Tampilkan posting dengan label about music. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label about music. Tampilkan semua posting
Siapa yang tak kenal Justin Bieber sekarang, tapi di tahun 2007 ia hanya penyanyi amatir yang tak dikenal.


Pada sebuah foto yang dikatakan diambil Agustus 2007 yang dimuat UsWeekly, memperlihatkan Bieber saat belum tenar, di usia 13 tahun, memainkan gitar dan menyanyi sambil menunggu recehan dari orang-orang lewat di depan Avon Theathre di kampung halamannya, Stratford, Ontario, Kanada.
Foto ini diambil fotografer I. Shutter yang mengatakan pada UsWeekly memotretnya pada “20 Agustus 2007 jam 9 pagi” saat ia melihat “anak manis” main gitar sementara orang-orang melempar uang ke tas gitar di depannya.
Tapi, keasyikkan Bieber mengamen hari itu tak lama. “Manajer bioskop mengusirnya bahkan mengejar bocah itu,” cerita Shuter.
Bieber pernah mengatakan dari ngamen di depan bioskop itu ia bisa mengumpulkan AS$ 3 ribu. Sebuah videonya You Tube lalu mengantarnya jadi terkenal.
sumber
Jakarta - Kelompok Remarkable Current asal Amerika Serikat yang beraliran hip hop ditunjuk sebagai duta musik Muslim Amerika Serikat melalui program "Performance Art Initiative" yang diadakan Selasa (21/9/2010) di Jakarta.
Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel sempat memberikan sambutan kepada para tamu undangan sekaligus membuka acara konser mini di halaman rumahnya dan ikut menikmati musik hingga terbawa suasana meriah yang berlangsung malam itu.
Acara dimulai dengan pertunjukan musik oleh Remarkable Current dan dihadiri beberapa perwakilan dari kalangan Muslim Indonesia, peserta yang diundang melalui situs Facebook, serta sejumlah artis yang dianggap mewakili suara kaum muda.
"Kami mengundang perwakilan-perwakilan kelompok Islam Indonesia dan anak-anak muda karena memang acaranya lebih cocok untuk anak muda," kata seorang pejabat kultural senior Kedubes AS.
Kelompok yang beranggotakan dua penyanyi rap hip hop, Tyson dan Kumasi, seorang DJ Arnas Canon, dan drummer Erik Rico itu akan melangsungkan tur di kota-kota besar di Indonesia atas undangan Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Dengan inspirasi dari program Departemen Luar Negeri AS untuk mengirim utusan musik dengan diplomasi jazz melalui diplomasi kebudayaannya, Remarkable Current membawa lirik-lirik hip hop yang penuh arti dan makna.
Mereka bertujuan menyuarakan kepada komunitas global bahwa Amerika dan Islam bukan sesuatu yang eksklusif dan turut berperan serta membantu tanggung jawab Presiden Amerika dalam menghilangkan sterotipe negatif tentang Islam di mana pun berada, seperti ditulis rilis Kedubes Amerika.
Seperti halnya Dizzy Gillespie dan Louis Amstrong yang menjadi Duta Jazz pada abad ke-20, Remarkable Current menjadi Duta Hip Hop abad ke-21 dengan misi membangun pemahaman dan kepedulian akan keragaman Amerika melalui musik yang juga bersahabat dengan anak muda masa kini.
Keberadaan Duta Hip Hop Muslim Amerika ini dipandang sangat penting dalam membantu proses hubungan dengan negara-negara mayoritas Muslim di tengah "era baru" Amerika Serikat dalam hubungan internasionalnya, seperti ditulis dalam rilis media dari pihak Kedubes.
Perjalanan Remarkable Current dimulai pada tahun 2001 ketika sekelompok pertemanan di lingkungan tempat tinggal tumbuh menyatukan tujuan untuk secara kreatif membentuk identitas kaum Muslim Amerika dan berbagi dengan masyarakat dunia.
Remarkable Current yang didirikan dan dipimpin Anas Canon telah melakukan tur ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika, Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah.
Canon, yang belum lama ini masuk ke dalam edisi pertama 500 Muslim paling berpengaruh dalam sebuah publikasi The Prince Alwaleed bin Talaal Center for Muslim-Christian Understanding dari Georgetown University, telah bekerja sama dengan ratusan artis berbakat dan merilis lebih dari sepuluh album.
Gaya musik Remarkable Current mencerminkan latar belakang artis yang sangat beragam, tetapi fokus musiknya adalah perkotaan yang dipengaruhi aliran rock, jazz, dan musik tradisional di dunia.
Kelompok pemusik ini dijadwalkan akan melakukan serangkaian konsernya di Jakarta (22-24 September), Padang (25-26 September), Medan (26-28 September), dan Surabaya (29-30 September).
Penampilan mereka di Surabaya akan menjadi lebih menarik karena direncanakan kelompok hip hop tersebut akan berkolaborasi dengan salah satu kelompok pengusung aliran hip hop Tanah Air, Saykoji.
Remarkable Current juga terpesona dengan keramahan warga Indonesia yang menyambut kedatangan mereka dan merasa banyak kesamaan antara Muslim Indonesia dan Amerika.
"Kami ada di sini karena undangan Kedubes Amerika dan bermaksud menyampaikan pesan bahwa Islam diterima secara luas di Amerika walaupun masih sedikit warga di sana yang tahu tentang Islam secara komprehensif," demikian dikatakan Arnas.
kompas.com
www.thejeo.blogspot.com

JAKARTA,Duo musik yang terdiri dari istri dan suami Endah N Rhesa telah siap untuk segera meluncurkan album kedua mereka, Look What We've Found. Endah menjanjikan, dalam album kedua itu mereka akan menyajikan lagu-lagu dengan musik bernuansa Afrika dan Karibia.

"Album kedua ini terinspirasi dari daerah pantai dan hutan dan lagu-lagunya bernuansa Afrika dan Karibia,"  terang Endah.

"Tuimbe", single pertama dari album tersebut, direncanakan akan keluar bersamaan dengan rilis album kedua mereka pada 26 September 2010. "(Klip video) single pertama sudah jadi, tinggal disebar aja. Tapi, nanti kita baru lihat kalau CD-nya juga sudah dirilis," sambung Endah.

Diakui oleh Rhesa, dalam album kedua itu mereka masih akan menyuguhkan lagu-lagu berbahasa Inggris. "Bukannya enggak cinta Indonesia, tapi kami memang sudah mengonsep dari awal, tiga album pertama kami merupakan trilogi. Tapi, sekarang kami lagi garap musik untuk film yang disutradarai oleh Eugene Panji dan itu semua berbahasa Indonesia kok," jelasnya.

Endah N Rhesa juga mengatakan bahwa konsep Afrika dan Karibia untuk album tersebut berasal dari pemikiran mereka berdua. Mereka kerap mendengarkan musik-musik yang bernuansa Afrika, seperti musik milik Richard Bona, ketika mengerjakan album itu.
KOMPAS.com
www.thejeo.blogspot.com

