:
Download Mp3 the baMBoes - mendidik utk berjuang

oleh : Jemie Simatupang
http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/02/anak-jalanan-musik-dan-pemberontakan/
www.thejeo.blogspot.com
 
Oleh : Michael Gunadi Widjaja

Seperangkat perkusi yang terbuat dari metal.Membentuk sebuah orkestrasi bunyi yang lengkap,kompleks dan khas.Itulah Gamelan.Orkestra perkusi metal sebetulnya dikenal juga di Cina,Vietnam,Kamboja dan juga Thailand.Daerah di Indonesia pun tak cuma satu yang mengenal orkes perkusi metal.Jawa barat,Jawa tengah dan Bali.namun istilah gamelan khusus diperuntukkan bagi orkes perkusi metal di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Sejak abad 8 dan 9 gamelan telah ada dan dikenal.Seiring berjalannya waktu,gamelan seolah terpinggirkan oleh ekspansi musik barat.Gamelan menjadi orkestra bunyi yang asing bahkan di daerah asalnya.Generasi anak jaman lebih terpukau dengan musik barat yang kental oleh nuansa gemerlap industri musik.dan gamelan pun tercitrakan hanya sebagai bentuk seni yang kuno,antik,asing,aneh dan ketinggalan jaman.Tentu saja fenomena ini sangat menyedihkan,memilukan dan memprihatinkan.Sebagai salah satu national heritage,gamelan mestinya dapat lebih banyak berbicara di kalangan generasi anak bangsa.
Ada ironi yang terjadi pada gamelan.Di daerah dan tanah airnya,gamelan kurang mendapat tempat.Sementara di negara lain gamelan justru dianggap sebagai bentuk seni auditif yang sangat bermutu.Di Tokyo,gamelan menjadi cabang seni ketrampilan bagi siswa sekolah dasar.Di jurusan etno musikologi di Amerika Serikat gamelan merupakan mata kuliah mayor.Dari sanalah lahir musikolog seperti Lou harrison dan Jody Diamond,yang mengusung gamelan pada citra mendunia.Demikian juga di Selandia baru,di Wellington,ada Jack Body dengan gamelan Padhang Moncar.jack Body juga membuat gamelan mendunia dengan gubahan gendhing-gending baru.
Lou harrison.Peralatan gamelan dibuat di Amerika
Lou harrison.Peralatan gamelan dibuat di Amerika
Upaya melestarikan gamelan dan mencitrakannya hingga mendunia,dilakukan juga di tanah air,Almarhum Sapto rahardjo adalah pionir dalam upaya ini.Dimulai gagasannya dengan Yogyakarta International Gamelan Festival,konsep musiknya tentang gamelan meets synthesizer sampai kolaborasinya dengan pemusik Perancis Andre Jaumee dalam CD Suita Borobudur.
Alm.Sapto Rahardjo
Alm.Sapto Rahardjo
Upaya para pionir gamelan dan musikolog untuk mengusung gamelan untuk mendunia,bukanlah tanpa alasan.Gamelan tradisional memiliki konsep musik yang luar biasa kompleks.Tidak seperti musik barat,gamelan bukan musik Tonal melainkan musik modal Laras apapun dalam gamelan bisa menjadi awalan titi laras baru.Konsep modal jauh lebih dahulu dimiliki gamelan dibanding tangga nada Gregorian musik barat.Belum lagi sifat gamelan yang sensual,exotic dan jernih.
Gamelan sebagai mied music oleh KMSWT Tegal
Gamelan sebagai mied music oleh KMSWT Tegal
Dengan kekayaan jati dirinya,gamelan siap untuk menembus abad Millennium.Persoalannya adalah,gamelan harus ” bersaing ” dengan gemerlapnya industri musik dengan produk musik budaya barat yang sangat menggiurkan.Upaya yang dapat dilakukan adalah revitalisasi.menjadikan gamelan sebagai musik baru,new musik.hal ini dilakukan dengan :
  • Membuat gubahan yang menonjolkan fungsi tiap piranti gamelan.Jadi tidak harus gamelan tampil dengan performa penuh.Ada komposisi untuk dua gender saja.gender dan saron saja.Ataupun format ensemble yang ringkas.Ini sesuai dengan tuntutan jaman yang menghendaki portabilitas tinggi
  • melakukan mixed cultural.Misalnya gamelan berfusi dengan jazz atau jenis musik lainnya
  • Mengemas tampilan seni gamelan dengan performa panggung yang lebih menarik
Upaya tersebut masih terus gencar dilakukan.Agar gamelan benar-benar siap menembus abad Millennium.yang dapat dimaknai sebagai siap pula menghantar generasi anak bangsa menuju modernisasi tanpa kehilangan akar budayanya.
Berikut ini dapat kita saksikan bentuk revitalisasi gamelan.Ditampilkan oleh GAMELAN X (baca : gamelan crosover) dari USA.
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/08/28/gamelan-menembus-abad-millennium/
www.thejeo.blogspot.com
Oleh : Michael Gunadi Widjaja

