Nama aslinya Ong Oen Log. Pria kelahiran Kranggan, Blauran, Surabaya, 19 Maret 1959 ini justru dikenal dengan nama Log Zhelebour, sebuah nama yang kental dengan industri musik Indonesia khususnya genre cadas yang sangat melekat pada dirinya.

Sebanyak 11 festival Rock telah ia gelar sejak 1984 hingga 2007, beberapa band dengan mengusung genre yang menjadi favoritnya sejak semasa kecil itu telah dia orbitkan menjadi sebuah komoditas bernilai tinggi yang menjadi salah satu pendapatan terbesar baginya. Kasarnya band tersebut besar karena Log.
Dari masa 1970-an ada SAS asal Surabaya, Super Kid dari Bandung dan Godbless dari Jakarta. Dekade berikutnya ada El Palmas, Kaisar, hingga Power Metal dan berlanjut Boomerang, dan Jamrud.

Boomerang dan Jamrud di era 2000-an menjadi fenomenal di bawah kibar bendera Logiss Record, sementara Jamrud mampu menjual sedikitnya 2 juta kopi lebih untuk album Ningrat.
Tidak itu saja, Log dan Jamrud sukses mengacak aturan tidak tertulis televisi di Indonesia yang mengharamkan musik cadas dengan lirik kasar. Kita tahu lirik Jamrud selalu lugas mengumbar kata-kata jalanan.
Di luar band, jebolan SMA St. Louis Surabaya ini sukses mengorbitkan ladyrocker Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, Gank Pegangsaan, Euis Darliah, Sylvia Saartje, Farid Harja & Bani Adam hingga grup Prog Rock Giant Step.
Akan tetapi tidak banyak orang tahu kini sang “King of Rock” yang hari ini berusia 51 tahun begitu julukannya, tengah gundah gulana, yang tentu saja sangat berkaitan erat dengan musik yang menjadikannya seorang jutawan Rock.
Mulai dari kegelisahan akan minimnya jumlah penjualan bentuk fisik, tren Ring Back Tone (RBT) hingga perkembangan musik rock yang dia tuding “kemurniannya” telah terkikis.
Band sekarang banyak yang mengusung rock tetapi tidak tahu makna rock itu sendiri seperti apa, bahkan cenderung menyimpang tidak sesuai dengan konten dan esensi rock itu sendiri,
ujar Log yang juga memiliki andil dalam membesarkan band rock legendaris Godbless.
Tontonan Menipu
Kegelisahannya makin tersakiti kala banyak band rock yang relatif “gahar” rela tampil di acara musik yang sedang menjamur yang disuguhkan di hampir tiap stasiun televisi yang membuat sisi imej band Rock menjadi “ternoda”.
Rock is a lifestyle,
begitu kata Log yang sangat mencintai Pink Floyd dan Scorpion. Ia berani berasumsi terang-terangan bahwa band sekarang hanya memikirkan sisi popular bukan sisi imej.
Main di acara seperti itu imej menjadi buruk untuk band Rock, dan juga tidak menguntungkan secara signifikan, sama sekali,
tegasnya.
Log pantas sebal pasalnya pihak televisi menggelar acara-acara musik dengan penuh rekayasa. Satu bentuk penipuan itu adalah membayar penonton agar bersorak meriah saat acara berlangsung.
Kegelisahannya juga makin bertambah saat fenomena RBT hanya dijadikan pengejaran materi semata tanpa memperhatikan kepuasan dan kebanggaan ideal bagi seorang produser dan musisi.
Bentuk fisik, baik cd maupun kaset adalah sesuatu bentuk nyata yang menjadi kebanggaan tak ternilai seorang musisi dan produser, bukan RBT yang hanya dinikmati dengan durasi 15 detik.
Awalnya menurut Log, RBT sangat bagus sebagai salah satu alternatif media promosi. Akan tetapi semakin hari RBT menjadi target utama baik musisi dan produser itu sendiri. Semua berlomba-lomba untuk menjadikan lagu mereka nomor satu dengan jumlah pengakses RBT terbanyak.
Yang menjadikan RBT sebagai pendapatan besar dari musisi maka mereka itu terjebak mimpi. RBT hanya menjadikan musisi popular tidak menjadi kaya tiba-tiba,
tegasnya.
Log memang tahu betul apa yang terjadi dalam industri musik saat ini. Walaupun ia tetap harus mengikuti trend yang sedang berjalan ini, tetapi sisi idealisnya tetap tidak luntur.
Dia masih yakin bentuk fisik akan kembali memegeng peran penuh, terutama bagi para penggemar fanatik, walaupun jumlahnya sedikit mengerucut.

Pendekatan melalui suatu komunitas menjadi salah satu kekuatan dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bentuk fisik.
Untuk festival Rock, dia tetap tidak goyah untuk kembali bergairah mewujudkannya kembali, walaupun band yang mengaku mengusung rock sekarang sudah mengalami keseragaman dimana lirik meratap-ratap menjadi bahan jualan band tersebut.
Dia juga berani menilai tidak ada satupun band rock masa kini yang mampu menyedot ribuan penonton secara global di seantero Tanah Air, seperti yang pernah dilakukan oleh Jamrud saat masih digawangi personel lama mereka.
Bahkan festival rock lokal yang megah bak konser band luar negeri sudah tidak dapat ditemui lagi seperti saat Log melakukannya berulang kali, hal yang hingga kini menjadi satu-satunya festival rock yang melegenda.
Tidak ada satupun yang mampu menyaingi festival rock tersebut, hingga sekarang.
http://www.musikator.com/kegundahan-seorang-king-of-rock/
www.thejeo.blogspot.com

1 komentar:

  1. Anonim8:05 PM

    sampai kapan ya musik indonesia terpuruk seperti ini???

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar terbaik anda dan mohon untuk tidak memasukkan link di dalam form komentar.

Salam.
Admin

Jersey Bola Grade Ori Murah

Jersey Bola Grade Ori Murah