Semua juga tau kalo jadi musisi independen susah banget. Tapi sebenarnya kenapa sih susah??? Berbeda dengan di luar negeri orang bisa-bisa aja sukses jadi musisi independen? Kenapa di sini ngga bisa?
Mungkin bisa, tapi tingkat kesuksesannya yang berbeza hehe…. Tulisan ini sebenernya tidak akan memberikan solusi apapun sih, tapi coba merangkum apa masalah yang sebenernya terjadi, dan hopefully, suatu hari ada yang bisa memberikan solusinya.
Pertama, kenapa sih mesti Independen? Masalah utamanya adalah karena sebenernya terlalu banyak yang mau jadi musisi, dan ngga semuanya bisa disign di label besar. Masalah keduanya adalah masalah idealisme. Seperti yang kita ketahui, dunia musik mainstream Indonesia sekarang itu super monoton.
Di musik, semua band(atau penyanyi solo) CUMA nyanyiin lagu yang isinya cinta-cintaan melulu. Nadanya mendayu-dayu, udah pengen mati. Temanya kalo ga tuh cewe bikin tergila-gila, patah hati, atau apalah. Iya kan? Padahal kan sebenernya dunia musik ini luas sekali. Banyak banget yang bisa dieksplorasi di sini. Maka muncullah seniman-seniman yang ingin mengusung aliran berbeda. Di musik ada band-band semacam White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, santamonika, Ballads of the Cliche, Endah n Rhesa.
Nah, kenapa seniman-seniman ini ngga bisa muncul ke permukaan? Ya tentu karena ngga ada major label yang mendukung mereka dong. Semua ini tentang uang gitu. Cuma ‘pemain-pemain’ besar yang bisa mendukung untuk melakukan promosi yang sinting. Tapi kemudian band band seperti White Shoes dan Efek Rumah Kaca membuktikan bahwa mereka punya penggemar. Bahkan musik White Shoes bisa diterima di amerika. Tapi kenapa tetep independen?
Kemungkinan para produser adalah sumber utamanya. Para produser ini sudah punya pakem tersendiri untuk membuat sebuah band yang sukses. Jadi intinya, kalo mereka liat band baru, yang mereka liat bukan ‘wah, ni band keren. harus lebih banyak yang tau’, melainkan ‘wah, potensial jadi sumber duit baru ni’ hehe….
Apakah pikiran kayak gitu salah? Ya ngga sih. secara harus hidup gitu loh, gimana juga. Tapi hal semacam ini sangat merugikan bagi band-band yang punya idealisme. Antara musik mereka dianggap tidak menjual, atau musik mereka bisa menjual ASALKAN mereka mau musiknya diutak atik. Nah, masalah diutak atik ini berat. Seorang seniman kan bikin karya ada alesannya. Ada sesuatu yang personal di sana. Gimana rasanya kalo tiba-tiba seorang produser tiba-tiba dateng dan bilang “gw ga suka liriknya kayak gitu. ngga ngejual. ganti lah”.
Blum lagi masalah kebebasan berekspresi. Kemarin gua baru baca tulisan(omelan sih tepatnya) Mbak Endah Widiastuti di Facebook. Intinya ada seorang produser liat mereka main trus mereka minta Endah n Rhesa bawain lagu sendiri. Maka mereka bawakan lah lagu Living with Pirates. Trus si produser ini nanya “lagu sendirinya mana?”, mereka bilang “ini lagu kita sendiri”. Si produser ngomong lagi “lagu Indonesianya mana?”, mereka jawab “wah, untuk album ini kita ga bikin lagu bahasa indonesia”, lalu si produser bilang, “Oh ya? kalo gitu jualan aja di New York!”.
Hmm…pertama-tama ya pak (saya asumsikan saja si produser ini lelaki), kenapa harus di New York? kalo Endah n Rhesa mau jualan di Los Angeles boleh ngga? Atau di Minnesotta gitu? atau mungkin di London? atau di Fiji mungkin? Aah…ini adalah salah satu komentar paling idiotik yang pernah gua denger dari seorang produser.
Apa hubungannya bahasa yang dipakai dengan harus jualan dimana? Kalo gua bikin lagu bahasa Kituba apakah berarti gua cuma boleh jualan di Congo? Kalo gitu, harusnya Pak Gesang ngga boleh jualan Bengawan Solo di luar dong? Tapi buktinya? Bengawan Solo populer bgt di Jepang. See, di musik, bahasa itu bukan penghalang. Ngga penting sama sekali bahasa yang mereka pake apa. Bahasa itu cuma salah satu bentuk art mereka, suatu media yang mereka rasa cocok untuk menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan. Masalahnya, ada hal-hal yang memang lebih bagus disampaikan dalam bahasa tertentu. Andaikata Endah n Rhesa bisa bahasa Hindustani dan mereka ngerasa ada yg indah mereka sampaikan dengan bahasa tersebut, gua yakin mereka akan pake bahasa Hindustani.
Blum lagi masalah “pembajakan”. Yah, dari hasil ngobrol-ngobrol gua dengan seorang praktisi musik, ternyata pembajakan itu legal lho. Yap, kalo elo diproduseri oleh produser musik major, elo harus rela musik lo “dibajak”. Pembajakan ini yang sebenernya bikin para musisi dan produser itu kaya. Dalam beberapa hari aja udah bisa balik modal. Makanya terkadang elo akan denger sebuah interview di radio, dimana ada artis baru bikin album, trus dia dengan santainya bilang “..iya, bajakannya juga udah ada. kualitasnya bagus juga.” yah, itu karena dia menerima dengan sukarela hati musiknya dibajak. kok bisa sukarela hati? Kan hidupnya dijamin. Jadi yah peduli setan toh? Tapi beda dengan para musisi Indie ini. Musisi indie ini malah dengan sukarela meletakkan musik mereka di internet. Lho? dibajak sendiri dong? Ngga lah. Kalo menurut gua sih itu namanya preview. Dan ngga ada tuh namanya jadi CD bajakan trus keuntungannya buat para mafia musik.
Nah, hal-hal kayak gini sebenernya yang menghalangi para musisi independen kita untuk mencapai sukses yang lebih besar. Ngga ada support yang maksimal. Tapi sebenernya, kalo bicara tentang sukses, kita juga harus liat tujuan awal si musisi. Kalo dilihat dari idealismenya, gua rasa White Shoes sudah cukup sukses. Mereka bahkan sempet main di Amerika, di acara Amerika betulan, dan mereka dapat sambutan yang luar biasa. Bahkan dapet gelar best dress dari Vanity Fair (kalo ga salah). Band-band major indo? Yah..Dewa gitu pernah sih main di Amerika. TAPI…di depan orang-orang Indonesia. Jadi intinya sama aja kayak mereka main di Indonesia, bedanya ini di Amerika gitu. Jadi lebih besar mana achievementnya? Menurut gua sih lebih besar achievementnya White Shoes.
Tapi yah, jika kita melihat lagi hidup para musisi independen ini, kasian juga. Mereka punya musik yang bagus, dipuji di dalam dan luar negeri, tapi mereka blum bisa menyokong hidup mereka dari musik. Sebagian besar musisi ini punya kerjaan tetap. Kalo beruntung, kerjaan tetap mereka masih berhubungan dengan main musik (seperti halnya Endah n Rhesa yang tiap Rabu main jadi home band di Loca, Kemang). Tapi ada musisi2 lain yang harus menjalani 2 pekerjaan sekaligus. Padahal seharusnya mereka layak dapat penghargaan lebih untuk musik mereka. Sementara itu musisi major menikmati hidup mereka total dari musik. Band kayak Changcutters per personelnya bisa dapet 3 juta sekali manggung. Ngga gede-gede amat kan? Tapi mereka manggung 25 kali sebulan.
Jadi…apakah ini berarti musisi major itu salah? Ngga sih. Lagi-lagi, orang harus hidup gitu. Jadi yah, gimana pun caranya, asal ada jalan, mereka pasti akan jalanin. Tapi buat gw sih rasanya ngenes aja. Dimana sebenernya ada musisi-musisi yang bisa menjadi angin segar bagi blantika musik Indonesia, tapi lagi-lagi yang muncul ke permukaan hanyalah kopian dari band-band yang sudah ada dari dulu. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Lagu cinta melulu…kita memang benar-benar melayu…yu..yu…” [ sumber : jerryhadiprojo.wordpress.com ]
www.thejeo.blogspot.com




Industri musik indonesia saat ini bisa dibilang mengalami perkembangan yang bagus.
Sekarang, terbukti musik anak negeri sendiri lebih disukai daripada musik manca negara, ini juga ditandai dengan banyaknya band-band pendatang baru yang cukup memberikan alternatif nuansa musik yang heterogen dan juga perkembangan musik indie yang makin menjamur dengan kualitas yang bagus.
Terlepas dari berita perkembangan industri musik indonesia yang bagus diatas, namun apresiasi terhadap karya seni musik masih kurang baik dari pihak pemerintah, praktisi industri musik dan juga masyarakat.
Arus tekhnologi yang bergerak sangat cepat. Memungkinkan dan memudahkan transfer data antar file tanpa mengindahkan adanya larangan hak cipta dapat dengan mudah dilakukan dengan media-media seperti bluetooth, kabel data, dsb. Begitupun dengan download mp3 gratis, dapat dilakukan dari situs-situs yang menyediakan layanan untuk mendownload lagu mp3 secara gratis. Belum lagi CD bajakan dan MP3 secara bebas terjual di beberapa tempat.
Bayangkan saja, Suatu band yang baru launching albumnya 2-3 hari yang lalu, hari ini sudah bisa didapatkan mp3-nya satu album penuh.  Memang sudah menjadi sifat alamai manusia, selama ada sesuatu yang bisa didapatkan secara gratis, ngapain harus beli?
Lalu apakah artis atau band yang mempunyai hak cipta atas lagu-lagunya yang di download tersebut mendapatkan royalti dari situs-situs tersebut ? Bagaimana kita harus menyikapi tentang hal ini?
http://simphonymusic.com/opini/menyikapi-download-mp3-gratis-di-internet/
www.thejeo.blogspot.com