Di Indonesia, ada sebuah organisasi yang menamakan dirinya KCI (Karya Cipta Indonesia).KCI adalah sebuah organisasi nirlaba.Berpusat di Golden Plaza Fatmawati Jakarta ( www.kci.or.id).Organisasi ini bergerak dalam bidang hak cipta musik.Hak cipta musik merupakan salah satu hak intelektual.Dan agaknya tidak berlebihan jika kita meluangkan waktu sejenak untuk sekedar berkenalan dengan hak cipta musik
Hak cipta musik dapat dikatakan adalah hak khusus yang diberikan kepada pengarang lagu dan/atau musik dan penerusnya (ahli warisnya) untuk mengumumkan lagu dan/atau musik dan memperbanyak lagu dan/atau musik karangannya.Adapun yang dimaksudkan mengumumkan lagu adalah sebuah hak khusus dalam hubungannya dengan tampilan musik.Baik untuk musik hidup maupun siaran televisi atau radio.Hal ini dalam hukum tentang hak cipta dikenal sebagai Performing Right.Sedangkan memperbanyak lagu dan/ atau musik berkaitan dengan duplikasi atau penggandaan materi musiknya.
Hak cipta musik adalah sebuah hak intelektual.Hak intelektual yang berkaitan dengan property.Dalam konteks ini,property yang dimaksud adalah lagu dan/atau musik.Ada perbedaan mendasar pada paradigma hal intelektual dalam property dengan hukum property umum.Perbedaannya dapat diilustrasikan :
Misal kita membeli CD yang berisi nyanyian.Kita memiliki hak atas CD nya tetapi BUKAN ATAS NYANYIANNYA. Jadi kita berhak memutar atau menggunakan CD yang telah kita beli hanya,dan hanya untuk kepentingan pribadi yang sifatnya non komersial.
Melihat pengertian-pengertian tentang hak cipta musik,kita tentu segera sadar bahwa masih sangat banyak persoalan yang membentang di hadapan kita berkaitan dengan hak cipta musik.Terutama yang berkaitan dengan materi musik dalam internet.Contoh kasusnya semacam ini:
  • Seseorang membeli CD berisi 10 lagu
  • Salah satu lagunya dia upload ke blog pribadi dia.Sampai dengan tahap ini tak ada masalah.Karena dia menggunakan lagu dari CD yang dia beli untuk kepentingan pribadi.
  • Temannya mengunjungi blog si orang tadi.tertarik dengan lagu yang di upload.si teman tersebut kemudian mendownload nya.Ini pun belum masalah.Karena masih dalam ranah keperluan pribadi.
  • Masalah timbul ketika terjadi efek berantai.Si teman punya teman.Temannya teman tersebut punya teman lagi.dan seterusnya.Mereka juga melakukan download lagu yang sama.Ini adalah duplikasi yang dipublikasi.Sekalipun tak ada unsur komersialisasi,namun tentu pengaruhnya sangat besar bagi profit finansial si pengarang lagu.karena orang tak lagi perlu beli CD nya.Cukup download gratisan.
Paparan tersebut baru salah satu contoh yang riil terjadi.Masih banyak jenis kasus dan polanya pun beragam.Namun demikian,yang membuat kita sedikit lega adalah kenyataan.Bahwa musik diakui sebagai hak intelektual di tanah air kita.Dan mulai timbul kepedulian terhadap perlindungan hak tersebut.

http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/09/07/mengenal-hak-cipta-musik/
www.thejeo.blogspot.com
oleh : Michael Gunadi Widjaja

” Setiap kali anda memutar lagu karya Gesang,bisa jadi anda sudah mencuri periuk nasinya “

Kalimat tersebut terpampang pada booklet resmi dari KARYA CIPTA INDONESIA sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang hak cipta musik di Indonesia.Hak cipta karya musik,dalam highlight KCI dihubungkan dengan periuk nasi seseorang. Almarhum pak Gesang.Dan bicara tentang periuk nasi seseorang,agaknya memang kita harus mau untuk sedikit mengernyitkan kening.Dan memang hak cipta musik di Indonesia masih menyisakan permasalahan yang tidak ringan.
Hak cipta terhadap karya musik dalam artikel ini saya batasi menjadi dua hal : Printed Material dan Audio Material.Yang tergolong printed material adalah karya yang dicetak,baik buku maupun partitura lagu dan atau musik.Sedangkan audio material yang saya maksud adalah karya musik yang diperdengarkan.Tentu dalam bentuk rekaman.Dan pembajakan yang kali ini saya bicarakan bukan pembajakan seperti pembajakan VCD yang marak.Pembajakan dalam tulisan ini adalah pembajakan semu atau saya beri istilah PSEUDO PIRACY.Dan pseudo piracy ini terjadi dalam lingkup pemanfaatan komputer.
Illustrasi 1
Saya meminjam CD musik dari seorang teman.Sebuah CD paten.Artinya bukan bajakan,resmi,dan ada stiker etiket PPN nya.Karena saya suka dengan musiknya,saya bermaksud mengcopy CD tersebut untuk keperluan pribadi.Hanya pribadi dan untuk saya nikmati sendiri.Saat akan mengcopy,usaha saya gagal.Karena CD tersebut copyrighted protection.jadi tidak bisa dan tidak boleh dicopy.Saya tak berputus asa.Saya install softwre CD ripper.Dan dengan CD ripper tersebut tiap track dari CD, saya ripped (jagal paksa).Berhasil.Apakah ini sebuah pembajakan??? Kan saya melakukannya tidak untuk diperdagangkan.Hanya untuk pribadi.Jawabnya…ehm…Inilah pseudo piracy.Sama halnya dengan fotocopy.terhadap textbook dan fotocopy terhadap buku pelajaran musik dan buku lagu-lagu.
Illustrasi II
Saat seorang artis merilis album baru untuk dipasarkan,kurang dari 24 jam kita sudah bisa mengunduh album baru tersebut SECARA GRATIS!!!! Melalui internet.Banyak situs yang menyediakan konten unduh secara gratis untuk album lagu baru.Apakah ini sebuah pembajakan?? Toh pemilik situsnya tidak mendapat keuntungan apapun.Sama sekali tidak ada komersialisasi.Pengunduhan dilakukan secara gratis.Jelas tidak ada profit yang masuk ke dalam pemilik situs.Benefit??Tidak juga.Nama dan ketenaran pemilik situs??? Tidak juga Karena kita tak pernah tahu situs penyedia gratisan itu milik siapa.Dan servernya bisa saja berada di Canada,Aussie dengan alamat yang sulit dilacak.Sekali lagi…Inilah pseudo piracy.Dan ini juga berlaku bagi naskah-naskah musik.
Di sisi lain,pseudo piracy semacam ini sangat bermanfaat bagi pemusik-pemusik di daerah semacam saya ini.Di kota kecil seperti tempat tinggal saya,amat sangat sulit membeli buku musik.Bukan soal harganya,namun material nya yang tak tersedia.Contoh,buku JAZZ HANON.Silahkan cari bahkan sampai ke Medan,Jakarta,Jogja,Surabaya.Akan amat sangat sulit untuk mendapatkannya.Dengan internet..wow dan yahud.Saya tinggal mengunduh,dan gratis lagi.Inilah sisi lain dari pseudo piracy.Pernah ada yang mengatakan pada saya agar membeli buku musik via online.Membeli,bukan unduh gratisan.Saya coba di Amazon.com,hasilnya,amat mahal dan shipping nya sampai ke kota saya tidak kurang dari 20 hari !!Sementara siswa saya dalam 20 hari tersebut perkembangannya amat cepat.Dan seringkali buku atau naskah musik yang kita butuhkan tak tersedia pada situs belanja online yang resmi.
Sekelumit paparan tadi sepertinya ingin berujar bagi kita.Pseuda piracy atau pembajakan semu,memang benar-benar semu.Artinya batas antara pelanggaran dan manfaat benar-benar semu.Memang ada hak cipta karya musik yang dilanggar.Namun tidak ada komersialisasi untuk keuntungan ekonomi bagi tiap pribadi.Sementara manfaat dan mudharat nya amat besar.
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/09/14/pembajakan-semu-terhadap-karya-musik/
www.thejeo.blogspot.com
Pada zaman dahulu, orang menciptakan musik semata-mata untuk kepentingan upacara ritual, yaitu sebagai pengantar doa kepada dewa atau sesuatu yang mereka percayai. Musik yang mereka ciptakan, belum menggunakan alat-alat musik sebagaimana kita ketahui saat ini.