Telinga dan mata sebagai penikmat musik, hampir setiap hari selalu dimanjakan dengan kehadiran acara-acara musik live di televisi (indonesia) yang menampilkan penyanyi/band. Dengan semakin banyaknya acara sejenis ini di tv, tentu semakin memberikan banyak “Job” untuk manggung. untuk artis/band baru, ini adalah peluang untuk lebih memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat pecinta musik secara lebih luas. karena pengaruh dari tayangan televisi sangat besar untuk mendongkrak popularitas dan untuk penyanyi/band yang sudah lebih dulu eksis, akan semakin menunjukan eksistensi mereka.
Tetapi, dengan kehadiran acara-acara dengan berbagai judul musik, live di televisi itu tidak selamanya memberikan dampak positif. Selalu saja ada hal yang perlu dikorbankan demi sebuah tujuan yang bernama komersialisme.
Mungkin loe pun setuju jika kebanyakan dan hampir semua penyanyi/band yang tampil di setiap acara tersebut hanya sekedar Lip Sync. ya… lip sync. bernyanyi hanya sekedar pura-pura dengan hanya menirukan gerakan bernyanyi/main musik dari rekaman lagu mereka sendiri. Meskipun judulnya acara musik live, tapi musik yang mereka mainkan tak lebih dari acara karaoke-an.
Sebuah ironi dari gegap gempitanya industri musik indonesia yang saat ini begitu bergairah.
Ada apa dan mengapa mau melakukan itu? Apakah karena penyanyi/band sendiri yang merasa tidak perlu memberikan penampilan secara total (live) untuk acara sejenis itu, karena mereka biasanya hanya tampil membawakan 1-2 lagu saja, jadi tak perlu repot untuk persiapan tampil live? atau…. mungkin mereka tidak percaya diri karena skillnya yang biasa saja?….hehehe atau karena kewenangan dari yang punya acara (TV people) yang mengharuskan penyanyi/band untuk tampil secara lip sync, agar meminimalkan biaya produksi sebuah acara live yang memang butuh modal tak sedikit?
Mereka tak ubahnya seperti “Parade Lip Sync“. Namun imbasnya sangat besar. kekaguman pecinta musik terhadap idolanya yang melakukan lip sync menjadi terkikis.
Berani tampil live performance meskipun hanya format acoustic live (tidak full music). Sebenarnya menunjukan totalitas musik band itu sendiri dan tentunya layak mendapat apresiasi yang harus dihargai dan itulah hiburan sesungguhnya yang di inginkan oleh pecinta musik. Tidak dengan selalu tampil lip sync setiap acara-acara musik di televisi. Bahkan kadang terkesan lebih menonjolkan image lucu, dengan mengorbankan sisi musikalitas yang sebenarnya bagus.
Penampilan live bisa sempurna karena ada chemistry antara penyanyi/band dengan  penontonnya. ada vibe yang tidak bisa dirasakan jika hanya mendengar lagu dari  kaset (versi rekaman). [sumber : nanang-harmonicnoise.wordpress.com]
www.thejeo.blogspot.com

This page provides audio files where neuronal activity is "visualized" by creating music. The music is created from neuronal spikes recorded extracellularly in parietal cortex of awake and naturally-sleeping cats (taken from Destexhe et al., J Neurosci, 1999). 8 multiunit recordings were obtained with a system of 8 pairs of tungsten microelectrodes. Spikes were extracted using the BrainWave software. They were converted to MIDI, by associating each neuron to a given tone, and triggering the tone whennever this neuron fired. The MIDI files were then converted to MP3 using freeware programs. The music scores were generated by importing the MIDI files into the "Guitar Pro 5" program.
The "melody" produced by neuronal spikes gives an idea about the distributed firing activity of those neurons. MP3 files were generated for 4 cases: when the animal was awake (Wake-Neurons), during slow-wave sleep ("Sleeping-Neurons") or during REM sleep (REM-Neurons), where most dreams occur. The file "Poisson-Wake" is a randomly-generated stream of notes with the same statistics as for "Wake". Interestingly, the firing of one isolated neuron during wakefulness is undistinguishable from that of random (Poisson) activity (compare the audio file generated by one neuron during Wakefulness with that generated by a Poisson spike train with same statistics). However, the distributed activity (ie, the "melody") of several neurons is clearly different (listen to the difference between Wake Neurons with its Poisson equivalent, Poisson Wake - see below). This suggests that what makes our brains non-random is not in the firing pattern of individual cells, but it lies in the respective timing of the firing activity of different neurons...
The different audio files available are:
(in all audio files, the time base is four times slower than real time; all recordings are from the same experiment)
These files (and more files at different audio formats) are also available at the Internet Archive, under a page called Neuronal Tones.
Just for fun, see also the music scores for Wake Neurons, Poisson Wake, Sleeping Neurons, REM Neurons.
In the cases shown here, the simplest translation from spikes to music was used, namely each neuron produces its own note, at the moment it fires. It is possible to use more sophisticate ways of translating spikes to music, such as for example using more complex rules of harmonics and associate predefined phrases or chords with given patterns of neuronal activity. Work in this direction is currently under way.
http://cns.iaf.cnrs-gif.fr/alain_music.html
www.thejeo.blogspot.com

Saat ini, musik sudah menjadi sebuah industri, berbicara tentang industri, tentunya berbicara tentang bisnis dan bisnis adalah uang.
Seorang artis/band dapat cepat populer dan sukses karena strategi promosinya yang bagus. Bagaimanapun, artis/band yang mempunyai kualitas bagus namun kurang dari sisi promosi, akan tersisih oleh band/artis yang bagus secara promosi dalam persaingan di industri musik ini. Dan hanya band/artis yang bagus strategi dan promosinya yang akan tegak berdiri di puncak popularitas.
Yang menjadi pertanyaan, apakah kesuksesan sebuah band/artis tersebut di iringi oleh kualitas musikalitas yang bagus ? belum tentu. Sekarang banyak band/artis yang sukses secara komersial, namun musikalitas mereka sangat standar.
Apakah hal tersebut harus dipertanyakan? tentu saja, karena band/artis yang sukses adalah cerminan dari industri musik itu sendiri. Musik indonesia (dalam hal ini), selalu mendapat perhatian penting di mata dunia karena indonesia terkenal menyimpan potensi-potensi luar biasa dalam hal musik. Apa jadinya jika band/artis yang populer di indonesia adalah artis/band dengan kualitas musik rendah.
Karena musik Indonesia selalu menjadi perhatian dan diperhitungkan sebagai kekuatan musik di asia selain jepang. Maka jangan sampai, hal yang menjadi kebanggan bangsa ini menjadi rendah di mata dunia dengan lahirnya band/artis yang sukses dengan kualitas musik rendah. [ sumber : harmonicnoise.wordpress.com/aa]
www.thejeo.blogspot.com
G E R G A J I. Siapa yang tak tahu alat ini? Berdasarkan penelusuran di google.com, alat ini ditemukan pada tahun 1777 oleh Samuel Miller di Inggris [ngaco: kira-kira gergaji yang ditemukan Miller dipungut lalu dilaporkan ke polisi tidak ya? Hahaha...] Gergaji adalah tools dengan strip logam tipis dengan gigi di salah satu ujung atau logam tipis disk dengan gigi di pinggiran (sumber:kebebasanex.blogspot.com)

Dengan gergaji manusia menjadi gampang memotong kayu—ada juga jenis gergaji memotong besi. Hasilnya juga rapi—berbeda kalau dipotong dengan parang atau kapak. Dengan bantuan gergaji—dan tentu saja alat tukang lainnya—manusia telah membuat meja, kursi, lemari, bahkan bangunan.
Tapi gergaji rupanya bisa juga jadi inspirasi berkesenian. Dewi Persik misalnya malah terkenal setelah menemukan goyang gergaji—hahaha, entah bagian mananya goyangan model ini yang mirip dengan gergaji. Di Medan lain lagi ceritanya. Sekelompok orang menjadikan gergaji sebagai alat musik yang apik.
Tak percaya?
Adalah The Bamboes. Mereka adalah komunitas musik sampah—yang terdiri dari anak-anak jalanan kota Medan—yang menggunakan gergaji sebagai [salah satu] alat musik. Mereka menamakan istrumen ini: biola gergaji.
Dinamakan biola karena memang memainkannya digesek seperti biola dengan gesekan biola (bow). Bagaimana memainkannya? Pemain harus duduk, pegangan gergaji dijepit dengan dua paha, tangan kiri memegang ujung gergaji—melengkungkannya, sedangkan tangan kanan memegang bow sambil digesek-gesekan pada bagian tumpul (belakang) gergaji.
Tinggi rendah suara yang dikeluarkan tergantung lengkungan yang dibuat pemain. Suaranya: unik, kadang seperti hembusan angin. Kadang seperti suara burung hantu. Kadang seperti gerombolan lebah yang marah karena sarangnya di lempar tangan jahil. Nadanya mencabik-cabik… [akh, sebaiknya ada dengarkan sendiri memang, karena saya tak pala tahu soal musik, tak bisa mendeskripsikan apa yang saya dengar ...]
Tiap kali tampil, gergaji selalu saja menjadi instrumen yang banyak mendapat perhatian orang. Selain memang unik, suaranya juga membuat orang terpukau. Salah seorang anggota komunitas ini yang terampil memainkan biola gergaji adalah David Kribo, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang asongan—terkadang mengamen. David merupakan salah seorang anak yang merantau dari kampung dan menjadi anak jalanan dan bergabung dengan komunitas ini lebih dari 10 tahun yang lalu.
Selain gergaji, komunitas ini juga menggunakan alat-alat tak lazim sebagai instrumen musik. Botol vodka berisi air yang dijadikan gending, aqua galon dijadikan jimbe atau perkusi, tutup lemonade yang dipakukan dijadikan kincringan (seperti yang sering dipakai anak jalanan untuk mengamen) dan lain-lain.
Komunitas ini berdiri pertama kali tahun 1995, oleh Sofian Adli—dan beberapa orang kawan lainnya. Gagasannya menjadikan musik sebagai alat (media) pendidikan—karena memang pendidikan formal (sekolah) tak mungkin lagi dijangkau oleh anak-anak jalanan. Dengan bermusik mereka belajar kebersamaan, persahabatan, kemanusiaan, dan juga memberontak pada kehidupan yang kadang memang tidak berpihak.
Dan riuh-rendah biola gergaji yang menyayat hati merupakan salah satu pemberontakan mereka. Sudikah kita mendengarkan? [*]
oleh : Jemie Simatupang
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/06/19/anak-jalanan-medan-bermusik-dengan-gergaji/
www.thejeo.blogspot.com
 
Indonesia is home to various styles of music, with those from the islands of Java, Sumatra and Bali being frequently recorded. The traditional music of central and East Java and Bali is the gamelan.
On June 29, 1965, Koes Plus, a leading Indonesian pop group in the 1960s, 70s and 80s, was imprisoned in Glodok, West Jakarta, for playing Western-style music. After the resignation of President Sukarno, the law was rescinded, and in the 1970s the Glodok prison was dismantled and replaced with a large shopping mall.
Kroncong is a musical genre that uses guitars and ukuleles as the main musical instruments. This genre had its roots in Portugal and was introduced by Portuguese traders in the fifteenth century. There is a traditional Keroncong Tugu music group in North Jakarta and other traditional Keroncong music groups in Maluku, with strong Portuguese influences. This music genre was popular in the first half of the twentieth century; a contemporary form of Keroncong is called Pop Keroncong.
The soft Sasando music from the province of East Nusa Tenggara in West Timor is completely different. Sasando uses an instrument made from a split leaf of the Lontar palm (Borassus flabellifer), which bears some resemblance to a harp.

DANCE
Indonesian dance reflects the diversity of culture from ethnic groups that composed the nation of Indonesia. Austronesian roots and Melanesian tribal dance forms are visible, and influences ranging from neighboring Asian countries; such as India, China, and Middle East to European western styles through colonization. Each ethnic group has their own distinct dances; makes total dances in Indonesia are more than 3000 Indonesian original dances. However, the dances of Indonesia can be divided into three eras; the Prehistoric Era, the Hindu/Buddhist Era and the Era of Islam, and into two genres; court dance and folk dance.
There is a continuum in the traditional dances depicting episodes from the Ramayana and Mahabharata from India, ranging through Thailand, all the way to Bali. There is a marked difference, though, between the highly stylized dances of the courts of Yogyakarta and Surakarta and their popular variations. While the court dances are promoted and even performed internationally, the popular forms of dance art and drama must largely be discovered locally.
During the last few years, Saman from Nanggroe Aceh Darussalam has become rather popular and is often portrayed on TV.

DRAMA AND THEATRE

Wayang, the Javanese, Sundanese, and Balinese shadow puppet theatre shows display several mythological legends such as Ramayana and Mahabharata, and many more. Wayang Orang is Javanese traditional dance drama based on wayang stories. Various Balinese dance drama also can be included within traditional form of Indonesian drama. Another form of local drama is Javanese Ludruk and Ketoprak, Sundanese Sandiwara, and Betawi Lenong. All of these drama incorporated humor and jest, often involving audiences in their performance.
Randai is a folk theatre tradition of the Minangkabau people of West Sumatra, usually performed for traditional ceremonies and festivals. It incorporates music, singing, dance, drama and the silat martial art, with performances often based on semi-historical Minangkabau legends and love story.
Modern performing art also developed in Indonesia with their distinct style of drama. Notable theatre, dance, and drama troupe such as Teater Koma are gain popularity in Indonesia as their drama often portray social and political satire of Indonesian society.

Martial Art
The art of silat was created and firstly developed in the islands of Java and Sumatra. It is an art for survival and practiced throughout Indonesian archipelago. Centuries of tribal wars in Indonesian history had shaped silat as it was used by the ancient warriors of Indonesia. Silat was used to determine the rank and position in old Indonesian kingdoms.
Contacts with Indians and Chinese was further enriched silat. Silat reached areas beyond Indonesia mainly through diaspora of Indonesian people. People from various regions like Aceh, Minangkabau, Riau, Bugis, Makassar, Java, Banjar, etc. moved into and settled in Malay Peninsula and other islands. They brought silat and passed it down to their descendants. The Indonesian of half-Dutch descent are also credited as the first to brought the art into Europe.
Silat was used by Indonesian freedom fighters during their struggle against the Dutch colonists. Unfortunately after Indonesia achieving their independence, silat became less popular among Indonesian youth compare to foreign martial arts like Karate and Taekwondo. This probably because silat was not taught openly and only passed down among blood relatives, the other reason is the lack of media portrayal of the art.
Efforts have been made in recent years to introduce and reintroduce the beauty of silat to Indonesian youth and the world. Exhibitions and promotions by individuals as well as state-sponsored groups helped the growing of silat's popularity, particularly in Europe and United States. Indonesian 2009 Silat movie Merantau is one of Indonesian efforts to introduce silat to international scene.
Another martial art from Indonesia is Tarung Derajat. It is a modern combat system created by Haji Ahmad Drajat based on his experience as a street fighter. Tarung Drajat has been acknowledge as a national sport by KONI in 1998 and is now using by Indonesian Army as part of their basic training.

Source : wikipedia
www.thejeo.blogspot.com

Music of North Sumatra - Indonesian Culture, 75 thousand years ago, a volcano erupted deep in the interior of North Sumatra, spreading ash as far as Sri Lanka and leaving behind a crater now known as Lake Toba. One hundred kilometers long, it is the largest volcanic crater lake in the world. The fertile volcanic soils of its shores have supported intensive agriculture for millenia. Its great natural beauty has made it Indonesia's third-largest tourist attraction. This is the original homeland of the Batak, a family of seven Indonesian ethnic groups with a population of perhaps two million.