 
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alat musik mengalami perubahan. Sebelumnya, orang yang hanya memanfaatkan tubuh sebagai alat musik dan hanya bersifat ritmis.
Musik merupakan napas bagi kehidupan semua orang. Musik mampu menyatukan berbagai perbedaan yang ada di antara manusia. Bahkan, musik mampu menjadi media komunikasi di antara semua lapisan masyarakat tanpa memperdulikan perbedaan harkat dan martabat.
Perkembangan yang terjadi pada musik saat ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan tatanan kehidupan manusia. Musik saat ini tidak lagi dijadikan sarana peribadatan, tetapi sudah menjadi sarana hiburan dan pendidikan. Musik saat ini telah menjadi sesuatu yang universal dan dapat dinikmati semua orang.
 
A.    MEDIA KOMUNIKASI MELALUI MUSIK
 
1.    Musik sebagai sarana peribadatan
Di beberapa daerah di Indonesia, musik sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat. Masyarakat suatu daerah sangat menjungjung tinggi, memelihara, dan menghormati nilai-nilai yang terkandung di dalam musik. Dengan demikian, musik suatu daerah dapat lestari hingga saat ini.
Masyarakat Sunda, khususnya dalam tradisi bercocok tanam padi, melakukan ritus-ritus untuk memuliakan dan menghormati Dewi Padi atau Dewi Sri. Angklung merupakan salah satu alat bunyi-bunyian yang kadang-kadang disertai dengan nyanyian merupakan salah satu sarana untuk menghormati Nyi Pohaci Sangyang Sri.
Angklung sebagai ritus dari penanaman padi masih digunakan oleh orang sunda yang berdiam di pedal aman, seperti di ciptarasa (tergabung dalam kesatuan Banten Kidul), Kabupaten Sukabumi, Cipining (bogor), cijulang (Ciamis), Sanding (garut), dan Arjasari (Bandung).

2.    Musik sebagai sarana pendidikan
Awalnya, musik hidup dan berkembang di lingkungan nonformal. Masyarakat luas yang memiliki kepedulian dan kepentingan tertentu berusaha melestarikan musik. Untuk lebih melestarikannya masyarakat menjadikan musik sebagai bagian dari bidang pendidikan. Dengan begitu para generasi penerus memiliki wawasan budaya dan sikap kreatif untuk menghargai karya-karya musik, baik dari para seniman lama atau baru.
Alat-alat musik yang kerap diajarkan cara memainkannya disekolah-sekolah formal, antara lain recorder, suling, calung, pianika, keyboard, kecapi, gendang, gitar, angklung, serta gandelan.
 
3.    Musik sebagai sarana hiburan
Musik sebagai sarana hiburan biasanya kita temukan pada perayaan pesta pernikahan, khitanan, pesta rakyat, dan sebagainya. Musik tersebut sipatnya menghibur para penonton. Karena itu kadang-kadang kualitas musiknya kurang baik. Misalnya kualitas tidak penting, yang penting musik dapat mengikuti selera penonton. Dan akhirnya, penonton puas melihat pagelaran musik. Sebagai contoh kesenian angklung, menjadi salah satu hiburan masyarakat yang digelar disanggar seni “Saung Angklung Udjo” yang dahulu dipimpin oleh Bapak Udjo Ngalagena.
 
B.    BENTUK SAJIAN
Dalam suatu pagelaran musik, penonoton akan melihat penyajian alat musik.
1.    Permainan tunggal atau konser tunggal ialah bentuk permainan musik yang disajikan seorang pemain dengan satu/beberapa alat musik.
2.    Permainan bersama atau ansambel ialah bentuk permanian musik yang disajikan beberapa orang atau sekelompok orang dengan sejumlah alat musik, baik alat musik sejenis maupun alat musik berbeda.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kedua bentuk penyajian musik ialah:
1.    Jumlah pemain musik (musisi)
2.    Jumlah alat musik
3.    Luas gedung (tempat pertunjukan)
4.    Konteks pagelaran
C.    JENIS SUMBER BUNYI ALAT MUSIK
Ada beberapa cara seseorang dapat memainkan alat musik agar alat musik mengeluarkan suara yang bagus. Cara memainkan alat musik, antara lain dengan ditiup, digesek, dipetik, dan dipukul.
1.    Alat musik tiup, misalnya recorder, terompet, dan harmonica.
2.    Alat musik gesek, misalnya biola, selo, dan rebab.
3.    Alat musik petik, misalnya gitar, mandolin, dan kecapi.
4.    Alat musik pukul, misalnya untuk alat musik pukul bernada yaitu gamelan, calung, dan kolintang. Sedangkan untuk alat musik pukul tidak bernada seperti tamborin, rebana, dan gendang.
D.    FUNGSI ALAT MUSIK
Alat musik juga dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu:
1.    Alat Musik Melodis
Alat musik melodis adalah alat musik bernada yang dapat difungsikan sebagai pembawa alur melodi atau rangkaian melodi. Contoh alat musik ini adalah flute, harmonica, dan seksofon.
2.    Alat Musik Ritmis
Alat musik ritmis adalah alat musik yang tidak memiliki nada, alat ini difungsikan sebagai pembawa irama sehingga karya musik yang dimainkan dapat stabil. Contoh alat musik ini adalah gendang, tamborin, dan triangle.
3.    Alat Musik Harmonis
Alat musik harmonis adalah alat musik yang dapat menghasilkan paduan akor secara harmoni. Contoh alat musik ini adalah gitar, piano, dan akor deon. Alat musik ini difungsikan untuk mengiringi lagu.
E.    MEMAINKAN ALAT MUSIK
Memainkan alat musik hendaknya dilaksanakan sebaik mungkin. Pelatihan yang baik bukan berarti jumlah pelatihannya sering, melainkan pelatihan yang teratur dan berkualitas. Kualitas permainan ialah apabila kita melakukan kesalahan, kita menganalisis masalah tersebut dan langsung memperbaikinya. Selanjutnya, kita mengulangi terus pelatihan kita sampai benar-benar tidak ada kesalahan.
F.    BERLATIH MUSIK DENGAN ALAT MUSIK RITMIS
Alat musik ritmis ialah alat musik yang dapat memberikan atau mengeluarkan irama tertentu ketika dimainkan bersama-sama. Untuk memainkan alat musik ini, kita memerlukan notasi ritmis.
Notasi ritmis adalah notasi yang digunakan dalam pagelaran musik ansambel. Notasi ritmis dapat berupa notasi blok, notasi gambaran, atau berupa tanda-tanda tertentu. Pemakainan notasi bergantung pada komposer dalam menuliskan notasi sehingga notasi dapat mempermudah para musisi dalam memainkan suatu karya musik.
 http://treeyoo.wordpress.com/2009/01/16/musik-ansambel/

www.thejeo.blogspot.com

Banyak yang beranggapan bahwa Musik Jazz adalah musiknya kaum elite dan mapan. Namun bila kita menegok ke akar jazz boleh dibilang justru bertolak belakang. Jazz adalah sebuah seni ekspresi dalam bentuk musik.


Jazz disebut sebagai musik fundamental dalam hidup manusia dan cara mengevaluasi nilai-nilai tradisionalnya. Tradisi jazz berkembang dari gaya hidup masyarakat kulit hitam di Amerika yang tertindas. Awalnya, pengaruh dari tribal drums dan musik gospel, blues serta field hollers (teriakan peladang). Proses kelahirannya telah memperlihatkan bahwa musik jazz sangat berhubungan dengan pertahanan hidup dan ekspresi kehidupan manusia.
Yang menarik adalah bahwa asal kata “jazz” berasal dari sebuah istilah vulgar yang digunakan untuk aksi seksual. Sebagian irama dalam musik jazz pernah diasosiasikan dengan rumah-rumah bordil dan perempuan-perempuan dengan reputasi yang kurang baik. Dalam perjalanannya kemudian, jazz akhirnya menjadi bentuk seni musik, baik dalam komposisi tertentu maupun improvisasi, yang merefleksikan melodi-melodi secara spontan. Musisi jazz biasanya mengekspresikan perasaannya yang tak mudah dijelaskan, karena musik ini harus dirasakan dalam hati. “Kalau kau menanyakannya, kau tak akan pernah tahu” begitu menurut Louis Armstrong.
Legenda jazz dimulai di New Orleans dan berkembang ke Sungai Mississippi, Memphis, St. Louis, dan akhirnya Chicago. Tentu saja musik jazz dipengaruhi oleh musik yang ada di New Orleans, tribal drums Afrika dan struktur musik ala Eropa. Latar belakang jazz tidak dapat dilepaskan dari fakta di mana jazz dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues. Salah satu legenda jazz yang dipercaya bahwa sekitar 1891, seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans bernama Buddy Bolden meniup cornet-nya dan saat itu lah musik jazz dimulai sebagai gebrakan baru di dunia musik. Setengah abad kemudian, musik jazz di Amerika memberi banyak kontribusi di dunia musik, dipelajari di universitas, dan akhirnya menjadi sebuah aliran musik yang serius dan diperhitungkan.
Musik jazz sebagai seni yang populer mulai menyebar ke hampir semua masyarakat Amerika pada tahun 1920-an (dikenal sebagai Jazz Age). Jazz semakin marak di era swing pada akhir 1930-an, dan mencapai puncaknya di akhir 1950-an sebagai jazz modern. Di awal tahun 20-an dan 30-an, “jazz” telah menjadi sebuah kata yang dikenal umum.
Pengaruh dan perkembangan Musik Blues tidak dapat ditinggalkan saat membahas musik jazz di tahun-tahun awal perkembangannya. Ekspresi yang memancar saat memainkan musik blues sangat sesuai dengan gaya musik jazz. Kemampuan untuk memainkan musik blues menjadi standar bagi semua musisi jazz, terutama untuk digunakan dalam berimprovisasi dan ber-jam session. Musik Blues sendiri, yang berasal dari daerah Selatan, memiliki sejarah yang sangat luas. Pemain Musik Blues biasanya menggunakan gitar, piano, harmonika, atau bermain bersama dalam kelompok yang memainkan alat-alat musik buatan sendiri.
source : nggot.multiply.com
www.thejeo.blogspot.com
Nama aslinya Ong Oen Log. Pria kelahiran Kranggan, Blauran, Surabaya, 19 Maret 1959 ini justru dikenal dengan nama Log Zhelebour, sebuah nama yang kental dengan industri musik Indonesia khususnya genre cadas yang sangat melekat pada dirinya.

Sebanyak 11 festival Rock telah ia gelar sejak 1984 hingga 2007, beberapa band dengan mengusung genre yang menjadi favoritnya sejak semasa kecil itu telah dia orbitkan menjadi sebuah komoditas bernilai tinggi yang menjadi salah satu pendapatan terbesar baginya. Kasarnya band tersebut besar karena Log.
Dari masa 1970-an ada SAS asal Surabaya, Super Kid dari Bandung dan Godbless dari Jakarta. Dekade berikutnya ada El Palmas, Kaisar, hingga Power Metal dan berlanjut Boomerang, dan Jamrud.