These seven groups (Toba, Karo, Simalungun, Pak-pak, Dairi, Angkola and Mandailing) have related but distinct languages, customs, and traditional arts. Such is the variety of Batak music and dance that no one program could present even a sampling of it all. Festival of Indonesia has chosen to concentrate on three highly contrasting traditions: those of the Toba, the Karo and the Mandailing.


The Batak groups are divided by religion (the Mandailing are Islamic; the Toba, Christian) and by language (Toba and Karo in particular are mutually unintelligible), but unified by a common passion for genealogy. It is not unusual to meet Batak men who can recite fluently the names of eight generations of their ancestors. These ancestral trees represent a sort of blueprint for Batak society; they explain the origins of and relations between the clans (marga) which dominate Batak social life.


Every Batak belongs to one of these patrilineal clans. They are exogamous: a man may not marry a woman from his own clan, but must search among other clans for a wife. The marriage ties which link clans form an intricate web of kinship which touches every aspect of Batak society. The clans also order Batak culture, ceremony, mythology and the arts.


There are musical compositions specific to one or another clan; clan membership determines the order of events at the life-cyle ceremonies at which music and dance are essential.


Music and dance play a crucial role in Batak society. The word for "ceremony" ("gondang" in Toba; "gendang" in Karo) is actually a musical term and refers both to the Batak orchestra of drums, gongs, and oboes and also to the tunes they play. The musicians are essential to a ceremony because they are the intermediaries between humanity and the Creator. The sounds of the drums and gongs convey human prayers to the spirit world.


Musicians thus command great respect in traditional Batak society and they must follow a certain code of behavior. "The musicians must be honest men," explained one old Toba Batak man, "otherwise they risk angering the spirits."
Gondang Uning-Uningan




Batak Toba Dance




Karonese Traditional Dance





Dembas Simenguda Dance Tapanuli




http://myindonesianculture.blogspot.com/2008/01/music-of-north-sumatra.html
www.thejeo.blogspot.com
Mark David Chapman, pembunuh John Lennon tidak memperoleh grasi untuk keenam kalinya pada Selasa (7/9), tiga bulan sebelum peringatan 30 tahun kematian gitaris band legendaris The Beatles itu.


Divisi Pembebasan Bersyarat Negara Bagian New York telah menolak permintaan David Chapman, menyatakan kekhawatiran atas pengabaian norma masyarakat yang berlaku dan nyawa manusia, menurut laporan dari stasiun televisi berita CNN.

Tiga anggota panelis pemberi grasi memberi komentar tertulis bahwa Chapman pembebasan dinilai tidak pantas untuk saat ini dan tidak sesuai dengan khazanah masyarakat sekarang.

Koran "The New York Daily" mengatakan bahwa divisi pembebasan bersyarat menerima 75 surat memperdebatkan pembebasan Chapman, termasuk salah satunya dari istri terakhir John Lennon, Yoko Ono (77), yang mengatakan pada bulan lalu ia percaya Chapman akan menjadi ancaman bagi dirinya, kedua anak laki-lakinya, masyarakat dan bahkan pada dirinya sendiri.

Pengacaranya, Peter Phukat, mengatakan kepada surat kabar bahwa Ono "sangat puas" mendengar bahwa Chapman diputuskan akan tetap dipenjara.

Chapman (55) sedang menjalani hukuman penjara selama 20 tahun hingga seumur hidup atas penembakan Lennon sebanyak empat kali di punggung, di luar gedung apartemen kediamannya di New York pada 8 Desember 1980. Ia mengaku bersalah atas dakwaan pembunuhan tingkat dua.

Ia telah menjalani 29 tahun dari masa tahanannya di instalasi penjara keamanan tinggi di Attica, New York. Dalam 20 tahun terakhir ini, ia telah diperbolehkan kunjungan pasutri dengan istrinya, Gloria, yang ia nikahi pada 1979. Ia juga telah mengajukan permohonan grasi setiap dua tahun sejak 2000.

Kesempatan berikut Chapman untuk mendapat wawancara pembebasan bersyarat pada 2012.
antaranews.com
www.thejeo.blogspot.com
Bagi Para Pemula, dan ingin belajar bermain Drum, disini ada 10 tips Belajar Bermain Drum, Berikut tipsnya :


1. Selalu menggunakan EAR PLUG (penutup telinga) guna melindungi telinga dari kerusakan dan selalu gunakan pada saat latihan dan tampil. Sekarang banyak pemain drum yang telah mengidap penyakit tinnitus (kuping mendengung) dan sampai sekarang obatnya masih belum ada. Sayangilah pendengaran anda.

2. Biasakan menggunakan METRONOME setiap kali berlatih sehingga tempo anda senantiasa stabil.

3. Bermainlah dengan RILEKS, jangan tegang dan jangan membuang-buang tenaga, tidak ada gunanya.

4. Selalu menyiapkan STICK sendiri lebih dari satu pasang jika ingin tampil.

5. Jangan terlalu CEPAT PUAS dengan ilmu yang telah anda dapat. Cobalah menambah ilmu lagi dengan cara belajar dari guru drum yang berbeda atau dari teman anda yang lebih berpengalaman.

6. Jangan terlalu FANATIK pada satu atau dua aliran lagu saja, hal inilah yang dapat menghambat kreatifitas pemain dan membuat permainan anda menjadi monoton dan membosankan. Cobalah berbagai macam aliran musik dan usahakan anda dapat memainkan seluruh aliran musik yang ada.

7. Dalam permainan drum harus melibatkan FEEL atau dengan kata lain harus benar2 dirasakan, jangan asal pukul dan jangan pernah berpikiran bahwa semakin keras pukulan semakin bagus. Itu salah! Dan juga jangan berpikir bahwa semakin cepat anda bermain semakin hebat. Tidak juga, kekerasan dan kecepatan tidak ada sangkut pautnya dengan musikalitas.

8. Selalu berlatih dari TEMPO yang lambat dan jika sudah sangat terbiasa, tingkatkan temponya perlahan-lahan. Anda harus belajar berjalan dulu baru bisa lari.

9. DENGARKAN pada musisi lainnya, jangan hanya terfokus pada diri sendiri, dengarkan yang lain.

10. Jadilah pemain drum yang KREATIF, beri variasi pada setiap permainan drum yang anda dapat. Karena drum masih merupakan sesuatu yang ‘baru’, masih banyak variasi baru yang bisa anda dapatkan.

Note: Untuk EAR PLUG anda dapat membelinya di apotik yang besar atau di toko yang menjual perlengakapan militer. Untuk metronome disetiap toko musik pasti ada, dan carilah yang digital.
Selengkapnya www.klinikdrum.com
www.thejeo.blogspot.com

Pada zaman dahulu, orang menciptakan musik semata-mata untuk kepentingan upacara ritual, yaitu sebagai pengantar doa kepada dewa atau sesuatu yang mereka percayai. Musik yang mereka ciptakan, belum menggunakan alat-alat musik sebagaimana kita ketahui saat ini.

 
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, alat musik mengalami perubahan. Sebelumnya, orang yang hanya memanfaatkan tubuh sebagai alat musik dan hanya bersifat ritmis.
Musik merupakan napas bagi kehidupan semua orang. Musik mampu menyatukan berbagai perbedaan yang ada di antara manusia. Bahkan, musik mampu menjadi media komunikasi di antara semua lapisan masyarakat tanpa memperdulikan perbedaan harkat dan martabat.
Perkembangan yang terjadi pada musik saat ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan tatanan kehidupan manusia. Musik saat ini tidak lagi dijadikan sarana peribadatan, tetapi sudah menjadi sarana hiburan dan pendidikan. Musik saat ini telah menjadi sesuatu yang universal dan dapat dinikmati semua orang.
 