Boomerang dan Jamrud di era 2000-an menjadi fenomenal di bawah kibar bendera Logiss Record, sementara Jamrud mampu menjual sedikitnya 2 juta kopi lebih untuk album Ningrat.
Tidak itu saja, Log dan Jamrud sukses mengacak aturan tidak tertulis televisi di Indonesia yang mengharamkan musik cadas dengan lirik kasar. Kita tahu lirik Jamrud selalu lugas mengumbar kata-kata jalanan.
Di luar band, jebolan SMA St. Louis Surabaya ini sukses mengorbitkan ladyrocker Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, Gank Pegangsaan, Euis Darliah, Sylvia Saartje, Farid Harja & Bani Adam hingga grup Prog Rock Giant Step.
Akan tetapi tidak banyak orang tahu kini sang “King of Rock” yang hari ini berusia 51 tahun begitu julukannya, tengah gundah gulana, yang tentu saja sangat berkaitan erat dengan musik yang menjadikannya seorang jutawan Rock.
Mulai dari kegelisahan akan minimnya jumlah penjualan bentuk fisik, tren Ring Back Tone (RBT) hingga perkembangan musik rock yang dia tuding “kemurniannya” telah terkikis.
Band sekarang banyak yang mengusung rock tetapi tidak tahu makna rock itu sendiri seperti apa, bahkan cenderung menyimpang tidak sesuai dengan konten dan esensi rock itu sendiri,
ujar Log yang juga memiliki andil dalam membesarkan band rock legendaris Godbless.
Tontonan Menipu
Kegelisahannya makin tersakiti kala banyak band rock yang relatif “gahar” rela tampil di acara musik yang sedang menjamur yang disuguhkan di hampir tiap stasiun televisi yang membuat sisi imej band Rock menjadi “ternoda”.
Rock is a lifestyle,
begitu kata Log yang sangat mencintai Pink Floyd dan Scorpion. Ia berani berasumsi terang-terangan bahwa band sekarang hanya memikirkan sisi popular bukan sisi imej.
Main di acara seperti itu imej menjadi buruk untuk band Rock, dan juga tidak menguntungkan secara signifikan, sama sekali,
tegasnya.
Log pantas sebal pasalnya pihak televisi menggelar acara-acara musik dengan penuh rekayasa. Satu bentuk penipuan itu adalah membayar penonton agar bersorak meriah saat acara berlangsung.
Kegelisahannya juga makin bertambah saat fenomena RBT hanya dijadikan pengejaran materi semata tanpa memperhatikan kepuasan dan kebanggaan ideal bagi seorang produser dan musisi.
Bentuk fisik, baik cd maupun kaset adalah sesuatu bentuk nyata yang menjadi kebanggaan tak ternilai seorang musisi dan produser, bukan RBT yang hanya dinikmati dengan durasi 15 detik.
Awalnya menurut Log, RBT sangat bagus sebagai salah satu alternatif media promosi. Akan tetapi semakin hari RBT menjadi target utama baik musisi dan produser itu sendiri. Semua berlomba-lomba untuk menjadikan lagu mereka nomor satu dengan jumlah pengakses RBT terbanyak.
Yang menjadikan RBT sebagai pendapatan besar dari musisi maka mereka itu terjebak mimpi. RBT hanya menjadikan musisi popular tidak menjadi kaya tiba-tiba,
tegasnya.
Log memang tahu betul apa yang terjadi dalam industri musik saat ini. Walaupun ia tetap harus mengikuti trend yang sedang berjalan ini, tetapi sisi idealisnya tetap tidak luntur.
Dia masih yakin bentuk fisik akan kembali memegeng peran penuh, terutama bagi para penggemar fanatik, walaupun jumlahnya sedikit mengerucut.

Pendekatan melalui suatu komunitas menjadi salah satu kekuatan dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bentuk fisik.
Untuk festival Rock, dia tetap tidak goyah untuk kembali bergairah mewujudkannya kembali, walaupun band yang mengaku mengusung rock sekarang sudah mengalami keseragaman dimana lirik meratap-ratap menjadi bahan jualan band tersebut.
Dia juga berani menilai tidak ada satupun band rock masa kini yang mampu menyedot ribuan penonton secara global di seantero Tanah Air, seperti yang pernah dilakukan oleh Jamrud saat masih digawangi personel lama mereka.
Bahkan festival rock lokal yang megah bak konser band luar negeri sudah tidak dapat ditemui lagi seperti saat Log melakukannya berulang kali, hal yang hingga kini menjadi satu-satunya festival rock yang melegenda.
Tidak ada satupun yang mampu menyaingi festival rock tersebut, hingga sekarang.
http://www.musikator.com/kegundahan-seorang-king-of-rock/
www.thejeo.blogspot.com
Tak semua orang suka dengan musik beraliran cadas. Iramanya yang hingar bingar dianggap sebagai musik yang hanya membuat telinga tuli. Tapi mulai sekarang, meskipun Anda tak menyukainya, tak ada salahnya jika Anda memanfaatkan keberadaannya untuk meredan stres. Tak percaya ?



Penelitian terbaru yang dilansir oleh Sciencedaily bahkan menyebutkan bahwa penggemar musik heavy metal ternyata lebih pandai meredam emosi negatif, lebih ekspresif dan lebih bisa meluapkan kemarahannya.
Penelitian yang melibatkan 1.057 murid dari usia antara 11 dan 18 tahun dari sekolah National Academy di Amerika. Semua responden diteliti dengan cermat hubungan mereka dengan keluarga, perilaku di sekolah, bagaimana mereka menghabiskan waktu santai, musik kesukaan, dan jenis media yang mereka konsumsi. “Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa bahwa presepsi yang selama ini beredar salah. Selama ini orang menganggap murid yang cerdas dan memiliki intelijensi tinggi cenderung didominasi mereka yang suka musik klasik dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca, ” ujar Stuart Cadwallader, kepala penelitian dari Warwick University.
Sayangnya, menurut Stuart tudi mereka yang menikmati musik heavy metal cenderung mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan keluarga dan teman-teman mereka. Dan mereka menjadikan musik sebagai media ‘keterbukaan’. Sebagian besar murid mengatakan mereka tidak mempertimbangkan untuk menjadi penganut Metal sejati tapi musik heavy metal memahami aspek spesifik kebudayaan pemuda saat ini. Dengan menggunakan musik yang keras dan agresif, mereka bisa keluar dan lepas dari rasa frustrasi dan kemarahan. Di sini berhasil dibuktikan bahwa musik heavy metal atau cadas juga bisa meredekan situasi hati atau mood yang sedang buruk. Menurut Stuart, banyak musisi aliran heavy metal juga memiliki tingkat intelijensi tinggi seperti vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson, yang selain sebagai musisi, juga berprofesi sebagai novelis dan pilot penerbangan komersial.
http://www.benih.net/lifestyle/musik-metal-bantu-stabilkan-emosi.html
www.thejeo.blogspot.com