A.    MEDIA KOMUNIKASI MELALUI MUSIK
 
1.    Musik sebagai sarana peribadatan
Di beberapa daerah di Indonesia, musik sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat. Masyarakat suatu daerah sangat menjungjung tinggi, memelihara, dan menghormati nilai-nilai yang terkandung di dalam musik. Dengan demikian, musik suatu daerah dapat lestari hingga saat ini.
Masyarakat Sunda, khususnya dalam tradisi bercocok tanam padi, melakukan ritus-ritus untuk memuliakan dan menghormati Dewi Padi atau Dewi Sri. Angklung merupakan salah satu alat bunyi-bunyian yang kadang-kadang disertai dengan nyanyian merupakan salah satu sarana untuk menghormati Nyi Pohaci Sangyang Sri.
Angklung sebagai ritus dari penanaman padi masih digunakan oleh orang sunda yang berdiam di pedal aman, seperti di ciptarasa (tergabung dalam kesatuan Banten Kidul), Kabupaten Sukabumi, Cipining (bogor), cijulang (Ciamis), Sanding (garut), dan Arjasari (Bandung).

2.    Musik sebagai sarana pendidikan
Awalnya, musik hidup dan berkembang di lingkungan nonformal. Masyarakat luas yang memiliki kepedulian dan kepentingan tertentu berusaha melestarikan musik. Untuk lebih melestarikannya masyarakat menjadikan musik sebagai bagian dari bidang pendidikan. Dengan begitu para generasi penerus memiliki wawasan budaya dan sikap kreatif untuk menghargai karya-karya musik, baik dari para seniman lama atau baru.
Alat-alat musik yang kerap diajarkan cara memainkannya disekolah-sekolah formal, antara lain recorder, suling, calung, pianika, keyboard, kecapi, gendang, gitar, angklung, serta gandelan.
 
3.    Musik sebagai sarana hiburan
Musik sebagai sarana hiburan biasanya kita temukan pada perayaan pesta pernikahan, khitanan, pesta rakyat, dan sebagainya. Musik tersebut sipatnya menghibur para penonton. Karena itu kadang-kadang kualitas musiknya kurang baik. Misalnya kualitas tidak penting, yang penting musik dapat mengikuti selera penonton. Dan akhirnya, penonton puas melihat pagelaran musik. Sebagai contoh kesenian angklung, menjadi salah satu hiburan masyarakat yang digelar disanggar seni “Saung Angklung Udjo” yang dahulu dipimpin oleh Bapak Udjo Ngalagena.
 
B.    BENTUK SAJIAN
Dalam suatu pagelaran musik, penonoton akan melihat penyajian alat musik.
1.    Permainan tunggal atau konser tunggal ialah bentuk permainan musik yang disajikan seorang pemain dengan satu/beberapa alat musik.
2.    Permainan bersama atau ansambel ialah bentuk permanian musik yang disajikan beberapa orang atau sekelompok orang dengan sejumlah alat musik, baik alat musik sejenis maupun alat musik berbeda.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi kedua bentuk penyajian musik ialah:
1.    Jumlah pemain musik (musisi)
2.    Jumlah alat musik
3.    Luas gedung (tempat pertunjukan)
4.    Konteks pagelaran
C.    JENIS SUMBER BUNYI ALAT MUSIK
Ada beberapa cara seseorang dapat memainkan alat musik agar alat musik mengeluarkan suara yang bagus. Cara memainkan alat musik, antara lain dengan ditiup, digesek, dipetik, dan dipukul.
1.    Alat musik tiup, misalnya recorder, terompet, dan harmonica.
2.    Alat musik gesek, misalnya biola, selo, dan rebab.
3.    Alat musik petik, misalnya gitar, mandolin, dan kecapi.
4.    Alat musik pukul, misalnya untuk alat musik pukul bernada yaitu gamelan, calung, dan kolintang. Sedangkan untuk alat musik pukul tidak bernada seperti tamborin, rebana, dan gendang.
D.    FUNGSI ALAT MUSIK
Alat musik juga dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu:
1.    Alat Musik Melodis
Alat musik melodis adalah alat musik bernada yang dapat difungsikan sebagai pembawa alur melodi atau rangkaian melodi. Contoh alat musik ini adalah flute, harmonica, dan seksofon.
2.    Alat Musik Ritmis
Alat musik ritmis adalah alat musik yang tidak memiliki nada, alat ini difungsikan sebagai pembawa irama sehingga karya musik yang dimainkan dapat stabil. Contoh alat musik ini adalah gendang, tamborin, dan triangle.
3.    Alat Musik Harmonis
Alat musik harmonis adalah alat musik yang dapat menghasilkan paduan akor secara harmoni. Contoh alat musik ini adalah gitar, piano, dan akor deon. Alat musik ini difungsikan untuk mengiringi lagu.
E.    MEMAINKAN ALAT MUSIK
Memainkan alat musik hendaknya dilaksanakan sebaik mungkin. Pelatihan yang baik bukan berarti jumlah pelatihannya sering, melainkan pelatihan yang teratur dan berkualitas. Kualitas permainan ialah apabila kita melakukan kesalahan, kita menganalisis masalah tersebut dan langsung memperbaikinya. Selanjutnya, kita mengulangi terus pelatihan kita sampai benar-benar tidak ada kesalahan.
F.    BERLATIH MUSIK DENGAN ALAT MUSIK RITMIS
Alat musik ritmis ialah alat musik yang dapat memberikan atau mengeluarkan irama tertentu ketika dimainkan bersama-sama. Untuk memainkan alat musik ini, kita memerlukan notasi ritmis.
Notasi ritmis adalah notasi yang digunakan dalam pagelaran musik ansambel. Notasi ritmis dapat berupa notasi blok, notasi gambaran, atau berupa tanda-tanda tertentu. Pemakainan notasi bergantung pada komposer dalam menuliskan notasi sehingga notasi dapat mempermudah para musisi dalam memainkan suatu karya musik.
 http://treeyoo.wordpress.com/2009/01/16/musik-ansambel/

www.thejeo.blogspot.com

Banyak yang beranggapan bahwa Musik Jazz adalah musiknya kaum elite dan mapan. Namun bila kita menegok ke akar jazz boleh dibilang justru bertolak belakang. Jazz adalah sebuah seni ekspresi dalam bentuk musik.


Jazz disebut sebagai musik fundamental dalam hidup manusia dan cara mengevaluasi nilai-nilai tradisionalnya. Tradisi jazz berkembang dari gaya hidup masyarakat kulit hitam di Amerika yang tertindas. Awalnya, pengaruh dari tribal drums dan musik gospel, blues serta field hollers (teriakan peladang). Proses kelahirannya telah memperlihatkan bahwa musik jazz sangat berhubungan dengan pertahanan hidup dan ekspresi kehidupan manusia.
Yang menarik adalah bahwa asal kata “jazz” berasal dari sebuah istilah vulgar yang digunakan untuk aksi seksual. Sebagian irama dalam musik jazz pernah diasosiasikan dengan rumah-rumah bordil dan perempuan-perempuan dengan reputasi yang kurang baik. Dalam perjalanannya kemudian, jazz akhirnya menjadi bentuk seni musik, baik dalam komposisi tertentu maupun improvisasi, yang merefleksikan melodi-melodi secara spontan. Musisi jazz biasanya mengekspresikan perasaannya yang tak mudah dijelaskan, karena musik ini harus dirasakan dalam hati. “Kalau kau menanyakannya, kau tak akan pernah tahu” begitu menurut Louis Armstrong.
Legenda jazz dimulai di New Orleans dan berkembang ke Sungai Mississippi, Memphis, St. Louis, dan akhirnya Chicago. Tentu saja musik jazz dipengaruhi oleh musik yang ada di New Orleans, tribal drums Afrika dan struktur musik ala Eropa. Latar belakang jazz tidak dapat dilepaskan dari fakta di mana jazz dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues. Salah satu legenda jazz yang dipercaya bahwa sekitar 1891, seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans bernama Buddy Bolden meniup cornet-nya dan saat itu lah musik jazz dimulai sebagai gebrakan baru di dunia musik. Setengah abad kemudian, musik jazz di Amerika memberi banyak kontribusi di dunia musik, dipelajari di universitas, dan akhirnya menjadi sebuah aliran musik yang serius dan diperhitungkan.
Musik jazz sebagai seni yang populer mulai menyebar ke hampir semua masyarakat Amerika pada tahun 1920-an (dikenal sebagai Jazz Age). Jazz semakin marak di era swing pada akhir 1930-an, dan mencapai puncaknya di akhir 1950-an sebagai jazz modern. Di awal tahun 20-an dan 30-an, “jazz” telah menjadi sebuah kata yang dikenal umum.
Pengaruh dan perkembangan Musik Blues tidak dapat ditinggalkan saat membahas musik jazz di tahun-tahun awal perkembangannya. Ekspresi yang memancar saat memainkan musik blues sangat sesuai dengan gaya musik jazz. Kemampuan untuk memainkan musik blues menjadi standar bagi semua musisi jazz, terutama untuk digunakan dalam berimprovisasi dan ber-jam session. Musik Blues sendiri, yang berasal dari daerah Selatan, memiliki sejarah yang sangat luas. Pemain Musik Blues biasanya menggunakan gitar, piano, harmonika, atau bermain bersama dalam kelompok yang memainkan alat-alat musik buatan sendiri.
source : nggot.multiply.com
www.thejeo.blogspot.com
 Sejarah Musik Jazz di Tanah Air
Musik Jazz masuk Indonesia pertama kali pada tahun 30an. Yang dibawa oleh musisi-musisi dari Filipina yang mencari pekerjaan di Jakarta dengan bermain musik. Bukan hanya mentransfer jazz saja, mereka juga memperkenalkan instrumen angin, seperti trumpet, saksofon, kepada penikmat musik Jakarta. Mereka memainkan jazz ritme Latin, seperti boleros, rhumba, samba dan lainnya.