- Dalam membuat sebuah lagu, si musisi/band akan berusaha untuk mencurahkan perasaannya sepenuh-penuhnya dan seutuh-utuhnya melalui bunyi-bunyian                             
- mengatur/menata agar bunyi-bunyian yang dibuatnya indah, bagus atau enak didengar.
Dan dalam proses pembuatan terciptanya lagu, si musisi/band memperoleh kepuasan atau kesenangan. Orang lain, yang mendengar lagu tsb juga dapat memperoleh kepuasan dan kesenangan.
Namun karena pengertian lagu yang indah atau bagus akan berbeda dari orang ke orang. Dengan demikian tidak mudah membuat lagu yang akan dinilai indah atau bagus oleh banyak orang.
Agar lagu terasa indah atau bagus, berikut beberapa unsur yang perlu dimiliki sebuah lagu :
1. Harmonis
Pengertian harmonis secara sederhana adalah kesesuaian/keseimbangan nada (atau nada-nada) suatu instrument dengan nada (atau nada-nada) instrument lainnya.
2. Irama/Ritme
Pengertian irama/ritme secara sederhana adalah perulangan bunyi-bunyian menurut pola tertentu dalam sebuah lagu. Perulangan bunyi-bunyian ini juga menimbulkan keindahan dan membuat sebuah lagu menjadi enak didengar.
3. Melodis
Pengertian melodis secara sederhana adalah pergerakan/perubahan tinggi rendahnya nada yang dimainkan dari waktu ke waktu. Suatu lagu yang indah atau bagus umumnya memiliki melodi yang enak didengar.
4. Suasana/Nuansa
Nuansa adalah suasana yang terasa dari sebuah lagu. Macam-macam suasana ini dapat dibangun/dibuat melalui melodi, harmoni, irama dan juga efek suara instrument yang digunakan dalam sebuah lagu.
Apakah suasana riang, gembira, sedih ataupun murung. Suasana suatu lagu dapat menimbulkan sensasi perasaan tertentu pada pendengarnya akibatnya membuat suatu lagu terasa indah atau enak didengar.
5. Alunan Emosi
Alunan emosi adalah tahapan/pergerakan pencurahan emosi dalam sebuah lagu.
Dalam sebuah lagu harus ada emosi yang terkandung entah itu emosi marah, sedih, rindu dsb. Emosi-emosi ini dicurahkan menurut tahapan-tahapan tertentu, misalkan dari mulai dikenalkan, dicurahkan perlahan, meningkat, sampai ke puncak emosi kemudian menurun kembali dsb.
Adanya emosi yang dapat dirasakan ini dapat mempengaruhi apakah suatu lagu akan terasa indah/bagus atau tidak. Lagu yang kandungan emosi didalamnya sulit ditangkap/dirasakan kemungkinan menjadi tidak menarik, dan sebaliknya.
Perpaduan yang pas dari hal-hal diatas turut mempengaruhi indah/bagus atau tidaknya suatu lagu. Dan perpaduan yang demikian diatas tidaklah mudah dibuat. Karena Lagu yang bagus selain enak didengar juga mempunyai dampak :
- dapat dinikmati, dipahami dan dihayati oleh pendengarnya
- mendorong/merangsang pendengarnya untuk turut bernyanyi, menari, atau terbawa dalam lagu tsb.
Namun tentu unsur-unsur diatas bukanlah harga mati, bisa saja ada hal-hal lain yang membuat sebuah lagu menjadi indah/bagus. [sahatmrt.wordpress.com/aa]
www.thejeo.blogspot.com



"Dewasa ini sudah jarang kita temukan album-album baru untuk Lagu Anak-Anak. Yang sering disajikan oleh media hiburan kita adalah lagu-lagu dewasa dan seolah tidak peduli dengan jutaan anak Indonesia. Akhirnya, anak-anak, yang sangat suka menyanyi itu, hafalnya hanya lagu-lagu dewasa yang isinya mungkin tidak sesuai dengan dunia anak. Anak-anak jadi lebih cepat belajar tentang masalah-masalah orang dewasa seperti pacaran, selingkuh, percintaan, putus cinta, dibandingkan dengan cita-cita, harapan, dan semangat hidup.Barangkali anak-anak hanya disisakan lagu-lagu yang diputar tukang odong-odong."

Kutipan di atas saya ambil dari opini kompasianer Nabila Karima yang Merindukan Keberadaan Lagu Anak-Anak  yang semakin lama semakin terhapus keberadannya di Tanah Air kita tercinta ini, bagaimana tidak, Anak-anak hari ini sudah tidak memiliki identitas lagi dalam menyanyikan sebuah lagu. Sebab, lagu yang mereka nyanyikan bukan lagi lagu anak-anak, tetapi lagu orang dewasa.

Sebagai Pecinta Musik Tanah Air, saya sendiri prihatin,  Lagu Anak - Anak Tanah Air saat ini seakan nyaris tak mempunyai ruang, dan Industri Musik Tanah Air pun nampaknya memang berlaku diskriminatif, dan Orientasi ekonomi adalah panglimanya.

Pengamat musik Bens Leo menilai, musik anak-anak tidak diberi ruang di industri Musik Tanah Air, sehingga perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir terhambat.

"Musik-musik untuk anak-anak itu sudah kehilangan ruang, baik itu di dalam putaran industri rekaman itu sendiri dan juga di televisi,

Menurut Bens, sudah sekitar satu dasawarsa berlalu dimana anak-anak Indonesia dihibur oleh lantunan suara dari Trio Kwek-kwek, Joshua Suherman, Chikita Meidy, Sherina, Saskia, Geofanny, Tina Toon, atau Cindy Cenora. Kala itu, lanjutnya, anak-anak Indonesia tak pernah kehilangan lagu-lagu yang sesuai dengan usia maupun dunia mereka.

Oleh karenanya, para penyanyi cilik tersebut juga harus "terpaksa" menyesuaikan diri dengan perkembangan industri Musik Tanah Air yang dibanjiri dengan penjualan musik via ringback tone alias RBT. "Pernah setahun lalu itu Papa T Bob (salah seorang pencipta lagu anak) mencoba kembali mengorbitkan seorang anak yang saya yakin sekali saat itu bahwa anak itu dan lagunya itu bakal menjadi hit. Tapi entah kenapa, apa karena industri ini, upaya Papa T Bob dan anak itu kok menghilang," tutur Bens Leo.