 

Nama-nama musisi yang masih diingat adalah Soleano, Garcia, Pablo, Baial, Torio, Barnarto dan Samboyan. Selain bermain di Jakarta, seperti di Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin Plaza) dan Hotel Der Nederlander (jadi kantor pemerintahan), mereka juga bermain di kota lain, seperti di Hotel Savoy Homann – Bandung dan di Hotel Oranje (Yamato) – Surabaya.

Pada tahun 1948, sekitar 60 musisi Belanda datang ke
Indonesia untuk membentuk orkestra simfoni yang berisi musisi lokal. Salah satu musisi Belanda yang terkenal adalah Jose Cleber. Studio Orkestra Jakarta milik Cleber mengakomodasi permainan musik California. Band-band baru bermunculan seperti The Progressive Trio, Iskandar’s Sextet dan Octet yang memainkan jazz dan The Old Timers yang memainkan repertoir Dixieland.

Pada tahun 1955, Bill Saragih membentuk kelompok Jazz Riders. Ia memainkan piano, vibes dan flute. Anggota lainnya adalah Didi Chia (piano), Paul Hutabarat (vokal), Herman Tobing (bass) dan Yuse (drum). Edisi selanjutnya beranggotakan Hanny Joseph (drum), Sutrisno (saksofon tenor), Thys Lopis (bass) dan Bob Tutupoly (vokal).

Band jazz yang terkenal tahun 1945 – 1950 di Surabaya beranggotakan Jack Lemmers (dikenal sebagai Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana) pada bass/gitar, Bubi Chen (piano), Teddy Chen, Jopy Chen (bass), Maryono (saksofon), Berges (piano), Oei Boen Leng (gitar), Didi Pattirane (gitar), Mario Diaz (drum) dan Benny Hainem (clarinet).

Nama-nama musisi jazz di Bandung tahun 50 – 60an adalah Eddy Karamoy (gitar), Joop Talahahu (saksofon tenor), Leo Massenggani, Benny Pablo, Dolf (saksofon), John Lepel (bass), Iskandar (gitar dan piano) dan Sadikin Zuchra (gitar dan piano).

Musisi-musisi muda di Jakarta bermunculan tahun 70 – 80an. Di antaranya Ireng Maulana (gitar), Perry Pattiselano (bass), Embong Raharjo (saksofon), Luluk Purwanto (biola), Oele Pattiselano (gitar), Jackie Pattiselano (drum), Benny Likumahuwa (trombon dan bass), Bambang Nugroho (piano), Elfa Secioria (piano). Beberapa musisi muda lainnya mempelajari rock dan fusion, tapi masih dalam kerangka jazz. Mereka adalah Yopie Item (gitar), Karim Suweileh (drum), Wimpy Tanasale (bass), Abadi Soesman (keyboard), Candra Darusman (keyboard), Joko WH (gitar) dan lainnya.

Pertengahan tahun 80an, nama Fariz RM muncul. Ia lebih mengkategorikan musiknya sebagai new age. Namun, beberapa komposisinya bernafaskan pop jazz, bahkan latin. Indra Lesmana, Donny Suhendra, Pra B. Dharma, Dwiki Darmawan, Gilang Ramadan membentuk Krakatau, dan akhirnya kelompok ini bertransformasi menjadi Java Jazz, dengan mengganti beberapa personil.

Tahun 90an hingga sekarang, banyak sekali musisi dan kelompok jazz yang terbentuk. Musik jazz yang dibawakan tidak lagi mainstream, namun hasil distilasi berbagai musik seperti fusion, acid, pop, rock dan lainnya. Sebut saja SimakDialog, Dewa Budjana, Balawan dan Batuan Ethnic Fusion, Bali Lounge, Andien, Syaharani, Tompi, Bertha, Maliq & D’essentials dan masih banyak lagi lainnya.

Musisi jazz biasanya banyak bermunculan di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Hal ini disebabkan arus musik jazz lebih banyak mengalir di sana lewat pertunjukan jazz (JakJazz, Java Jazz Festival, Bali Jazz Festival), sekolah musik jazz, studio rekaman dan kafe yang menampilkan jazz. Seorang yang juga berjasa “mengalirkan” arus jazz ke Indonesia adalah Peter F. Gontha, seorang pemilik JAMZ dan pendiri pemrakarsa Java Jazz Festival.


bdikh4rism4.wordpress.com

Jakarta - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai sosok Franky Sahilatua tak sekadar seorang musisi. Seniman kelahiran Surabaya 16 Agustus 1953 itu dinilai sebagai aset bangsa Indonesia, kaena dapat mewakili masyarakat untuk menyuarakan kondisi sosial bangsa ini.
"Bagi kami, Bang Franky bukan saja teman, sahabat, kerabat, tapi aset bangsa ini," ujar Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Furqon dalam acara Malam Solidaritas untuk Franky Sahilatua di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan, Minggu (5/9/2010)

Berry berharap agar spirit yang diberikan seniman pada malam aspirasi ini mampu memberikan semangat yang besar kepada Franky Hubert Sahilatua. "Kita harapkan agar Bang Franky tetap menyerukan Indonesia yang lebih baik," imbuhnya

Acara Malam Penggalangan Dana ini dipandu oleh Efendi Ghazali yang meminta masyarakat untuk selalu mendoakan Franky agar dapat kembali beraktivitas. Ahli komunikasi itu juga mengingatkan kepada masyarakat yang ingin membantu pengobatan seniman besar itu ke rekening BCA nomor 2371060598 atas nama Harwati Ningrum .

Sejumlah perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam koalisi masyarakat sipil terlihat mendukung acara tersebut. Acata itu juga akan menampilkan musisi papan atas, di antaranya Fadly "Padi", Rindra "Padi", Glen Fredly, Slank, Edo Kondologit dan yang lainnya.
entertainment.kompas.com
www.thejeo.blogspot.com
Nama aslinya Ong Oen Log. Pria kelahiran Kranggan, Blauran, Surabaya, 19 Maret 1959 ini justru dikenal dengan nama Log Zhelebour, sebuah nama yang kental dengan industri musik Indonesia khususnya genre cadas yang sangat melekat pada dirinya.

Sebanyak 11 festival Rock telah ia gelar sejak 1984 hingga 2007, beberapa band dengan mengusung genre yang menjadi favoritnya sejak semasa kecil itu telah dia orbitkan menjadi sebuah komoditas bernilai tinggi yang menjadi salah satu pendapatan terbesar baginya. Kasarnya band tersebut besar karena Log.
Dari masa 1970-an ada SAS asal Surabaya, Super Kid dari Bandung dan Godbless dari Jakarta. Dekade berikutnya ada El Palmas, Kaisar, hingga Power Metal dan berlanjut Boomerang, dan Jamrud.