Selain itu KOMEDIAN yang juga presenter. Tukul Arwana diam-diam menyimak perkembangan musik anak. Dia prihatin karena dunia anak sekarang lebih banyak dijejali lirik orang dewasa. "Saya prihatin lagu tema anak-anak langka. Anak-anak lebih mengenal lagu-lagu bertema dewasa," kata Tukul.
Tak jauh-jauh, pria bernama lengkap Tukul Riyanto itu mencontohkan buah hatinya sendiri. "Karena banyak lagu dewasa, jadi dia dengerin lagu-lagu dewasa. Sebenarnya, saya ingin mereka dengerin lagu-lagu bertema anak-anak," ujar pria kelahiran Semarang. 16 Oktober 1963, itu.
Menurut dia, lagu-lagu seperti Naik-Naik ke Puncak Gunung atau Naik Delman itulah yang sepantasnya mengisi hari-hari anak. "Anak-anak juga butuh hiburan sesuai usianya. Saat ini mereka terlalu banyak disuguhi lagu-lagu yang bukan untuk usia mereka," tambahnya.Tukul berharap, ke depan lebih banyak lagi lagu untuk anak-anak. "Perbanyaklah lagu-lagu anak, musiknya nggak mesti seperti dulu. Namun, bisa dikombinasikan dengan musik-musik zaman sekarang. Musik anak-anak itu abadi, banyak dikenang," tegasnya

Sudah saatnya kita berjuang kembali menghidupkan Lagu anak -anak, agar kita tetap bisa melihat karakter dan perkembangan kreatifitas anak-anak Tanah Air, memang tidak mudah untuk menciptakan Lagu Anak - Anak, seperti yang di katakan Pak Harun, Seorang Music Director Music Factory Indonesia, "Tidak semua pencipta bisa menciptakan lagu anak-anak yang baik dan memiliki `ruh`, terutama unsur pendidikan di dalamnya," Begitu ujarnya namun Tidak ada salahnya dari diri kita masing -masing mendukung perkembangan lagu anak - anak, dan semoga Industri Musik Tanah Air kita kembali membuka lebar -lebar  ruang gerak untuk lagu anak -anak, hingga menghasilkan generasi penerus Bangsa yang Kreatif dan Mendidik...
Salam Cinta Musik Tanah Air

www.thejeo.blogspot.com

Musik Tanah Air (Nusantara)

Musik Tanah Air (Nusantara) adalah seluruh musik yang berkembang di Nusantara ini, yang menunjukkan atau menonjolkan ciri keindonesiaan, baik dalam bahasa maupun gaya melodinya. Musik Nusantara terdiri dari , musik tradisi daerah, musik keroncong, musik dangdut, musik langgam, musik gambus, musik perjuangan, dan musik pop.

Sejarah Musik Tanah Air (Nusantara)

Terdapat tahapan- tahapan perkembangan  Musik Tanah Air(nusantara). tahapan tersebut adalah sebagai berikut.


Masa sebelum masuknya pengaruh Hindu- Buddha

Pada masa ini, musik dipakai sebagai bagian dari kegiatan ritual masyarakat. Dalam beberapa kelompok, bunyi- bunyian yang dihasilkan oleh anggota badan atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Instrumen atau alat musik yang digunakan umumnya berasal dari alam sekitarnya.


Masa setelah masuknya pengaruh Hindu- Buddha

Pada masa ini, berkembanglah musik- musik istana (khususnya di Jawa). saat itu, musik tidak hanya dipakai sebagai bagian ritual saja, tetapi juga dalam kegiatan- kegiatan keistanaan (sebagai sarana hiburan para tamu raja). Musik istana yang berkembang adalah musik gamelan. Musik gamelan  terdiri dari 5 kelompok, yaitu kelompok balungan, kelompok blimbingan, kelompok pencon, kelompok kendang,dan kelompok pelengkap.


Masa setelah masuknya pengaruh Islam

Selain berdagang dan menyebarkan agama islam, para pedagang arab juga memperkenalkan musik mereka. Alat musik mereka berupa gambus & rebana. dari proses itulah muncul orkes- orkes gambus di Tanah Air  ( Indonesia ) hingga saat ini.





Masa Kolonialisme

Masuknya bangsa Barat ke Indonesia juga membawa pengaruh besar dalam perkembangan musik Indonesia. Para pendatang ini memperkenalkan berbagai alat musik dari negeri mereka, misalnya biola, selo (cello), gitar, seruling (flute), dan ukulele. Mereka pun membawa sistem solmisasi dalam berbagai karya lagu. Itulah masa- masa perkembangan musik modern Indonesia. Saat itu,para musisi Indonesia menciptakan sajian musik yang merupakan perpaduan musik barat  dan musik Indonesia . Sajian musik itu dikenal sebagai musik keroncong.

 
Masa Kini


Seiring dengan masuknya media elektronik ke Indonesia,masukpula berbagai jenis musik barat, seperti pop, jazz, blues, rock, dan R&B. demikian pula dengan musik- musik negeri India yang banyak dibawa melalui film- filmnya. Dari perkembangan ini, terjadi perpaduan antara musik asing dengan musik Indonesia. Musik India mengalami perpaduan dengan musik melayu sehingga menghasilkan jenis musik dangdut. Maka, muncul pula berbagai musisi Indonesia yang beraliran pop, jazz, blues, rock, dan R&B. Berkembang pula jenis musik yang memadukan unsur kedaerahan Indonesia dengan unsur musik barat, terutama alat- alat musiknya. Jenis musik ini sering disebut musik etnis.

Fungsi Musik Tanah Air (Nusantara)



Secara umum, fungsi musik bagi masyarakat Indonesia antara lain sebagai sarana atau media upacara ritual, media hiburan, media ekspresi diri, media komunikasi, pengiring tari, dan sarana ekonomi.



Sarana upacara budaya (ritual)

Musik di Indonesia, biasanya berkaitan erat dengan upacara- upacara kematian, perkawinan, kelahiran, serta upacara keagamaan dan kenegaraan. Di beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen seperti itu dipakai sebagai sarana kegiatan adat masyarakat.



Sarana Hiburan

Dalam hal ini, musik merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menonton pagelaran musik. Jika ada perunjukan musik di daerah mereka, mereka akan berbondong- bondongmendatangi tempat pertunjukan untuk menonton.


Sarana Ekspresi Diri

Bagi para seniman (baik pencipta lagu maupun pemain musik), musik adalah media untuk mengekspresikan diri mereka. Melalui musik, mereka mengaktualisasikan potensi dirinya. Melalui musik pula, mereka mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita- cita tentang diri, masyarakat, Tuhan, dan dunia.


Sarana Komunikasi

Di beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki  pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja.


Pengiring Tarian

Di berbagai daerah di Indonesia, bunyi- bunyian atau musik diciptakan oleh masyarakat untuk mengiringi tarian- tarian daerah. Oleh sebab itu, kebanyakan tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi olehmusik daerahnya sendiri. Selain musik daerah, musik- musik pop dan dangdut juga dipakai untuk mengiringi tarian- tarian modern, seperti dansa, poco- poco, dan sebagainya.