Boomerang dan Jamrud di era 2000-an menjadi fenomenal di bawah kibar bendera Logiss Record, sementara Jamrud mampu menjual sedikitnya 2 juta kopi lebih untuk album Ningrat.
Tidak itu saja, Log dan Jamrud sukses mengacak aturan tidak tertulis televisi di Indonesia yang mengharamkan musik cadas dengan lirik kasar. Kita tahu lirik Jamrud selalu lugas mengumbar kata-kata jalanan.
Di luar band, jebolan SMA St. Louis Surabaya ini sukses mengorbitkan ladyrocker Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, Gank Pegangsaan, Euis Darliah, Sylvia Saartje, Farid Harja & Bani Adam hingga grup Prog Rock Giant Step.
Akan tetapi tidak banyak orang tahu kini sang “King of Rock” yang hari ini berusia 51 tahun begitu julukannya, tengah gundah gulana, yang tentu saja sangat berkaitan erat dengan musik yang menjadikannya seorang jutawan Rock.
Mulai dari kegelisahan akan minimnya jumlah penjualan bentuk fisik, tren Ring Back Tone (RBT) hingga perkembangan musik rock yang dia tuding “kemurniannya” telah terkikis.
Band sekarang banyak yang mengusung rock tetapi tidak tahu makna rock itu sendiri seperti apa, bahkan cenderung menyimpang tidak sesuai dengan konten dan esensi rock itu sendiri,
ujar Log yang juga memiliki andil dalam membesarkan band rock legendaris Godbless.
Tontonan Menipu
Kegelisahannya makin tersakiti kala banyak band rock yang relatif “gahar” rela tampil di acara musik yang sedang menjamur yang disuguhkan di hampir tiap stasiun televisi yang membuat sisi imej band Rock menjadi “ternoda”.
Rock is a lifestyle,
begitu kata Log yang sangat mencintai Pink Floyd dan Scorpion. Ia berani berasumsi terang-terangan bahwa band sekarang hanya memikirkan sisi popular bukan sisi imej.
Main di acara seperti itu imej menjadi buruk untuk band Rock, dan juga tidak menguntungkan secara signifikan, sama sekali,
tegasnya.
Log pantas sebal pasalnya pihak televisi menggelar acara-acara musik dengan penuh rekayasa. Satu bentuk penipuan itu adalah membayar penonton agar bersorak meriah saat acara berlangsung.
Kegelisahannya juga makin bertambah saat fenomena RBT hanya dijadikan pengejaran materi semata tanpa memperhatikan kepuasan dan kebanggaan ideal bagi seorang produser dan musisi.
Bentuk fisik, baik cd maupun kaset adalah sesuatu bentuk nyata yang menjadi kebanggaan tak ternilai seorang musisi dan produser, bukan RBT yang hanya dinikmati dengan durasi 15 detik.
Awalnya menurut Log, RBT sangat bagus sebagai salah satu alternatif media promosi. Akan tetapi semakin hari RBT menjadi target utama baik musisi dan produser itu sendiri. Semua berlomba-lomba untuk menjadikan lagu mereka nomor satu dengan jumlah pengakses RBT terbanyak.
Yang menjadikan RBT sebagai pendapatan besar dari musisi maka mereka itu terjebak mimpi. RBT hanya menjadikan musisi popular tidak menjadi kaya tiba-tiba,
tegasnya.
Log memang tahu betul apa yang terjadi dalam industri musik saat ini. Walaupun ia tetap harus mengikuti trend yang sedang berjalan ini, tetapi sisi idealisnya tetap tidak luntur.
Dia masih yakin bentuk fisik akan kembali memegeng peran penuh, terutama bagi para penggemar fanatik, walaupun jumlahnya sedikit mengerucut.

Pendekatan melalui suatu komunitas menjadi salah satu kekuatan dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bentuk fisik.
Untuk festival Rock, dia tetap tidak goyah untuk kembali bergairah mewujudkannya kembali, walaupun band yang mengaku mengusung rock sekarang sudah mengalami keseragaman dimana lirik meratap-ratap menjadi bahan jualan band tersebut.
Dia juga berani menilai tidak ada satupun band rock masa kini yang mampu menyedot ribuan penonton secara global di seantero Tanah Air, seperti yang pernah dilakukan oleh Jamrud saat masih digawangi personel lama mereka.
Bahkan festival rock lokal yang megah bak konser band luar negeri sudah tidak dapat ditemui lagi seperti saat Log melakukannya berulang kali, hal yang hingga kini menjadi satu-satunya festival rock yang melegenda.
Tidak ada satupun yang mampu menyaingi festival rock tersebut, hingga sekarang.
http://www.musikator.com/kegundahan-seorang-king-of-rock/
www.thejeo.blogspot.com

- Dalam membuat sebuah lagu, si musisi/band akan berusaha untuk mencurahkan perasaannya sepenuh-penuhnya dan seutuh-utuhnya melalui bunyi-bunyian                             
- mengatur/menata agar bunyi-bunyian yang dibuatnya indah, bagus atau enak didengar.
Dan dalam proses pembuatan terciptanya lagu, si musisi/band memperoleh kepuasan atau kesenangan. Orang lain, yang mendengar lagu tsb juga dapat memperoleh kepuasan dan kesenangan.
Namun karena pengertian lagu yang indah atau bagus akan berbeda dari orang ke orang. Dengan demikian tidak mudah membuat lagu yang akan dinilai indah atau bagus oleh banyak orang.
Agar lagu terasa indah atau bagus, berikut beberapa unsur yang perlu dimiliki sebuah lagu :
1. Harmonis
Pengertian harmonis secara sederhana adalah kesesuaian/keseimbangan nada (atau nada-nada) suatu instrument dengan nada (atau nada-nada) instrument lainnya.
2. Irama/Ritme
Pengertian irama/ritme secara sederhana adalah perulangan bunyi-bunyian menurut pola tertentu dalam sebuah lagu. Perulangan bunyi-bunyian ini juga menimbulkan keindahan dan membuat sebuah lagu menjadi enak didengar.
3. Melodis
Pengertian melodis secara sederhana adalah pergerakan/perubahan tinggi rendahnya nada yang dimainkan dari waktu ke waktu. Suatu lagu yang indah atau bagus umumnya memiliki melodi yang enak didengar.
4. Suasana/Nuansa
Nuansa adalah suasana yang terasa dari sebuah lagu. Macam-macam suasana ini dapat dibangun/dibuat melalui melodi, harmoni, irama dan juga efek suara instrument yang digunakan dalam sebuah lagu.
Apakah suasana riang, gembira, sedih ataupun murung. Suasana suatu lagu dapat menimbulkan sensasi perasaan tertentu pada pendengarnya akibatnya membuat suatu lagu terasa indah atau enak didengar.
5. Alunan Emosi
Alunan emosi adalah tahapan/pergerakan pencurahan emosi dalam sebuah lagu.
Dalam sebuah lagu harus ada emosi yang terkandung entah itu emosi marah, sedih, rindu dsb. Emosi-emosi ini dicurahkan menurut tahapan-tahapan tertentu, misalkan dari mulai dikenalkan, dicurahkan perlahan, meningkat, sampai ke puncak emosi kemudian menurun kembali dsb.
Adanya emosi yang dapat dirasakan ini dapat mempengaruhi apakah suatu lagu akan terasa indah/bagus atau tidak. Lagu yang kandungan emosi didalamnya sulit ditangkap/dirasakan kemungkinan menjadi tidak menarik, dan sebaliknya.
Perpaduan yang pas dari hal-hal diatas turut mempengaruhi indah/bagus atau tidaknya suatu lagu. Dan perpaduan yang demikian diatas tidaklah mudah dibuat. Karena Lagu yang bagus selain enak didengar juga mempunyai dampak :
- dapat dinikmati, dipahami dan dihayati oleh pendengarnya
- mendorong/merangsang pendengarnya untuk turut bernyanyi, menari, atau terbawa dalam lagu tsb.
Namun tentu unsur-unsur diatas bukanlah harga mati, bisa saja ada hal-hal lain yang membuat sebuah lagu menjadi indah/bagus. [sahatmrt.wordpress.com/aa]
www.thejeo.blogspot.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...