Sarana Ekonomi

Bagi para musisi dan artis professional, musik tidak hanya sekadar berfungsi sebagai media ekspresi  dan aktualisasi diri. Musik juga merupakan sumber  penghasilan. Mereka merekam hasil karya mereka dalam bentuk pita kaset dan cakram padat (Compact Disk/CD) serta menjualnya ke pasaran. Dari hasil penjualannya ini mereka mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain dalam media kaset dan CD. Para musisi juga melakukan pertunjukan yang dipungut biaya. Pertunjukan tidak hanya dilakukan di suatu tempat, tetapi juga bisa dilakukan di daerah- daerah lain di Indonesia ataupun di luar Indonesia.

Ragam Musik Tanah Air (Nusantara)

Ragam musik di Indonesia dapat dibedakan atas musik tradisi, musik keroncong, musik dangdut, musik perjuangan, dan musik pop.


Musik Tanah Air Daerah/Tradisional

Musik daerah atau musik tradisional adalah musik yang lahir dan berkembang di daerah- daerah di seluruh Indonesia. Ciri khas pada jenis musik ini teletak pada isi lagu dan instrumen (alat musiknya). Musik tradisi memiliki karakteristik khas, yakni syair  dan melodinya menggunakan bahasa dan gaya daerah setempat. Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Papua hingga Aceh. Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakatnya  tersebut lahir, tumbuh dan berkembang.  Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.

Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Hampir seluruh seni tradisional Indonesia mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi sehingga dapat dikenali karakter khas orang/masyarakat Indonesia, yaitu ramah dan sopan.  Namun berhubung dengan perjalanan waktu dan semakin ditinggalkanya spirit dari seni tradisi  tersebut, karekter kita semakin berubah dari sifat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi individual/egoistis. begitu banyaknya seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, maka untuk lebih mudah mengenalinya dapat di golongkan menjadi beberapa kelompok yaitu alat musik/instrumen perkusi, petik dan gesek.


Instrumen Musik Perkusi.

Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah, Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.

Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam. Gamelan berasal dari daerah Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat yang biasa disebut dengan Degung dan di Bali (Gamelan Bali).  Satu perangkat gamelan terdiri dari  instrumen saron, demung, gong, kenong, slenthem, bonang dan beberapa instrumen lainnya. Gamelan mempunyai nada pentatonis/pentatonic.

Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau/Sumatera Barat. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, ti, do)



Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa/ Sulawesi Utara. Kolintang mempunyai tangga nada diatonis/diatonic yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis. Bahan dasar untuk membuat kulintang adalah   kayu. Cara untuk memainkan alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.



Arumba  (alunan rumpun bambu) berasal dari daerah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat dari bhan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pada awalnya arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya menggunakan tangga nada diatonis.



Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan. Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di Jawa barat kendang mempunyai peraanan penting dalam tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Bali, DI Yogyakarta, Jawa timur kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi, tari, wayang, ketoprak.  Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias. Rebana adalah jenis gendang yang ukuran bervariasai dari yang kecil hingga besar. Rebana adalah alat musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam. Rebana dapat di jumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.


Instrumen Musik Petik

Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerah Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai Kecapi adalah siter dari daerah Jawa tengah.



Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa tenggara timur (Timor) kecapi ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.



Sampek (sampe/sapek) adalah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang di penuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya menyerupai sampek adalah Hapetan daerah Tapanuli, Jungga dari daerah Sulawesi Selatan.


Instrumen Musik Gesek.

Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebabb terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa,  rebab jenis ini dapat dijumpai di bali, Jawa dan kalimantan selatan.



Instrumen Musik Tiup

Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu. hampir semua daerah di indonesia dapat dijumpai alat musik ini.  Saluang adalah alat musik tiup dari  Sumatera Barat,  serunai dapat dijumpai di sumatera utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40-100cm dengan garis tengah 2cm.



Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat musik tiup yang mempunyai 4-6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni musik tradisi yang menggunakan alat musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Papua.


Musik Tanah Air Keroncong

Secara umum, musik keroncong memiliki harmoni musik dan improvisasi yang sangat terbatas. Umumnya lagu- lagunya memiliki bentuk dan susunan yang sama. Syair- syairnya terdiri atas beberapa kalimat (umumnya 7 kalimat) yang diselingi dengan permainan alat musik.


Musik Tanah Air Dangdut

Musik dangdut merupakan hasil perpaduan antara musik India dengan musik Melayu, musik ini kemudian berkembang dan menampilkan cirinya yang khas dan berbeda dengan musik akarnya. Ciri khas musik ini terletak pada pukulan alat musik tabla (sejenis alat musik perkusi yang menghasilkan bunyi ndut). Selain itu, iramanya ringan, sehingga mendorong penyanyi dan pendengarnya untuk mengerakkan anggota badannya. Lagunya pun mudah dicerna, sehingga tidak susah untuk diterima masyarakat.



Musik Tanah Air Perjuangan

Musik ini lahir dari kondisi masyarakat Indonesia yang sedang terjajah oleh bangsa asing. Dengan menggunakan musik, para pejuang berusaha mengobarkan semangat persatuan untuk bangkit melawan penjajah. Syair- syair yang diciptakan pada masa itu, umumnya berisi ajakan untuk berjuang, ajakan untui berkorban demi tanah air, dan sebagainya. Irama musiknya pun dibuat cepat dan semangat, serta diakhiri dengan semarak.



Musik Tanah Air Populer (pop)

Musik ini memiliki ciri, antara lain penggunaan ritme yang terasa bebas dengan mengutamakan permainan drum dan gitar bas. Komposisi melodinyajuga mudah dicerna. Biasanya, para musisinya juga menambahkan variasi gaya yang beraneka ragam untuk menambah daya tarik dan penghayatan pendengar atau penontonnya. Musik pop dibedakan menjadi musik pop anak- anak dan musik pop dewasa.


Kesimpulan

Musik Tanah Air (nusantara) adalah seluruh musik yang berkembang di nusantara, yang menunjukkan cirri keindonesiaan. Musik memiliki fungsi sebagai sarana atau media ritual, media hiburan media ekspresi diri, media komunikasi, pengiring tari, dan sarana ekonomi. Ragam musik nusantara yang berkembang dapat dibedakan menjadi musik tradisi, musik keroncong, musik dangdut, musik perjuangan, dan musik pop.

Source : berbagai sumber Tablet Android Honeycomb Terbaik Murah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...